Orang seperti A.Samin Siregar ini yang perlu diberikan (kalau dia mau) merga ibas peradatan Karo, sebab tanpa pamrih semata-mata karena fakta sejarah telah memperjuangkan Datuk Badiuzaman Surbakti menjadi Pahlawan Nasional. Jangan karena kepentingan Pemilukada, gampang saja kepada seorang calon diberikan merga. Merga (meherga) jadi murahan..
RGM --- On Sun, 5/30/10, Alexander Firdaust <[email protected]> wrote: From: Alexander Firdaust <[email protected]> Subject: [tanahkaro] Penulis Kamus Karo-Indonesia Meninggal Dunia To: [email protected], [email protected], [email protected] Date: Sunday, May 30, 2010, 3:17 PM Kabar Duka dari Jalan Tridarma Hasan Al Banna Di Medan (Sumatera Utara), tidak mudah menemukan seorang akademisi yang tekun mengutati dunia sastra. Kepergian Prof. Ahmad Samin Siregar menghadap Sang Khalik, Rabu 19 Mei 2010, menggoreskan rasa kehilangan yang dalam. Samin dikenal tidak hanya ilmuwan yang setia pada dunia sastra Indonesia, juga sudi menoleh pada kekayaan sastra daerah. Hampir sepertiga masa hidupnya beliau serahkan untuk ‘mengurusi’ ranah sastra-juga kebahasaan. Paling tidak, sudah diungkap Rosliani dan kawan-kawan, dalam Ensiklopedi Sastra Indonesia di Sumatera Utara (Balai Bahasa Medan, 2007). Samin mulai bersinggungan dengan sastra secara karib sejak kuliah dalam proses meraih titel Sarjana Muda di Fakultas Sastra USU Medan. Di USU pula dia merampungkan Program Sarjana Sastra Indonesia (1973). Selepas itu, Samin (pada usia 28 tahun) langsung dinobatkan menjadi dosen tetap di almamaternya. Seiring waktu, Samin juga didaulat untuk mengajar sebagai dosen tak tetap di sejumlah perguruan tinggi di Medan, seperti pada Pendidikan Teknik Kimia Industri (PTKI) Departemen Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara, Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Universitas Amir Hamzah, Universitas HKBP Nomensen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE), Universitas Harapan dan Sekolah Tinggi Ilmu Kominikasi Pembangunan (STKI-P) Medan. Alhasil, berkat ketekunannya menjadi pengajar, mengantar Samin meraih gelar Guru Besar Tetap dalam Ilmu Kesastraan Modern di Fakultas Sastra USU tahun 1998. Dia dikukuhkan sebagai profesor dengan pidato Sastra Indonesia, Budaya Daerah dan Pembangunan Bangsa: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Mendatang. Tak ayal pula (sebelum dan sesudah meraih gelar Guru Besar), Samin pun pernah termasuk dalam jajaran pucuk pimpinan di Fakultas Sastra USU dalam rentang waktu yang cukup lama. Beliau pernah menjabat sebagai sebagai Pembantu Dekan III, Pembantu Dekan II dan Dekan. Samin juga salah satu dosen Sekolah Pascasarjana USU pada Program Studi Magister Linguistik dengan Konsentrasi Wacana Kesusastraan. Aktif Organisasi Riwayat karier Samin di bidang kebahasaan dan kesusastraan kian lengkap, ketika beliau aktif berorganisasi. Samin pernah menjadi tenaga peneliti Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Lantas, beliau juga pernah duduk dalam Komite Sastra Dewan Kesenian Medan (DKM), menjadi anggota Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) cabang Medan, anggota Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia (MSPI), anggota Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Indonesia, anggota Masyarakat Kajian Melayu (MAS Society) Pusat Pengajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu-Universitas Riau-Pekan Baru, serta anggota Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI). Di samping itu, Samin pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) cabang Sumatera Utara, Ketua II Pengurus Pusat HISKI, Koordinator Asosiasi Studi Jepang di Indonesia (ASJI) wilayah Sumatera Bagian Utara, Kepala Pusat Kajian Malaysia, Ketua Masyarakat Penaskahan Nusantara (MANASSA) cabang Medan, Kepala Sudut Brunei Darussalam Fakultas Sastra USU, Ketua Gerakan Masyarakat Budaya (GEMAYA) Medan, Penasihat Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU), Dewan Pertimbangan Presidium Forum Komunikasi Antara Lembaga Adat (FORKALA) Provinsi Sumatera Utara dan Sekertaris Badan Pertimbangan Seni Budaya (BATIM SEBUD) Sumatera Utara. Pergaulan Samin di dunia luar kampus menuntun Samin untuk tidak hanya menyodorkan ilmunya dalam kampus, tetapi mencakup ranah yang lebih luas. Beliau banyak menulis artikel budaya, kritik dan esei di harian-harian terbitan Medan seperti Pos Utara, Sinar Indonesia Baru, Analisa, Waspada, Sinar Pembangunan, Bukit Barisan, Mimbar Umum dan Media FORKALA. Di luar Medan Samin juga aktif menyebarkan tulisan-tulisannya, seperti di lembaran Majalah Diksi terbitan IKIP Yogyakarta, Lembaran Sastra-jurnal terbitan Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, Majalah Sastra Bandung, Jurnal Pelangi Sastra terbitan FKIP Universitas Syah Kuala Banda Aceh, Jurnal Seni yang terbitan Institusi Seni Indonesia Yogyakarta dan Jurnal Warta ATL-Asosiasi Tradisi Lisan Jakarta. Selain itu beliau juga menulis dalam jurnal ilmiah terbitan Brunei Darussalam dalam Jurnal Bahana, Beriga, dan Pangsura. Di Malaysia, Samin menulis di Majalah Dewan Budaya, Dewan Sastera, Jurnal Dewan Bahasa, Jurnal Pengajian Melayu, Jurnal Persuratan Melayu, dan Jurnal Puisi-Perisa. Sepantar dengan perjalanan publikasi tulisan-tulisannya, Samin termasuk aktif terlibat dalam berbagai seminar, penataran, pertemuan ilmiah, lokakarya dan diskusi terkait bahasa dan sastra, baik bersifat regional, nasional, maupun internasional. Selain di tanah Sumatera, Jawa dan Bali, Samin sampai juga ke Pulau Penang, Melaka, Kuala Lumpur, Selangor, Serawak, Kedah, Perlis, Thailand, Singapura, Cina, bahkan Afrika Selatan. Seorang Penyair Sesungguhnya, kesetiaan Samin terhadap sastra bukan hanya berkutat pada jalur ilmiah. Meski tidak termasuk produktif, beliau juga menghasilkan karya kreatif, terutama puisi. Samin mulai menyiarkan hasil “coba-coba”nya ke media tiga tahun selepas menikahi Zahniar di Medan pada tahun 1973. Ya, Samin adalah seorang penyair! Urat nadi Samin dialiri darah penyair. Agaknya tidak banyak yang mengetahui, beliau adalah keponakan kontan Mansur Samin. Mansur Samin adalah seorang penyair, teaterawan, juga beberapa kali terlibat dunia film. Mansur merupakan adik kandung H. Ali Husin Samin Siregar -ayah Ahmad Samin Siregar. Samin merupakan nama kakek Ahmad Samin Siregar. Samin lahir di Batangtoru, Tapanuli Selatan pada 14 Mei 1945. Beliau pergi meninggalkan banyak torehan karya yang termaktub pada sejumlah buku, antara lain Kamus Bahasa Angkola/Mandailing- Indonesia (1978), Kumpulan Terjemahan Sastra Angkola/Mandailing (1992), Morfologi dan Sintaksis Bahasa Nias (1984), Kamus Istilah Seni Drama (1985), Kamus Karo-Indonesia (1985), Khazanah, Biografi Sastrawan Sumatera Utara (1986). Struktur Sastra Lisan Melayu Serdang (1990) dan Sastra Lisan Karo (1993), Apresiasi Puisi (1994) dan Genta, Guru Besar dan Sarjana USU Baca Puisi: Kumpulan Puisi dan Esai (1997). Demikianlah, beberapa hari setelah ‘merayakan’ ulang tahun yang ke-65, Samin pergi sebagai ayah dari tiga putra dan tiga putri: Ameilia Zuliyanti, Akhdiat Leksi, Alfian Zunaidi, Aslinda Zuwita, Afiati Zuriah, dan Adlin Zulkhairi. Mudah-mudahan lapang dan benderang jalan Samin sejak dari Jalan Tridarma (kediamannya) di Padang Bulan menuju rumah baka -untuk kemudian bermukim kekal di surga. Penulis; sastrawan, staf Balai Bahasa Medan dan dosen luar biasa di FBS Universitas Negeri Medan (Unimed) Sumber: http://www.analisad aily.com/ index.php? option=com_ content&view=article&id=56488:kabar- duka-dari- jalan-tridarma&catid=127:artikel&Itemid=150 Salam Mejuah Juah Karo Cyber Community
