Sumber: 
http://oase.kompas.com/read/xml/2009/03/11/21372042/Negara.Tak.Punya.Akses.pada.Dua.Situs

Negara tidak mempunyai akses langsung ke dua situs sejarah di
Sumatera Utara. Situs Putri Hijau di Deli Serdang dan Situs Kota China
di bagian utara Medan kini dalam penguasaan pribadi dan swasta
Malaysia. Kondisi ini semakin menyulitkan peneliti sejarah untuk
menelusuri jejak sejarah budaya Sumut.


                           
                                
                                                                                
                
                                        KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT
                                        Alat
batu pada zaman prasejarah ditemukan peneliti dari Balai Penyelamatan
Peninggalan Purbakala, Balai Arkeologi Medan dan Pusat Studi Sejarah
dan Ilmu Sosial, menggali kawasan yang diduga sebagai benteng Putri
Hijau, pembesar Kerajaan Aru, Minggu (25/10) di Deli Serdang, Sumatera
Utara. Kerajaan Aru pernah berkuasa di pesisir timur Sumatera Utara
abad ke-13 sampai abad ke-16. Juga ditemukan benda-benda kuno, di
antaranya, butiran peluru dan pecahan keramik China. 
                                  
”Sungguh ironis. Semua
tanah di kawasan ini belum bisa diselamatkan langsung oleh negara.
Penyelamatan pertama harus membeli kawasan ini terlebih dahulu,” tutur
Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri
Medan Ichwan Azhari, Selasa (10/3) di Medan.Ichwan mengatakan,
kawasan itu sarat dengan temuan benda-benda sejarah. Sejumlah benda
sejarah yang pernah ditemukan di kawasan ini, antara lain, adalah dua
arca Buddha, satu arca Wisnu, dan separuh arca Sri Laksmi. Tidak hanya
itu, warga kerap menemukan koin kuno berhuruf China dan Arab serta
aneka keramik dan tembikar kuno dari berbagai daerah, termasuk yang
berasal dari China.Benda sejarah ini umumnya ditemukan secara
tidak sengaja, bukan melalui penggalian resmi, oleh warga setempat.
Sebagian dari temuan itu tersimpan di Museum Sumatera Utara. Namun,
banyak juga dari benda sejarah ini tanpa sepengetahuan pihak berwenang
dijual kepada kolektor benda antik.Kepala Subdinas Sarana dan
Prasarana Dinas Pariwisata Kota Medan Ramlan mengaku belum bisa banyak
berbuat untuk menyelamatkan situs Kota China. Kawasan itu kini dikuasai
oleh pribadi, sebagian warga menyebut swasta Malaysia, untuk
kepentingan pariwisata.”Kami tidak mempunyai anggaran untuk membeli tanah di 
sana,” katanya. (NDY)

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke