[email protected]> wrote: 
kalak Inggris adah ndai kalak beluh kepeken teku dungna . . . Enggo ndekahsa 
aku jadi kalak motu teku. 
Adi kuakap ma (MUG), labo beluhen kalak Inggris (Barat) adah ndai. Mereka juga 
banyak belajar dari orang-orang yang mereka 'tindas' (daerah-daerah jajahan). 
Sehingga, lebih cepat mengadakan antisipasi sejak dini.
 
Teringat saya seorang penulis barat. Kalau tidak salah ingat, namanya Joseph 
Conrad, dalam tulisannya The Heart of Darkness...
 
Tak ubahnya seperti negeri ini yang masih di dominasi mitologi-mitologi saudara 
kita yang dari Jawa. Seperti perihal kepemimpinan, istilah Satrio Piningit, 
Titisan Langitan, dan lain sejenisnya. Beberapa waktu lalu, senina Carlos 
pernah mengulasnya di milis ini. 
 
Ada lagi yang lebih 'unik' menurut saya, yakni perihal bencana alam di 
Indonesia, dikaitkan pula dengan isu SBY yang tidak direstui oleh leluhur 
bangsa Indonesia. Ei la keri aku ngukurkenca. Padahal, sekarang, bencana alam 
sedang saling bergendongan ke sejumlah negara-negara lainnya di muka bumi ini. 
 
Teringat pula saya akan Gajah Mada yang dianggap pahlawan nusantara. Pahlawan 
atau penjajah, tergantung siapa yang menguasai opini.... 
 
Bagenda ka me lebe pemikiren si arah aku enda, sebelum ada rasionalisasi 
lainnya yang lebih bisa diterima, janah nimai bang Igan berkemas naik Garuda 
executive Jawa nari
 
Salam berngi si ngongo man banta kerina
 dari tanah air
 
MJS 


      

Kirim email ke