Sabtu 29 Mei 2010, sekitar Pkl. 12.00, kenderaan kami tiba di desa Melas
(Kec. Dolatrayat, Kab. Karo). Di atas kenderaan ada wartawan TV-One
dengan kameranya, wartawan Sora Sirulo Dana Tarigan, Pemred Sora Sirulo
Ita Apulina Tarigan dan saya sendiri sebagai pengemudi. Mobil penuh
dengan alat-alat musik tradisional Karo.

Kami dapati pusat pemukiman Desa Melas dalam keadaan bersih dan rapi. 
Di tepi jalan, berjejer ukiran dan lukisan hasil karya para mahasiswa
Seni Rupa Unimed. Anak-anak mahasiswa Unimed dan USU sedang sibuk
mempersiapkan acara, bekerjasama dengan para anggota Karang Taruna Desa
Melas. Tikar sudah tergelar di losd.

Anak-anak Unimed bersama Karang Taruna setempat telah mempersiapkannya
sehari sebelumnya. Mereka menginap di Melas semalam. Anak-anak USU
menyambut kami dan menurunkan alat-alat musik dari jeep yang saya
kemudi.

Kami harus menunggu beberapa orang lagi untuk dapat memulai acara.
Sambil menunggu, saya ajak anak-anak Sanggar Sirulo pemanasan bermain
musik di ture Rumah Suah (rumah adat yang hendak direstorasi). Kupetik
kulcapi dan mereka menabuh ketteng-ketteng dan mangkuk.

Sejam kemudian, diadakan pertemuan di losd bersama Kepala Desa Melas,
pemilik rumah dan Karang Taruna setempat. Mulai dari kata sambutan
hingga tanya jawab. Tercapailah kesepakatan dan semuanya puas atas rapat
singkat yang diiringi guyuran hujan deras (Tak lama setelah rapat
berlangsung, wartawan Harian Kompas tiba di tempat. Potret sana sini.
Sedangkan wartawan TV-One merekam jalannya rapat di losd).

Lalu, penampilan Sanggar Sirulo pun berlangsung. Putra Sitepu bersama
pemusik-pemusik Sirulo lainnya memainkan kulcapi, sarune,
ketteng-ketteng dan mangkuk. Suasana mulai menghangat ketika penari
Sirulo beraksi di halaman. Seorang ibu tua merapat dan menari
bersamanya. Tepuk riuh membahana. Sora sorai warga desa.

Penari-penari dan penyanyi-penyanyi Sirulo menggeliat di halaman. Namun,
Dua Karang Taruna merapat. Sisegeren. Anak-anak bersorak sorai.
Bapa-bapa enggo merhat landek tapi malu-malu kucing. Soalny, penari dara
jelita yang juga mahasiswi USU yang mengajak mereka menari terlalu
anggun untuk diseger-seger. Namun, betis mereka terus geruduk. Tak tahan
tidak menari mendekati gadis jelita yang tampak begitu anggun berpakaian
perkolong-kolong.

Anak-anak Tinuang mulai membuka baju. Mengambil oli hitam dan tepung
putih. Merajah tubuh mereka bagai manusia-manusia primitif. Sambil
menari mereka mendekap tiang-tiang rumah adat (lagu Mari-mari mulai
dikumandangkan dengan Sarune oleh Putra Sitepu).

Tak lama berselang, musik berlanjut, pengumpulan koin digelar. Semua
warga desa berlumba mempersembahkan koin. Tak terkecuali anak-anak,
remaja dan nini-nini. Begitu juga para mahasiswa, termasuk para pemusik,
penari dan penyanyi. Bagi mereka yang kelupaan membawa koin, terpaksa
menyumbangkan uang kertas. Total, Rp. 131.000,-



Mata tertaut. Hati melekat. Terasa sudah saling merindu diantara
mahasiswa dengan warga desa. Padahal, kenderaan-kenderaan kami masih
mulai hidup mesin. Belum beranjak sejejakpun. Mata Karang Taruna tak
bisa lepas dari senyuman perkolong-kolong Sirulo yang melambaikan tangan
sambil berucap: "Sampai bertemu dalam waktu dekat."

Ibu tua pengunyah sirih menatap lekat pada penarune Putra Sitepu.
"Tak kusangka seorang mahasiswa kelahiran Medan bisa memainkan
alat-alat musik Karo, khususnya sarune, dengan sangat mempesona seperti
dia," kata ibu tua itu, yang pura-pura tidak tahu sedang disorot
oleh TV-One.

Deklarasi telah diadakan. Inisiatip Karo di seluruh dunia telah bisa
dimulai. Dari hati ke hati, mari kita pertahankan rumah adat Karo yang
megah itu. Sejak sekarang, simpan koindu dan kumpulkan untuknya.

Juara R. Ginting

Kirim email ke