Sejauh mata memandang dan telinga mendengar, hingga sekarang, telah ada dua Bacapres (Bakal Calon Presiden) si enggo nangkeng. Yakni Sri Sultan HB ras Megawati Soekarnoputri.Mereka telah datang ke Berastagi. Sri Sultan tampil dengan isu yang masuk kategori ideologi negara, seperti semangat pluralisme, sembari ncibalken isap, belo ras mindo pengarak-ngarak ku pajuh-pajuhen si lit i Lau Debuk-debuk. Mungkin dengan kata lain, memohon restu kepada leluhur Karo si ije. Pidato sultan kebanyakan memasuki isu-isu jalan tengah, sehingga rasanya pun datar-datar saja. Kalau Megawati, tampil dengan isu Sembako murah. Mendengar isu tersebut, rasa was-was tiba-tiba muncul. Kenapa…? Karena hingga sekarang, tidak ada penjelasan dari Megawati soal bagaimana caranya mencapai sembako murah ini. Apa indicator-indicator keberhasilan yang akan mencapai sembako murah ? Melalui pikiran yang sederhana ini, dengan konsep sembako murah ala Megawati, maka pihak yang paling dirugikan adalah petani. Dalam hatiku bergumam, apakah tidak ada konseptor Megawati yang memikirkan nasib orang Karo yang mayoritas hidup di sector pertanian? Rasanya, bukan orang Karo saja si perjuma-juma di republik ini. Setahu saya, isu sembako murah ini sudah digaungkan sejak beberapa bulan lalu. Tapi, saya agak terpancing berkomentar lebih jauh, ketika isu tersebut langsung dilontarkan di Berastagi, terlebih dihadapan sekitar 4000 orang, yang mayoritas diantaranya adalah petani. Saya akan sangat senang sekali bila ada yang bisa menguraikan konsep sembako murah ala Megawati, dengan tidak mengorbankan petani. Dengan demikian, bila ada orang-orang di luaran sana yang bertanya, saya bisa juga mbantu-mbantu paparkan… Salam hangat MJS
