HORIZONTAL INEQUALITIES (HI)
 
Horizontal Inequalities are inequalities in economic, social or political 
dimensions or cultural status between culturally defined groups 
Where one ethnic group has an overwhelming and permanent majority, other groups 
may "resort to gunfire because reliance on the ballot box is futile"
The tyranny of the majority, that is, of numbers, leads to Herrenvolk (master 
race) democracy 
The parameters of HIs identified are political and economic, social and 
cultural. These four are inter-connected: for example, political power leads to 
economic opportunity, and the two to social status. Where there is both 
political and economic inequality, conflict is likely, though not inevitable.. 
Apart from the human cost – in terms of death and injury; grief and trauma - 
conflict is a major cause of poverty. An unfortunate irony is that inter-group 
conflict often occurs in poor countries, in a cruel cycle of poverty and 
conflict.
As ideological differences have diminished and "socialism no longer seems to be 
a serious alternative […] mobilization along group identity lines has become 
the single most important source of violent conflict"
(Frances Stewart, Horizontal Inequalities and Conflict : Understanding Group 
Violence in Multiethnic Societies, 2008) 
--
 
Mejuah-juah permilis sirulo
 
Ketidaksamaan Horizontal telah diangkat sebagai tema pokok konflik etnis 
setelah munculnya era ethnic-revival dunia. Perubahan drastis kontradiksi pokok 
dunia dari penggerupan manusia dalam dua blok ke penggerupan manusia kedalam 
perjuangan menentang ketidakadilan sekarang ini, termasuk ketidakadilan atas 
etnis-etnis tertindas dari bangsanya sendiri (internal-colonialism), telah 
membikin ternganga dan terkejut para penguasa konservatif national states 
tetapi membuka mata untuk berpikir bagi akademisi dan intelektual dunia. 
Perubahan besar-besaran dalam perkembangan sosial masyarakat, terutama revolusi 
kultur-budaya etnis-etnis dunia, dengan perang etnis yang sangat kejam tak 
pakai aturan sebagai pelampiasan puluhan atau ratusan tahun dendam kesumat dari 
etnis tertindas menentang etnis dominan, telah melahirkan kesimpulan-kesimpulan 
tepat dan penting, yang bermunculan setelah pertumpahan darah dari perang tak 
berperikemanusiaan dibanyak negeri multi-etnis
 dunia. Hal inilah yang telah membuka mata sebagian besar kaum intelektual 
serta akademisi, tetapi masih belum meresap secukupnya kedalam kesedaran yang 
menyeluruh dan terutama dikalangan politikus konservatif, pertama yang berasal 
dari militer sebagai sisa terakhir kekuasaan diktator militer lama, dan kedua 
politikus yang berasal dari etnis-etnis dominan mayoritas dan ketiga  juga 
dikalangan rakyat banyak pada umumnya tentang hubungan antar-etnis yang berat 
sebelah dalam soal kekuasaan, ekonomi dan kultural, bagaimana yang adil dan 
yang seharusnya terjadi atau bagaimana mengubahnya. 
Perlu saya jelaskan disini ialah bahwa rakyat banyak disini ialah juga rakyat 
tiap etnis dari berbagai etnis, yang dengan sendirinya juga tertanam dalam jiwa 
tiap etnis, posisi dan kedudukan masing-masing selama masa 
internal-colonialism, artinya siapa mendominasi siapa seperti di Aceh dan 
Sumut. Yang berada dipihak yang mendominasi pasti akan lambat menerima 
perubahan karena ingin mempertahankan kelebihan lama, dan yang didominasi 
karena selama inipun telah menerima nasibnya apa adanya, tidak ada timbul 
pikiran bahwa keadaan selama ini sudah saatnya harus diubah dan bisa diubah, 
atau demi perkembangan dan kemajuan bersama (semua etnis) situasi harus diubah, 
politis terutama. Banyak orang Karo atau Pakpak merasa jauh dari kekuasaan 
karena tidak terpilih atau tidak sepandai yang lain. Tidak mengerti istilah 
tirani mayoritas, dominasi dan hegemoni etnis tertentu karena jumlahnya jauh 
lebih banyak (di Dairi orang Pakpak sudah banyak juga yang memahami
 terlihat dari ucapan seorang Pakpak Ketua Komisi A DPRD Dairi Raja Ardin Ujung 
dalam penolakan bergabung dengan Protap bilang "alasan suara mayoritas" jangan 
dipakai untuk merugikan pihak pemegang tanah ulayat orang Pakpak, Analisa, 3 
nov 2006).
Secara pemilihan demokratis di Sumut, Karo tidak akan pernah mendekati 
kekuasaan walaupun mereka paling banyak korban dalam mengusir penjajah dari 
Sumtim (perang Datuk Sunggal dan perang kemerdekaan, politik bumi hangus dsb).  
Lebih dari setengah abad pengalaman orang Karo di Sumut dan ratusan tahun 
pengalaman orang Alas, Gayo dll di NAD sebagai etnis-etnis yang didominasi, 
pastilah meninggalkan bekas-bekas yang tak gampang dihapus. Tapi sudah mulai. 
Bagusnya seperti saya sudah sering katakan (berlainan dengan sikap etnis Aceh), 
kenyataan di Sumut, kedua belah pihak bikin inisiatif bersama (pemekaran) 
sebagai dasar penyelamatan bersama dan selanjutnya menuju perkembangan bersama, 
atau apa yang saya sebut politik bersama multikultural dalam tulisan PEMEKARAN 
ADALAH PENGAKUAN DAN RESPEK. 
Kontradiksi utamanya seperti saya sebut diatas ialah, bahwa etnis tertindas mau 
bebas secara politis, ekonomi dan kultural, tetapi etnis dominan masih mau 
terus mempertahankan sejauh mungkin hegemoni dan dominasinya. Contohnya: etnis 
Serbia di Yugoslavia, orang Tamil di Srilangka, orang Inggris di Irland Utara; 
orang Karo, Pakpak dll dari dominasi orang Tapanuli di Sumut, orang Alas, Gayo 
dll dari dominasi dan hegemoni orang Aceh di NAD. 
Professor Frances Stewart dari universitas Oxford adalah salah seorang yang 
sangat cermat dan pandai dalam mengalanisa soal hubungan antar-etnis ini. Soal 
Indonesia belum ada penjelasannya. Kadang saya pikir tentang persoalan yang 
langsung didepan mata kita, tidaklah terlalu jauh dari ’ilmiah’ kalau kita mau 
dan bisa melihat, merasakan dan bikin analisa sendiri dan bikin kesimpulan 
menetapkan arah yang cocok untuk dikembangkan di daerah kita sendiri. Pemekaran 
Sumut jadi prov Karo/Sumtim, Protap/Protabar dan Sumtra adalah jawaban. Jawaban 
karena etnis dominan disini bisa memberikan contoh 'mundur' yang adil dan 
strategis. Berlainan dengan Aceh, atau Serbia yang harus perang , begitu juga 
orang Tamil dan Sinhala tipical penyelesaian peninggalan pengaruh kolonial 
(Inggris), dan sungguh sangat menyedihkan. Banyak yang tahu sebab perang di 
Srilangka tetapi tidak ada yang tahu bagaimana penyelesaiannya, lantas ambil 
jalan singkat dengan harapan cepat
 selesai. Bagaimana mau cepat rampung menyelesaikan dendam ratusan tahun dan 
melekat mendarah daging dalam jiwa dua belah pihak. Yang satu melekat dendam 
sakitnya ratusan tahun, yang satunya melekat dendam enaknya ratusan tahun 
(selama penjajahan Inggris), siapa yang mau disakiti terus menerus dan siapa 
pula yang tidak mau enak terus menerus. Urusan dendam dunia atau dendam 
kemanusiaan masih sangat umum dilakukan dengan pelampiasan nafsu balas dendam, 
karena dendam dan balas dendam masih tetap adalah kebutuhan psikologis 
kemanusiaan. Mungkin dengan mengakui, mempelajari dan mendalami persoalannya 
kita akan bisa menemukan kecerahan, tidak dengan menutup nutupi dan pura-pura 
tidak ada soal dan lalu berkesudahan dengan perang. Sumut sudah melihat 
penyelesaian, tetapi masih harus diperjuangkan karena tiga sebab yang saya 
sebutkan diatas. 
Dimana ada mayoritas secara permanen dan yang telah melahirkan dominasi dan 
hegemoni secara permanen pula, sudah tidak mungkin bicara soal demokrasi normal 
ala demokrasi liberal model barat, karena disini yang berlaku ialah tirani 
mayoritas. Inilah sebab utama horizontal inequalities dan pada gilirannya akan 
menjadi halangan utama perkembangan dan kemajuan. 
Dalam tulisannya yang lain, Frances Stewart menyebut HI ini sebagai A Neglected 
Dimension of Development. Memang tepat namanya, persoalan dimensi perkembangan 
yang terlupakan atau yang memang dilupakan oleh sebagian terutama yang 
berdominasi dan pegang kekuasaan abadi. Bisa juga memang terlupakan bagi 
sebagian rakyat banyak (terutama yang berada dipihak yang didominasi) seperti 
saya sebutkan diatas. Tapi harapan kita sekarang supaya kita semua mengingatnya 
lagi dan mencari penyelesaian bersama, termasuk etnis dominan orang Aceh di NAD 
bisa bikin seperti yang telah dirintis di Sumut.  
Frances Stewart seterusnya tulis: "On the political side, there is a need for 
inclusivity. Monopolisation of political power by one group or another is often 
responsible for many of the other inequalities, and for violent reactions 
because this appears the only way to change the system."
Apa yang diusahakan di Sumut (pemekaran) adalah salah satu jawaban yang  tepat 
dari persoalan inclusivity yang dimaksud oleh Stewart. Dengan pemilihan 
demokratis model barat hanyalah meneruskan penipuan atas minoritas untuk tetap 
mendominasi mereka. Ini tidak mungkin dibantah. Tidak mungkin ada gunanya 
demokrasi liberal (barat) di Sumut, tidak ada di Deliserdang, Dairi maupun 
Simalungun. Disini berlaku hanya tirani mayoritas. Seperti ditulis Stewart 
dalam hal ini: "It is not an automatic result of democracy, defined as rule 
with the support of the majority, as majority rule generally leads to permanent 
domination by one group in situations in which one group is in a strong 
numerical majority". 
Dari sini juga kita bisa ambil contoh sebagai pelajaran, bagaiman PDIP Sumut 
sebelum dan pada permulaan reformasi didominasi oleh orang-orang Karo, tetapi 
sekarang dominasi dipegang oleh orang-orang Tapanuli/Batak. Kekuatan kultural 
disini berlaku sebagai kekuatan centrifugal kultural dalam banyak organisasi 
multi-etnis terutama partai-partai politik. Kekuatan ini berlaku bahkan ketika 
kontradiksi pokok dunia masih ideologis (dua blok), apalagi sekarang dimana 
partai-partai bukan didasari lagi oleh satu ideologi tertentu, jelas kekuatan 
centrifugal kultural ini yang ambil peranan penting atau semakin pegang peranan 
utama. Kita lihat bagaimana partai Golkar digunakan oleh Sultan (Jawa) atau 
oleh Kalla (Sulsel Bugis). Atau PKS oleh Hidayat, Tifatul dan Anis Matta (Jawa, 
Sumatra, Sulsel). Pada era dua blok,  partai menggunakan orang (ideologis), 
sekarang orang menggunakan partai (sebagai PT) untuk kepentingan sendiri. Ini 
karena kontradiksi pokok dunia
 sudah berubah.  
"In severely divided societies, multiethnic parties are strongly susceptible to 
centrifugal forces….Parties organised nonethnically are rare or nonexistent in 
such societies." (Donald L. Horowitz ) 
Inilah gambaran singkat tingkat perkembangan kita, dan kita berkembang disitu. 
 
Enda ka lebe renungan minggu enda
Salam tirani mayoritas
MUG


      __________________________________________________________
Låna pengar utan säkerhet. Jämför vilkor online hos Kelkoo.
http://www.kelkoo.se/c-100390123-lan-utan-sakerhet.html?partnerId=96915014

Kirim email ke