--- In [email protected], Terang k Bangun <bang...@...> wrote:
"... Bujur man bandu mere info enda , nese sisitk tedehku ku Batukarang ban  
Lagu  lagu  Sitepu enda. Si kuakap enterem jelma i berena inspirasi untuk 
ngembangken musik  Karo  bas jamanna ..."

Ketika gendang [lima sendalanen] masih sangat digemari, di tahun 1970an 
bermunculan beberapa grup band Karo. Batukarang punya posisi sangat unik dalam 
perkembangan band Karo ini. Bayangkan di satu kampung Batukarang itu muncul 3 
atau lebih grup band dan 2 diantaranya menjadi grup paling terkenal di seantero 
Karo, yaitu The Giant dan Riamour Band.

The Giant dengan pentolannya Jusuf Sitepu dan istrinya [yang pertama] Eliarosa. 
Riamour saat itu mengandalkan penyanyi cilik Bahagia Surbakti (diantara 
lagu-lagunya: Rok Mini Poni Kuda, Tambur Dekdek). Nantinya, setelah dewasa, 
Bahagia muncul lagi dan melejit dengan Salah Benana ciptaan Alasen Barus (Salah 
Benana mampu menggeser Jogjakarta/ Kristina sedangkan Jogjakarta sebelumnya 
berhasil menggeser Bunga Rampe).

Reno Surbakti juga rupanya jebolan Batukarang, sebelum pindah ke Berastagi dan 
nantinya bergabung dengan sebuah grup band Pancurbatu dengan salah satu 
pentolannya Brigjen (purnawirawan) Djadiate Ginting.

Ada apa dengan Batukarang? Ini adalah sebuah pertanyaan Etnomusikologi yang 
menarik. Etnomusikologi tidak sama dengan Musikologi. Bapak Etnomusikologi 
adalah seorang antropolog, Alan P. Meriam.

Adakah sebuah teori bisa kita bangun dengan menjawab mengapa di Batukarang 
muncul banyak sekali grup band di tahun 1970an? Ataukah murni kebetulan atau 
pertanyaan ini hanyalah sebuah mitos?

La kin igejapndu, Mama Itings. Ranan erduri sibelaskendu .... (kutipan Ranan 
Erduri, Cipt. Jusuf Sitepu)

Juara R. Ginting



Kirim email ke