Cermin Diri SBY Di tempat terpisah, Direktur Reform Institut Yudi Latif menilai, apa yang disampaikan SBY agar menghindari politik uang, tidak mencerminkan apa yang ada pada SBY sendiri, maupun Partai Demokrat. Antara pernyataan dan perbuatan SBY dan partainya sangat tidak konsisten. Menurutnya, SBY harus bertanggung jawab atas melambungnya biaya kekuasaan dalam enam tahun terakhir ini. Karena pada masanya, ongkos meraih kekuasaan cukup tinggi, seperti biaya kampanye dan biaya iklan yang tinggi. Hal itu terjadi karena pengaruh politik citra yang dikembangkan SBY. “Harus ada refleksi atas apa yang disampaikan. Sesungguhnya pernyataan itu (SBY) ke siapa. Harus ada konsistensi atas apa yang disampaikan,” kata Yudi. Ia menegaskan, kenaikan perolehan suara Partai Demokrat yang mencapai 300% pada Pemilu 2009 lalu, dapat menjadi acuan atas apa yang disampaikan SBY. Baginya, kenaikan yang begitu tinggi dan terjadi dalam waktu yang singkat, dipertanyakan. Sesungguhnya, apakah karena memang jaringan partai yang kuat atau karena besarnya biaya politik yang di dalamnya terjadi politik uang. “Ini yang harus direfleksikan SBY,” tegasnya. Sementara itu, President National Endowment for Democracy Carl Gersham mengatakan, pidato Presiden sebagai pembicara utama dalam forum gerakan demokrasi internasional tersebut, memiliki pesan tersendiri. Bahkan, banyak orang terkesan akan hal-hal yang disampaikan. “Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka terkesan pada pidato Presiden SBY. Itu merupakan pesan bagi dunia. Saat ini, tidak banyak pemimpin di dunia yang dapat menyampaikan pidato seperti itu," ungkap Carl kepada SP di Jakarta, Senin. Carl pun berharap agar Presiden Amerika Serikat Barrack Obama juga ikut membaca pidato yang disampaikan oleh Presiden SBY mengenai demokrasi, terutama menjelang kedatangannya ke Indonesia. Dalam pidatonya, Presiden SBY menguraikan beberapa hal terkait demokrasi. Mulai dari, pengalaman Indonesia dalam membangun demokrasi di Tanah Air, kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, tantangan yang dihadapi untuk mencapai demokrasi, serta masalah-masalah terkait seperti korupsi dan politik uang, hingga ajakan membangun solidaritas lintas budaya untuk mencapai demokrasi. Salah satu topik yang dikemukakan adalah kaitan antara demokrasi dengan agama dan budaya. Indonesia dinilai, sudah menunjukkan diri sebagai contoh negara, dimana Islam, demokrasi, dan modernisasi dapat tumbuh bersama. “Indonesia telah menunjukkan, sebagai suatu contoh bahwa Islam, demokrasi, dan modernisasi dalam tumbuh berdampingan. Kita adalah salah satu contoh hidup,” kata Presiden SBY. [D-12/W-12/R-14] (SP, ANTARA/Ismar Patrizki)
