BUPATI KARO HARUSLAH PENGHIBUR. Membaca judul ini kita bisa multi tafsir. Menghibur karena dapat meningkatkan kemakmuran dan pelayanan publik, saya setuju. Namun, menghibur karena membuat orang tertawa dari atas panggung, saya kurang sependapat. Bagaimana pun juga, seorang bupati adalah bertugas menjalankan fungsi manejerial pemda di tingkat kabupaten. Fungsi manejer, tidak ada mesti bisa menghibur dari atas panggung.
Semua kita sudah ada talenta masing-masing. Jika memang perlu hiburan, bupati bisa saja mengorganisir agar artis menghibur rakyat. Terus terang saja, kita akan lebih senang dihibur oleh Tiofanta Pinem ketimbang SBY, misalnya. Keahlian masing-masing individu mesti didukung, apalagi oleh pejabat. Hitung-hitung, kita mesti melanggengkan lapangan kerja yang sudah ada saja, kalau memang tidak bisa meningkatkannya. Lagi pula, kesannya, masih sempat-sempatnya latihan nyanyi padahal masalah rakyat masih seabrek, misalnya jeruk tak bisa dipanen, jalan rusak di mana-mana, sekolah-sekolah pada mau ambruk, puskesmas masih kekurangan dokter, dst. Andaikan pun dulu dia berasal dari seorang penyanyi, kalau sudah menjadi manejer mestinya mengutamakan fungsinya saja. Sewajarnyalah dia terus memikirkan bagaimana cara memakmurkan rakayat dan bagaimana cara melayani rakyat dengan cepat dan tepat tanpa pungli. Sorry Joey ya, mana tahu kita tidak sependapat dalam hal ini. Sentabi! Bang KT --- On Wed, 5/26/10, Joey Bangun <[email protected]> wrote: From: Joey Bangun <[email protected]> Subject: [komunitaskaro] Bupati Karo haruslah Penghibur To: [email protected], [email protected], "Seniman Karo" <[email protected]> Date: Wednesday, May 26, 2010, 8:42 AM BUPATI KARO HARUSLAH PENGHIBUROleh Joey Bangun “Syaratna : jelma, pet man, erkiniteken!” kata kelompok Cot Dogol saat menjadi penutup pertunjukan Zending tgl 16 April lalu di Sukamakmur. Kata-kata Cot Dogol itu diutarakan sebagai syarat untuk menjadi seorang Ketua Moderamen GBKP. Kebetulan saat itu adalah Sidang Sinode GBKP dalam rangka memilih Ketua Moderamen yang baru. Syarat yang diucapkan Cot Dogol itu menimbulkan gelak tawa lebih kurang 3000 penonton yang malam itu memadati lapangan yang menjadi lokasi pertunjukan. Jawaban itu terdengar polos dan diucapkan ceplas-ceplos begitu saja. Tapi kalau kita simak, bukankah itu pula syarat dasar seorang manusia yang kelak jadi pemimpin. Sesederhana : Jelma (manusia), Pet Man (menyukai makanan), Erkiniteken (beragama) FENOMENA ZARIMA Yang menarik tentu saja fenomena seorang Zarima. Mantan ratu ekstasi itu seperti dilansir oleh detik.com mencalonkan diri menjadi Bupati Karo. Pencalonan Zarima sontak mengagetkan dunia entertainment dan tentu saja juga dunia politik. Peta politik Karo sempat pula kasak-kusuk akibat pernyataan mantan Ratu Ekstasi ini. Padahal dalam sejarah cerita rakyat Karo, suku Karo hanya mengenal istilah ratu pada Putri Hijau Ratu Kerajaan Haru atau juga Beru Patimar si Ratu Jenggi Kemawar. Tapi Zarima si Ratu Ekstasi? Zarima bukanlah orang Karo. Bahkan mungkin setiap sudut jalanan di Tanah Karo ketika ditanya orang-orang tidak pernah mengenal kiprah yang pernah diberikan oleh Zarima untuk Karo. Tapi kenapa Zarima berani melemparkan dugaan kalau dirinya akan menjadi Bupati Karo? Menaikkan kembali popularitas adalah alasan utama. Sehari setelah melemparkan pernyataan itu ke wartawan, Zarima langsung membuat pernyataan baru kalau dia belum siap untuk menjadi Bupati. Artinya dia belum punya kemampuan yang memadai. Tapi kenapa dia memberi pernyataan kejutan tentang pencalonan dirinya jadi Bupati Karo kalau dia belum mengukur kemampuannya. Hanya Zarima dan sisi keartisannya yang tahu. Pernah sempat terpikirkan oleh saya, kalau Zarima mencalonkan diri jadi Bupati Karo kenapa saya tidak menawarkan diri untuk menjadi wakilnya. Dari sisi latar belakang pekerjaan mungkin kami bisa ‘nyambung’. Zarima tidak mengenal Karo, saya mengenalnya. Saya bisa membantu Zarima untuk beradaptasi dan melakukan birokrasi secara politik dan budaya. Ah lupakan! Zarima hanya warna yang mencoretkan kuasnya pada peta perpolitikan di Karo. Tapi akibat perbuatannya itu pula tiba-tiba nama Kabupaten Karo mengemuka ke publik. Nama Karo berulangkali terucap di berbagai siaran infotainment. Kalau saja bukan karena Zarima, nama Karo mungkin tidak pernah seterkenal ini. “Karena selama ini pemerintah daerahnya tidak pernah punya niat untuk menterkenalkan potensi daerahnya.” HENING CIPTA UNTUK RAJABANA PURBA Berita kepergian ‘sang bulang’ saat saya berada di kantor seorang donatur pertunjukan Zending. Saat itu ada rencana pertunjukan itu kembali digelar di Medan tgl 6 Mei di Pardede Hall. Secara pribadi saya terkejut menerima berita itu. Sehari sebelumnya saya melihat balihonya sebagai pencalonan Bupati Karo di berbagai sudut Berastagi kampung asal sang bulang. Dua Minggu sebelum saya pulang ke Medan karena tugas Zending, sang bulang menelpon saya. Sang bulang menaruh harapan pada kreatifitas saya untuk pencalonannya. Saya katakan padanya bahawa saya tidak akan menolaknya. Dia telah berbuat terbaik untuk saya dan Teater Aron dalam dua pertunjukan Pawang Ternalem dan Putri Hijau. Saya berulangkali memberikan apresiasi padanya dengan datang ke kantornya di Hotel Sultan. Sang bulang bukan saja seorang birokrat, dia juga seniman. Salah satu lagu karyanya yang melegenda ‘Soniarap’ pernah saya pakai untuk sinetron Nande Rudang. Sang bulang terkenal sebagai pembela seniman-seniman Karo. Salah satu jasanya adalah sebagai mediator dan fasilitator ketika seorang seniman Karo Jakarta sakit keras. Banyak isu dari mulut ke mulut yang menjadi alasan kepergian sang bulang. Walau apapun itu, yang perlu dilakukan adalah sebuah Hening Cipta untuk memberikan penghormatan pada sang bulang. Sang bulang yang pernah menjabat sebagai ketua salah satu organisasi Karo. Sang bulang yang pernah memberikan karya untuk dunia kesenian dan kebudayaan Karo. Sang bulang yang punya visi dan misi yang jelas terhadap pencalonannya sebagai Bupati Karo. BUPATI KARO ADALAH PENGHIBUR Zarima dan Rajabana Purba adalah tipikal penghibur (baca : entertainer) . Karena mereka mempunyai darah seni kental. Sebetulnya yang dilakukan Zarima dengan pernyataan kontroversialnya sebagai calon Bupati Karo adalah hiburan. Bodoh jika orang menganggap itu serius. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Penguasa Karo saat ini sudah menjadi penghibur? Pertanyaan itu coba utarakan kepada masyarakat yang bersinggungan dengan kedigdayaan kekuasaannya. Tanyakan pada mereka seperti ini, selama dia menjabat : Manakah yang lebih banyak, tawa atau tangis? Manakah yang lebih banyak, mengusap air mata atau menahan perut karena senang? Manakah yang lebih banyak, menghujat atau memuji? Manakah yang lebih banyak, hal positif atau negatif? Manakah yang lebih banyak, kemajuan atau kemunduran? Manakah yang lebih banyak, arogansi atau merakyat? Manakah yang lebih banyak, memajukan petani atau menghambat petani? Apakah dia seorang PENGHIBUR atau PEMBERI LUKA? Watak orang Karo pada dasarnya adalah pendendam. Sesuatu yang terbaik akan selalu diingat. Begitu juga saat kau pernah melukainya. Berjiwa kritis, hingga tak ada lagi terbersit kata ‘tuhu’ tapi kata ‘teng-teng.’ Sebetulnya menjadi pemimpin masyarakat Karo haruslah mahluk yang super cerdas. Sebagai contoh, lihatlah berapa organisasi Karo yang aktif dan berapa yang kini tidak. Lihatlah bagaimana faktanya orang Karo justru terlihat ‘mandul’ saat bersatu (baca ; berorganisasi) dan malah hebat jika menjadi seorang ‘single fighter’. Artinya apa? Menjadi pemimpin Karo itu sebetulnya sulit. Pemimpin dari tabiat-tabiat yang saya utarakan diatas. Dia harus super cerdas. Dia harus membuang rasa egonya. Dia harus ‘down to earth’ (memasyarakat) . Dia sudi turun ke lapangan daripada harus duduk santai dibalik meja kerjanya. Dia tidak bisa menggunakan jari telunjuknya dengan memberikan perintah-perintah bagai seorang diktator, tapi membuka kedua tangannya menerima setiap masukan dan saran. Artinya dia tidak pantang dikritik. Lucu rasanya melihat seorang Bupati marah-marah saat dikritik di suatu acara di Jakarta beberapa waktu lalu. Bupati Karo adalah Tokoh Adat Karo. Dia adalah pemimpin adat. Dia mengerti adat dan tahu mengembangkan budayanya. Bukan malah menghambat budayanya. Hitung saja betapa minimnya kegiatan seni budaya yang digelar di Tanah Karo dan luar Karo beberapa dekade belakangan ini. Hitung juga berapa seniman harus membawa kembali proposalnya karena sulit menjumpai sang penguasa. Yang pasti seorang Bupati harus membuka lebar-lebar telinganya agar lebih ‘update’ lagi mendengar kondisi dan kendala daerah pimpinannya. Lalu secara siaga dan tepat memberikan solusi untuk segala permasalahan. Bukan malah menutup rapat telinga dan ruang kantornya lalu berpura-pura tidak tahu tentang segala permasalahan. CALON-CALON BUPATI Silahkan maju jika anda sudah siap dan kalau menurut anda, anda memang layak. Tulisan ini hanya sebatas info yang kalau menurut anda tidak penting abaikan saja. Mungkin saja anda punya argumentasi sendiri yang memang tidak pernah terpikirkan saya. Pertarungan ke depan bukan hanya pertarungan merebut kedudukan. Tapi juga pertarungan memenangi hati rakyat. Artinya anda harus menghibur rakyat sehingga anda layak terpilih. Jika saja anda terpilih. Anda tetap harus menjadi Penghibur bukan malah sebaliknya. Konon masyarakat Karo adalah masyarakat paling bersedih karena terlalu sering melontarkan keluhan karena keadaaan. Jadi sekalah air matanya dan buat dia tertawa. “Anda harus paham bagaimana caranya melakukan itu.” Pertarungan kini antara yang tua dan muda. Yang pria maupun wanita. Kesampingkan masalah gender kalau memang berniat memberikan terbaik untuk Karo. Tokoh-tokoh kini muncul, dari anak pahlawan sampai yang mengaku anak petani. Dari birokrat, cendikiawan, pengusaha, rohaniawan, hingga kaum yang bersinggungan langsung dengan petani. Yang merasa tokoh janganlah kelak menjadi ‘Tukang Tokoh’. Selamat mengusung strategi brilian untuk memenangi pertarungan. Selamat bertarung di ring pencalonan. Menangkan hati anda dulu baru anda bisa memenangkan hati semua orang. Ingat, asal anda menjadi PENGHIBUR RAKYAT maka anda akan memenangkan segalanya! Jakarta, 260510 00.50 Sumber :http://www.facebook .com/notes/ joey-bangun/ bupati-karo- haruslah- penghibur/ 367687542254# !/notes/joey- bangun/bupati- karo-haruslah- penghibur/ 367687542254
