Redy,
Bisa kasi info lebih lengkap lagi,  tida ada harga yg baku untuk tingkat kering 
yg berbeda, yg menjadi patokan kualitas biji berdasarkan standard SNI, biasanya 
eksporter sedikit ada toleransi dari persentase yg dipersyaratkan.  Saya 
sarankan cek SNI nya di internet, cukup ketik sj di google.   Ada beberapa 
eksportir di medan,  baik prshn lokal maupun internasional spt olam dan 
armajaro yg   
Aktif beli sampai tingkat desa. Mereka menggunakan indeks futures, bursa 
berjangka harga komoditas dunia untuk menentukan harga beli, karena mereka juga 
aktif di sistem perdagangan tsb. Kalau di aceh, di mana armajaro aktif dan 
punya gudang pengumpulan malah petani setiap beberapa hari sekali 
diinformasikan harga belinya lewat sms.
Untuk indeks harga kakao dunia bisa di cek di harian bisnis indonesia,  kalau 
belum ada perubahan setiap hari disajikan, termasuk kopi, kelapa sawit, dll.
Biasanya masalah kakao di sumatra bagian utara adalah biji yg basah dan lembab 
karena curah hujan yg tinggi. Salah satu cara yg efektif adalah memakai solar 
dryer, atap plastik  yg menyerap dan menyimpan panas spt dlm green house 
plastik, dan kalaupun hujan kakaonya tetap awet, ini adalah teknologi 
sederhana, murah dan mudah direplikasi petani dan meningkatkan nilai jual yg 
significant.
   
Apa info ini bermanfaat ?
Saya bisa kirim contact di Olam dan armajaro kalau dibutuhkan. 
Arman Ginting

Kirim email ke