Rabu, 11 Maret 2009 | 16:59 WIB JAKARTA, KOMPAS.com- Mantan aktivis yang juga Kepala Badan Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Jumhur Hidayat menyatakan, 20-30 persen upah tenaga-tenaga outsourcing lari ke pengusaha. "Labour cost dengan total cost antara upah yang diberikan ke perusahaan mencapai 20-30 persen," kata Jumhur saat menjadi pembicara dalam Dialog Terbuka "Membedah Gagasan Anak Bangsa" di Jakarta Media Center, Jakarta, Rabu (11/2). Menurut Jumhur, perilaku tersebut sama saja dengan mencuri hak orang lain, dan bukti menteri tenaga kerja tidak berjalan dengan baik. ''Aturan yang diatur undang-undang tenaga kerja itu tidak sepenuhnya dijalankan. Salah satu buktinya adalah pada sistem perekrutan tenaga kerja yang dilakukan lembaga outsourching,'' katanya. Pungutan yang sama, menurut Jumhur, juga terjadi bagi tenaga kerja Indonesia yang dikirim ke luar negeri. Seharusnya, pihak departemen tenaga kerja tidak membuat kebijakan-kebijakan yang merugikan buruh. ''Apa itu namanya bukan menindas buruh, padahal jelas-jelas buruh-buruh itu memberikan pendapatan devisa terbesar setelah Migas sebesar Rp 15 Triliun. "Sayangnya, perilaku itu dilakukan oleh menteri tenaga kerja. Dan itu nyata,'' tambahnya. Lebih lanjut, Jumhur menambahkan apa yang dilakukan pemerintah sekarang ini sama saja dengan menyakiti hati para buruh melalui eksploitasi. C2-09 --- On Tue, 3/10/09, kontan tarigan <[email protected]> wrote: From: kontan tarigan <[email protected]> Subject: Re: [tanahkaro] nasihat bagi yang punya duit To: [email protected] Date: Tuesday, March 10, 2009, 8:17 PM Mestinya ada penelitian juga, ngapain saja orang-orang pada ke mall? Bang KT --- On Tue, 3/10/09, MU Ginting <gintin...@yahoo. se> wrote: From: MU Ginting <gintin...@yahoo. se> Subject: [tanahkaro] nasihat bagi yang punya duit To: tanahk...@yahoogrou ps.com, forumk...@yahoogrou ps.com, komunitaskaro@ yahoogroups. com Date: Tuesday, March 10, 2009, 2:34 PM Selasa, 10/03/2009 16:31 WIB SBY: Teruslah Belanja, Uang Jangan Disimpan di Bawah Bantal Luhur Hertanto - detikFinance Jakarta - Laporan BI yang menyebutkan nilai tabungan masyarakat terus naik di masa krisis ekonomi, merupakan hal yang baik. Tapi akan lebih baik lagi bila dana tersebut juga ada yang dibelanjakan sehingga perekonomian nasional tetap bergerak. Demikian disampaikan Presiden SBY dalam sambutannya membuka sidang dewan pleno I HIPMI di hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (10/3/2009). "Terus lah belanja. Uangnya jangan disimpan di bawah bantal saja," kata dia. Presiden SBY menyatakan bersyukur setiap kali dia melihat warung, mal dan pusat perbelanjaan di Indonesia hingga kini masih ramai pengunjung. Situasi ini menunjukkan rakyat masih mempunyai daya beli sehingga para produsen bisa terus berpoduksi dan PHK terhindarkan. Dia kemudian menceritakan diskusinya dengan JK tentang pengalamannya di AS bulan lalu. Kata JK, sebagian besar pusat perbelanjaan di AS sedang sepi pengunjung, warganya membatasi belanja sehingga banyak produsen bangkrut gara-gara produknya tidak laku di pasar dan PHK pun terjadi. "Jadi kalau mal sepi malah bahaya. Situasi bisa menjadi lebih buruk," sambung SBY.(lh/qom) Ta semester! - sök efter resor hos Kelkoo. Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum: http://www.kelkoo. se/c-169901- resor-biljetter. html
