Setelah berhasil memotivasi para mahasiswa Unimed jurusan Seni Rupa meneruskan upaya mereka melestarikan rumah adat Karo dengan gerakan "Koin Untuk Rumah Adat Karo", secara perlahan Sora Sirulo mempersiapkan Sanggar Seni Sirulo untuk tampil di depan publik luas. Sabtu 12 Juni 2010 nanti (mulai Pkl. 20.00 s/d 23.00, Sanggar Seni Sirulo tampil di Kesain Neumann (pelataran STMIK Neumann Jl. Jamin Gintings Km. 10, Medan). Diawali dengan penampilan Mory Band (didukung oleh 2 putra Djasa Tarigan) dan ditutup dengan penampilan Cot Dogol. Barusan kami mendapat berita dari Pemkab Deliserdang bahwasanya Bupati Deliserdang atau yang mewakilinya bersedia hadir dan memberi Kata Sambutan. Mengapa bupati Deliserdang, padahal acara dilaksanakan di Medan? Karena Sanggar Seni Sirulo pimpinan Ita Apulina Tarigan beralamat di Pancurbatu dan merupakan binaan Pemkab Deliserdang untuk mewakili kesenian Karo di wilayah Pemkab Deliserdang. Di acara yang sama, akan pula diserahkan kepada Perpustakaan STMIK Neumann sebuah buku mengenai tenunan Sumut yang ditulis oleh Dr. Sandy Nissen (Universitas Leiden, Belanda), seorang antropolog asal Canada yang beraliran Strukturalisme Leiden (sedikit beda dengan Strukturalisme Paris yang dibangun oleh Claude Levi-Strauss). Sirulo akan menampilkan berbagai ragam permainan ketteng-ketteng (dasar maupun improvisasi), kulcapi, surdam, belobat, sarune dan biola serta mangkuk meciho. Ketteng-ketteng dimainkan oleh Longgena Ginting, Lia Depari, Mediawati Ginting, Adis Ginting, Dana Tarigan, Bernita Sembiring, Ita Apulina Tarigan, Desnalri Sinulingga dan Salmen Sembiring. Putra Sitepu akan memainkan sarune, kulcapi dan biola di samping juga bermain ketteng-ketteng menunjukkan berbagai aneka improvisasi bersama Ita Apulina dan Lia. Pauji Ginting akan bermain surdam, belobat dan kulcapi di samping mengimbangi para pemain ketteng-ketteng. Tak terlihat banyak tarian, memang, tapi, di situlah kekuatan penampilan Sirulo kali ini. Beberapa tarian tunggal ditampilkan untuk mempertajam indra penonton meresapi musik. Bagaimana permainan ketteng-ketteg bisa menarik ditonton tanpa diperkuat oleh gitar atau peralatan musik modern lainnya? Itulah yang hendak kami tunjukkan. Ketteng-ketteng berada di depan dalam kancah musik Karo, bukan sekedar pelengkap penderita gelah enggo teridah Karona saja. Tenunan tradisional Karo turut tampil di pentas dikenakan oleh para pemusik, vokalis dan penari Sirulo. Lukisan dan ukiran karya seniman-seniman Sirulo akan tampil di sekitar penonton. Pauji Ginting yang belakangan ini mulai terkenal sebagai calon penerus Djasa Tarigan dalam memainkan kulcapi, juga bertindak sebagai vokalis menyanyikan lagu Batang Lulang. Tak banyak yang tahu bila vokal Pauji sangat kental dengan rengget sidekah. Apakah dia juga akan muncul menjadi perkolong-kolong baru? Kam sendiri bisa menilainya dengan hadir di Kesain Neumann. Bagaimana pula seorang koreografer tari seperti saya kali ini mengkomposisi musik? Mudah-mudahan kali ini saya tidak membosankan sebagai perancang pertunjukan Sirulo yang sekaligus membawa acara dengan ulasan-ulasan etnomusikologis. Sampai bertemu di Kesain Neumann. Oh iya, kami harap perkolong-kolong yang namanya telah lama tenggelam, Bungaria br Sembiring, bisa tampil memperkuat Sanggar Seni Sirulo di Kesain Neumann. Salam kami dari Sanggar Sirulo, Juara R. Ginting
