Danau Toba, siapa yang tidak mengenal danau luas yang ada di dataran tinggi Karo di Provinsi Sumatera Utara? Setiap orang yang telah datang ke dataran tinggi Karo tidak lengkap rasanya apabila tidak mengunjungi Danau Toba. Danau yang luas tersebut membentang dari Balige di selatan sampai Tongging di utara sepanjang 100 km, dengan lebar 30 km. Dengan pemandangannya yang indah, Danau Toba telah sejak lama menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Di tengah danau ini ada pulau yang namanya Pulau Samosir. Konon menurut legenda beberapa marga Batak yang berasal dari Pulau Samosir, seperti marga Sidabutar, Pulau Samosir adalah pulau dimana semua keturunan Batak berasal, entah sampai dimana kebenaran dari legenda tadi. Yang jelas, marga Sidabutar berasal dari Pulau Samosir ini. Ingat Danau Toba penulis jadi ingat pengalaman pribadi beberapa tahun yang lalu, sewaktu penulis ditugaskan untuk memberikan ceramah pada suatu seminar yang diselenggarakan oleh Yayasan Perhimpunan Pencinta Danau Toba. Sebenarnya yang diundang adalah atasan penulis yang asli orang Batak, bahkan bermarga Sidabutar, tapi karena berhalangan hadir, beliau menugaskan penulis untuk mewakili beliau. Sebelumnya penulis agak ragu menerima tugas tersebut, karena penulis bukan orang Batak, selain itu pengetahuan saya tentang Danau Toba sangat terbatas. Tapi karena tugas, ya diterima saja. Sampai di Parapat, tempat dimana seminar diselenggarakan, penulis menjadi kikuk karena disambut bak tamu terhormat, lengkap dengan pemasangan ulos dipundak. Meskipun penulis jelaskan bahwa saya hanyalah mewakili Bapak Parulian Sidabutar (alm), mereka tetap menghargai sebagai tamu kehormatan, dengan sematan pin di dada dari Yayasan Perkumpulan Pencinta Danau Toba. Pin itu masih penulis simpan dengan baik sampai sekarang. Pin yang saya terima dari Yayasan Perkumpukan Pencinta Danau Toba Pin yang saya terima dari Yayasan Perkumpukan Pencinta Danau Toba Sebenarnya ceramah saya di depan Yayasan yang terhormat itu sederhana saja, sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan teknis yang saya miliki, yaitu upaya-upaya yang telah dan akan dilakukan untuk menyelamatkan Danau Toba dari pencemaran limbah, terutama limbah rumah tangga. Menurut catatan geologis dari Wikipedia, Danau Toba sebenarnya adalah kaldera raksasa hasil letusan gunung api purba yang meletus lebih dari 75.000 tahun yang lalu, yang kemudian membentuk danau, sedangkan puncak gunung api tersebut sudah punah karena letusan besar yang terjadi pada masa lalu. Kaldera itu kemudian terisi air dan menjadi danau seperti kita lihat sekarang ini. Dengan topografi yang curam pada hampir semua sisi sekitar danau, maka dengan sendirinya semua aliran dari daerah tangkapan air sekeliling danau masuk ke dalam danau, sehingga Danau Toba amat rentan terhadap pencemaran limbah rumah tangga, maupun limbah dari kegiatan pertanian dan peternakan dari permukiman di sekelilingnya. Untuk mengurangi beban limbah rumah tangga yang mengalir ke danau, maka diperlukan pengolahan limbah pada kota-kota sekitar Danau Toba. Di Parapat sendiri sudah ada pengolahan limbah yang dibangun pemerintah pusat, tapi sayang belum secara optimal dimanfaatkan. Nah, ceramah saya adalah sekitar upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk mengurangi beban limbah tersebut, antara lain dengan membangun instalasi pengolahan limbah di setiap kota dan permukiman sekeliling Danau Toba. Upaya yang tidak mudah dan tidak murah. Namu, dengan dukungan semua fihak, berbagai kendala tersebut mestinya bisa diatasi, agar kelestarian dan keindahan Danau Toba tetap terjaga dengan baik. Tidak hanya limbah permukiman, limbah pertanian serta peternakan babi juga perlu diperhatikan agar tidak mencemari Danau Toba. Dalam kaitan ini, upaya dari Yayasan Perkumpulan Pencinta Danau Toba yang diketuai Prof. Midian Sirait itu sudah banyak melakukan upaya penyelamatan, antara lain dengan menghimbau pemerintah provinsi Sumater Utara untuk melakukan tindakan tegas terhadap masyarakat dan perusahaan-perusahaan bermodal besar yang menanamkan modalnya dalam bisnis peternakan di sekitar Danau Toba. Mengingat bahwa Danau Toba dikeliling oleh tujuh Kabupaten, para bupati diharapkan tunduk kepada Peraturan Daerah yang menyangkut ekosistem danau Toba. Jika ego para bupati hanya sekedar untuk mendapatkan keuntungan ekonomi sesaat, maka Danau Toba akan tinggal kenangan. Mana yang akan anda pilih, keuntungan ekonomi sesaat atau masa depan Danau Toba? Sumber: http://wisata.kompasiana.com/2010/02/28/selamatkan-danau-toba/ komentar: Mengkaliam yang merugikan entah mengentungken tulisen si datas enda? (nb: tulisen enda enggo ituresken sekalak ku forum kaskus janah enggo ibaca sekitar 25.000 view) Salam Mejuah Juah Karo Cyber Community
