Senin, 13/07/2009 17:51 WIB
Golkar Setelah JK Kalah
Jadi Oposisi Atau Tak Punya Harga Diri
Deden Gunawan - detikNews
Jakarta - Nanti malam Partai Golkar akan menggelar rapat harian. Rapat rutin 
partai beringin
kali ini agak istimewa. Karena dalam rapat itu akan diputuskan apakah Munas 
dipercepat atau sesuai jadwal. Rapat itu juga akan menentukan apakah Golkar 
akan berkoalisi dengan SBY atau jadi oposisi.

"Rapat harian nanti malam memang sangat penting. Sebab di sana akan diputusakan
apakah Golkar jadi koalisi atau tidak. Apapun hasil rapat nanti malam tinggal 
diketuk di rapat pleno," jelas sumber detikcom di internal Golkar.

Karena begitu pentingnya rapat itu, sampai-sampai lokasi rapat harian jadi 
rebutan.
Kubu Aburizal Bakrie, Akbar Tandjung dan Agung Laksono yang dikenal dengan 
Triple A
dan ingin supaya Munas dipercepat, mendesak agar rapat itu diadakan di kantor 
DPP
Golkar di Slipi.

Namun kubu para loyalis JK yang menentang koalisi, mendesak agar rapat itu 
diadakan
di Slipi 2, yakni kediaman JK di Jalan Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta Pusat. 
"Kemungkinan besar rapat harian akan diadakan di Mangunsarkoro," jelas sumber 
tersebut.

Pasca kekalahan Ketua Umum Golkar JK di pilpres, desakan agar partai itu 
berkoalisi
dengan partai pendukung SBY semakin menguat. Alasan utama mereka partai yang
didirikan pada awal orde baru tersebut selalu berada di pemerintahan. Kalau jadi
oposisi dikawatirkan kader Golkar akan linglung.

"Apapun juga oposisi tidak akan menguntungkan partai. Kita harus bisa melihat 
culture masyarakat saat ini," jelas Ketua DPP Golkar Firman Subagyo kepada 
detikcom.

Tapi di mata Yuddy Chrisnandi, alasan itu hanya dibuat-buat. Orang-orang yang 
mendorong koalisi dengan SBY pun dinilai hanya bernafsu dengan jabatan menteri. 
"Tradisi Golkar sebagai partai pemerintah itu hanya akal-akalan mereka. Sebab 
intinya mereka yang mendorong koalisi ingin mendapat jabatan menteri. Padahal 
saat Pilpres mereka sembunyi. Tidak ikut berjuang mendukung JK," kata Yuddy, 
yang juga Jubir Timkamnas JK-Wiranto.

Tambah Yuddy, semua pihak sebaiknya sabar menunggu sampai ada keputusan resmi 
dari para pengurus Golkar yang dipimpin JK. Kedua opsi tersebut, ujar Yuddy 
sedang digodok dan ditimbang. Apakah oposisi akan baik bagi bangsa atau tidak.

Sedang sejumlah pengamat menilai, jika Golkar akhirnya memilih jalan oposisi, 
langkah itu akan lebih baik bagi Golkar. Terutama untuk menjalin persatuan di 
internal Golkar.

Sejak orde baru tumbang, perpecahan di Golkar terus terjadi. Sejak pilpres 2004 
hingga 2009 elit Golkar tidak pernah bersatu mendukung capres dan cawapres yang 
dicalonkan partai. Mereka saling melemahkan dan tidak saling mendukung.

"Dengan cara beroposisi kader Golkar diharapkan bisa kompak karena akan timbul 
militansi dari masing-masing kader. Bukan sekadar kepentingan pragmatis 
belaka," jelas pengamat politik Yudi Latief.

Dikatakan Yudi, saat ini Golkar sudah kehilangan kemampuan untuk melakukan 
regenerasi. Tidak ada militansi untuk mengembangkan partai. Kekalahan Golkar 
pada Pilpres harus menjadi refleksi bagi Golkar untuk melakukan pembenahan.

Parahnya, selama ini Golkar hanya menjadi partai yang memperjuangkan 
kepentingan elit saja. Para elit selalu sibuk berjibaku mencari posisi empuk di 
pemerintahan. Sementara kaderisasi tidak berjalan. Akibatnya, banyak kader 
partai yang pindah ke partai lain.

Nah, dengan oposisi hubungan elit dan kader partai Golkar diharapkan bisa 
terajut kembali. Setidaknya elit dan kader akan merasa satu perjuangan dalam 
membangun bangsa dengan ikut mengawasi pemerintahan.

Pendapat senada dikatakan Lili Romli, pengamat politik dari Universitas 
Indonesia. Menurutnya, Golkar sebaiknya menjadi oposisi di parlemen untuk 
mengimbangi kekuasaan SBY yang didukung banyak partai.

Dengan beroposisi, kata Lili, akan menunjukan karakter warna Golkar. Partai itu 
akan dianggap konsisten dalam menentukan sikap politiknya. Karena mereka 
sebelumnya sudah bersikap tidak bergabung dengan SBY.

Jelang pilpres, Golkar memang tidak sepakat dengan Partai Demokrat (PD) terkait 
pasangan capres dan cawapres. Selanjutnya, Golkar memilih jalan sendiri dengan 
mengusung pasangan JK-Wiranto.

Selain itu, Golkar juga telah menyepakati pembentukan koalisi besar yang 
dibangun bersama PDIP, Gerindra, dan Hanura. "Kalau sekarang Golkar bergabung 
dengan PD. Itu sama saja menenggelamkan Golkar. Partai itu dianggap tidak punya 
harga diri dan tidak konsisten," jelas Lili Romli.
(ddg/iy) 
--
http://www.vivanews.com/
Selasa, 14 Juli 2009, 14:38 WIB 
Rapim Golkar Bahas Kekalahan Dalam Pilpres 

Setelah kalah telak dalam Pemilu Legislatif dan penghitungan cepat Pemilihan 
Presiden, Partai Golkar kabarnya akan mengadakan Musyawarah Nasional Luar Biasa 
untuk melengserkan Jusuf Kalla dari Ketua Umum.
 


      __________________________________________________________
Ta semester! - sök efter resor hos Kelkoo.
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum här:
http://www.kelkoo.se/c-169901-resor-biljetter.html?partnerId=96914052

Kirim email ke