Rasa kentang, tomat, kol, sayur putih, pisang, dan banyak lagi, sebenarnya 
kurang lebih sama saja di mana-mana. Petani (sekitar 95 % dari jumlah penduduk) 
tanah karo dalam hal memproduksi komuditi-komuditi itu sudah mahir betul. 
Masalahnya, market sudah tidak ada atau mengecil, sedangkan masyarakat tetap 
memproduksi (keahlian mereka hanya itu). Tentu saja harga-harga akan limbung 
alias murah (bahkan bisa jadi di bawah harga produksi). 

Apalagi di kita sering terjadi perusakan pasar oleh WNI sendiri, misalnya 
sentimen american; KFC, Mc Donald di rusak atas nama tak jelas, padahal produk 
petani itu banyak terserap di sana. Dampak lainnya, bagaimana turis tidak 
was-was kalau tempat makan saja susah. Karo menganggap BPK enak, tapi bagi 
orang eropah belum tentu. Seperti, kita juga menderita di eropah
 karena susah ketemu nasi pada daerah tertentu.

Di sisi lain, pemda (dalam hal ini dipresentasikan oleh Bupati) tugasnya hanya 
dua, mengemban tugas pelayanan publik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat 
tanah karo. Layanan pemda, mulai dari kantor bupati sampai kepala desa mesti 
menyenangkan masyarakat, semurah dan secepat mungkin. Serta, pemanfaatkan APBD 
atau dana lain semaksimal mungkin untuk  menggerakkan potensi masyarakat untuk 
mencapai kesejahteraan itu. 

Soal produksi petani, kenyataannya selama ini, sebagian besar dipasarkan di 
luar tanah karo, seperti Medan dan sekitarnya, Jakarta, dll. Sampai pada titik 
ini, persoalan yang dihadapi oleh petani karo hanya sebagian kecil yang bisa 
diatasi oleh pemda karo, tapi sebahagian besar mesti diselesaikan oleh 
masyarakat dan pemerintah pusat.

Saya pikir, bahagian penyelesaian yang dapat diambil alih oleh masyarakat karo 
adalah mempelopori makanan nasional.  Di Korea, ada
 makanan nasional yaitu kimci (sayur putih, lobak, dll yang 
difermentasi). Kimci ini tahan kurang lebih setahun. Tidak ada yang namanya 
rumah makan tanpa kimci. Akibatnya, berapa pun banyaknya sayur putih misalnya 
tetap terserap oleh pasar dengan harga yang standar sepanjang tahun. Bisa saja 
masyarakat memberi nama kimci tanah karo. 

 
Kedua, semaksimal mungkin komoditi petani diolah sebelum dilepas ke pasar, 
misalnya cabe giling kering, minuman kotak, dll. Masyarakat dapat berperan 
dalam hal ini. 

Pasar untuk ekspor saya tidak banyak komentar. Yang saya tahu, dulu kakek dari 
fihak istri selalu mengekspor komuditi tanah karo itu ke Singapore. Sekarang 
apa masih ada? Satu tindakan yang pantas dilakukan, berikan fakta dan sejarah 
perdagangan tanah karo ke istana. Mereka mesti bisa memberikan jalan keluar. 
Bila perlu ada tokoh yang memfasiitasi aron ke istana.

Maaf sudah lama tidak aktif di milis ini. Maklum saja, sebagai akibat menjadi 
"prajurit" di negeri orang.

Bang KT



 

--- On Thu, 1/7/10, karo karositepu <[email protected]> wrote:


From: karo karositepu <[email protected]>
Subject: [tanahkaro] Tidak ada perta yang tidak berakhir...
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Thursday, January 7, 2010, 12:43 AM


  








Tidak ada pesta yang tidak berakhir… (tapi mengapa secepat ini)??
Gemerlap lampu Natal dua minggu yang lalu sudah mulai pudar, kesesakan 
Berastagi dan object wisata lainnya karena padatnya pengunjung  masih 
meninggalkan bekas… sampah yang bertumpuk….  Perpisahan dengan penuh haru 
dengan keluarga yg kembali ke tempat mereka masing masing… masih terlihat jelas 
khsusnya di Polonia dan Belawan…. Vaya condios… have a nice trip… see you 
again… next year… semua ini menjadi rutinias…dan sudah biasa dihadapi sebagian 
besar masyarakat Karo  di Kota maupun Pedesaan… 
Yang berbeda….. suasana Tahun 2010 ini yang dimulai ternyata sangat cepat 
berubah dari suasana ceria menjadi suasana yang mencekam, khususnya bagi kami 
petani. Mengapa tidak, pada saat harapan untuk memperoleh penghasilan yang 
memadai ternyata tinggal harapan setidaknya sampai ahir bulan Januari ini. 
Pasar yang menjadi tumpuan harapan para petani setelah berbulan-bulan melakukan 
budidaya…. Ternyata tidap menunjukkan kepastian. Bayangkan saja saat ini buah 
jeruk yang sudah menguning (saya lihat sendiri sewaktu melakukan perjalanan 
dari Tiga Panah,Tigajumpa, Juma Padang , Tanjung Barus, Basam  terus 
keberastagi )dengan kondisi yg lumayan bagus, harganya hanya Rp. 2000/kg. dan 
itupun jarang ada pembeli. Investasi… ya pasti sudah dilakukan se maksimal 
mungkin.
Kondisi yang sama (saya alami sendiri), hati yang berbunga-bunga bulan November 
lalu 2009, karena kentang yang kami tanam tumbuh subur, dan ternyata produksi 
mencapai 1 kg / batang, pada ahirnya tidak menghasilkan seperti yang diharapkan 
karena selama seminggu ini harganya hanya Rp. 2.200 / kg (bandingkan dengan 
harga Rp. 5000/kg  tiga buylan yang lalu).
Sepanjang Berastagi – Kabanjahe-Tiga panah… kondisi juga sama saja, petani yang 
selama ini murah senyum, sekarang sepertin ya tidak mau tersenyum….. wortel 
yang menjadi handalan, memang tumbuh subur, hasilnya bagus tapi harga hanya 
Rp.800/kg.
Jagung juga sama saja, dalam  1 minggu ini banyak petani yang mengontak saya 
agar batang jagungnya saya beli untuk pakan sapi… Hujan + angin yang kencang 
menyebabkan banyak batang jagung yang rebah sebelum waktunya.
Kol, Tomat… semua sayuran sama saja sepertinya mengikuti komoditas lainnya… 
berlomba menungkik.
Inilah kondisi di Taneh Kemulihenta….kalau para petani memang sudah 
pasrah….karena selama ini mereka juga berjuang masing-masing dalam menjalani 
hidup ini. Cuma saya terkadang berfikir… apakah memang sudah tidak ada jalan 
keluar??? Setidaknya adalah masukan dari Dinas Koperasi dan Perdagangan…. Kan 
mereka di”adakan” untuk itu??
Pasti banyak “setidaknya ada” yg mengatakan “ memang sistim pertanian di Karo 
harus diubah, kami pun mau mengubah.. tapi kearah mana. Hebatnya lagi banyak 
para pakar mengatakan, mari kita mulai dengan “Market oriented” dan milaolah 
“Go organic” tapi selama ini kami belum memperoleh suatu model dari para pakar 
yang “implemented”.  Sepertinya para pakar baru sekedar teori dan wacana.
Dalam kondisi seperti ini mungkin para milis yang kreatif, dan potensial bisa 
share dengan kami yang tinggal di Tanah Karo simalem ini, Dari pada kita 
mencurahkan 100 % energy dan pikiran kita mengulas “Bank Century gate” mungkin 
akan bermanfaat kalau sedikit “Energy” kita kita share untuk mengatasi masalah 
di kuta kemulihenta. Saya sangat yakin semua kita punya keluarga di kampong dan 
mengharapkan “pemikiran” dari kita.
Ini hanya sekedar himbauan, dan memang himbauan ini mungkin kurang mengena di 
pembuka tahun 2010 ini, tapi kita semua pasti setujukan “ There is always a 
way”….barangkali idea ada pada anda.
Bujur ras-mejuah-juah,
Per”Baroeng” Peceren
Petrus Sitepu


Akses email lebih cepat. 
Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang 
dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)








      

Kirim email ke