Re: [tanahkaro] bayi cacat ditelantarkan ortu di Karo
 
Mejuah-juah permilis simehamat kerina
Seh ka kumilista soal 'anak malang' bayi cacat si itelantarkan ortuna. Milista 
pas kang bagi sekalak jelma, 'berperasaan' janah perkuah. Tergejap kang. 
Ndarami kai sibanci ibahan, ndarami solusi bagi sibiasana persoalen kai pe si 
menyangkut Karonta, gia banci kang bayi enda asal-usulna daeah sideban nari, 
itaruhken ku Karo. Tapi ja nari gia asalna, bayi adah ndai labo lit salahna, 
sitikpe lahang, isepe patut nerima, bage pedah Dibata, bagepe pasti kang pedah 
Karonta. Ortu pe labo tersalahken, enda me pengaruh situasi ras syarat si lit i 
Karo, Indonesia bagepe kerina negeri berkembang seluruh dunia. Tekanan ekonomi 
bagepe tekanan mental/psikologis bas keliling nari menam la tertahanken. 
Mekatep nge kap si idah sendiri uga pandangan ras perlakuan nandangi anak cacat 
fisik atau ketinggalan mental, gia ugapape kelekna ajaren Dibata masing-masing. 
I usahaken mbuniken/merahasiakan sedapat mungkin, sambil ngarapken cepat idilo 
Dibata, janah melala kel umurna
 gendek, atau umumna cepat mate. Tekanan ekonomi ras tekanan psikologis man 
ortu sangana kitik denga janah man kalak cacat sendiri enca mbelin. 
Sidebanna, emkap pengertian HAM lenga itandai atau iantusi merata bas lapisan 
masyarakat negeri berkembang, termasuk dan terutama nandangi manusia cacat. I 
negerinta, penghormatan HAM enda teridah kurang labo ngenca man kalak cacat, 
tapi bagepe sesama manusia 'normal'. Enda kubandingken ras kebiasaan jelma 
umumna i Eropah, HAM enda ndai iantusi lebih mendalam. Tapi enggo me kuakap 
melala kemajuan atau perkembangan ibas era reformasi, gia maon teridah kang 
kebaliken extreemna, jelma itutung nggeluh-nggeluh, kelanjuten diburu seperti 
babi hutan ajaran Orba. Kai pe berkembang lewat proses nge kuakap (up and down) 
tapi peningkatan pasti. 
I Eropah atau negeri maju sideban, enggo lit jaminen kemanusiaan man kalak 
cacat, bas negara nari. Geluhna terjamin janah ijaga menam banci ngikuti kerina 
kegiatan simungkin bagi kalak normal. Biaya menurut kebutuhenna, kursi roda, 
atau mobil, telefon, perumahan, makan, pengobatan, kesehatan, ertina kerina 
kebutuhen nggeluh bagi kalak biasa, bedana kalak biasa arus erdahin memenuhi 
kebutuhenna kerina. Kalak cacat pe lit kang sierdahin menurut kemanpuanna, tapi 
pendapatenna menurut kebutuhenna, la menurut hasil kerjana. 
Tiap lahir bayi cacat mis reh doktor mereken info lengkap man ortu tentang 
'kesalahan' si bayi, encage  isungkunna 'mau bawa pulang bayinya atau langsung 
iserahken ku Badan Sosial'. Th 60-70-80 an melala ortu si langsung nadingken 
bayina i rumah sakit, ertina langsung diambil Jawatan Sosial, ortu bebas pulang 
seakan-akan tak pernah melahirkan bayi. Tapi uga gundari way of thinking enda 
enggo ka melala perubahen. Sekalak ortu kenalenta encidahken rasa haru atau 
semacam penyesalan langsung nadingken anakna mbarenda (bayi cacat) i rumah 
sakit serahken ku Sosial. Anakna kira-kira sebaya ras anakta (lahir down 
syndrome), tapi kami  berkeras kepala atau menolak menyerahkan ku Sosial, asa 
gundari kita ras irumah, kegembiraan reh rusur bas anak enda nari (anak down 
syndrome selain kekurangannya memang punya sifat spesifik tersendiri, ramah, 
selalu gembira, senang berteman dengan semua, asalkan dia dihargai dan diberi 
semangat/stimulans dalam semua kegiatannya.
 
Adi enggo pagi seh perkembangan sibagenda ku negerinta (ekonomi, kesedaran 
HAM), tentu lanai bo lit mbue persoalen nadingken atau telantarkan anak cacat, 
sifat ortu tempa-tempa la 'berperikemanusiaan', gia sifat enda lit kang i 
negeri maju pe bagi sikukataken idatas. 
Tapi kai gia ninta, perukuren-perukuren simehuli bas teman milista nuduhken 
atemekuah ras penghormatan HAM man jelma (bayi) cacat bagepe sikap mulia Kades 
Rumah Berastagi, seh kuakap muliana. Kai siterbahan kita gundari nimai 
'perubahan zaman' enda ndai, edi ka me sibahan ras-ras. 
Enda ka lebe
Bujur ras mejuah-juah
MUG
 
 
In [email protected], haryanto bode <edob...@...> wrote:
Adi pendapatku, serahkan saja ke gereja, dan sumbanglah gereja, karena kalau 
mau ngurusi ini lalu buat lagi organisasi lalu di auditlagi dll  repot sekali 
karena kirim-kirim saja sulit mengkontrolnya, semua tidak terukur dan banyak 
faktor yang mempengaruhi, misalnya sdg sangat sibuk dll.
 BHTRG, Tw
--
Dari: karo karositepu <sitepu2...@yahoo. com>
Judul: Re: [tanahkaro] bayi cacat ditelantarkan ortu di Karo
Kepada: tanahk...@yahoogrou ps.comkenapa
Tanggal: Kamis, 10 Juni, 2010, 6:51 AM
 Kenapa tiba tiba sepi....sedikit sekali  yg peduli...Hayo siapa yg mau 
mengorganisir. .. sipepulung dage penampatta.. ..
Bujur
--
Dari: Benyamin Sitepu <bsit...@yahoo. com>
Judul: Re: [tanahkaro] bayi cacat ditelantarkan ortu di Karo
Kepada: tanahk...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Kamis, 10 Juni, 2010, 4:25 AM
 (memang manusia  atau orang = sami mawon) . Herran, erbahansa pitpit matana e, 
giliran bagenda buang muka ia. Padahal mungkin anak e nge si mbaba rejeki.
--
--- In [email protected], "s. ginting" <kate...@...> wrote:
"Aduuuu Tuhaaaaaaan kasihan itu anak"
 Moga semua tangan yang bersedia menolong bayi ini di beri limpahan rejeki, 
Amin!
 Nande Ginting
--
From: Alexander Firdaust <daustco...@yahoo. com>
To: infok...@yahoogroup s.com; tanahk...@yahoogrou ps.com; komunitaskaro@ 
yahoogroups. com
Sent: Thu, June 10, 2010 1:56:23 AM
Subject: [tanahkaro] bayi cacat ditelantarkan ortu di Karo
 
Lagi, bayi cacat ditelantarkan ortu di Karo

Peristiwa penelantaran bayi cacat cleft lip atau labioschizis (bibir sumbing) 
kembali terjadi di Karo. Setelah sebelumnya dialami seorang bayi perempuan 
berusia 6 bulan, kali ini seorang bayi laki-laki dengan kondisi yang sama 
ditemukan John Purba di kawasan perladangan dusun 10 desa Rumah Berastagi 
kecamatan Berastagi.
Informasi dihimpun Waspada Online, bayi yang cacat bibir sumbing bawaan lahir 
ini diperkirakan berusia dua bulan. Sesaat telah ditemukan John, langsung 
dibawa menuju Puskesmas Berastagi dan selanjutnya diserahkan ke Rumah Sakit 
Umum (RSU) Kabanjahe.
Kelapa dusun 10 desa Rumah Berastagi, Bakwan Bangun, malam ini, mengatakan bayi 
malang tersebut ditemukan warganya, John Purba, di depan pintu rumahnya, di 
kawasan perladangan dusun 10 desa Rumah Berastagi kecamatan Berastagi, Selasa 
(8/6) malam sekitar pukul 21.00 WIB.
Mereka kemudian membawa bayi tersebut ke Puskesmas Berastagi untuk pemeriksaan 
kondisi kesehatan. Usai pemeriksaan kesehatan, petugas jaga Puskesmas 
menyarankan, agar bayi tersebut dirawat di RSU Kabanjahe.
Setelah dinyatakan sehat, warga bersama kades, kadus dan petugas Polsekta 
Berastagi membawa bayi tersebut ke RSU Kabanjahe, dinihari tadi, sekitar pukul 
02.00 WIB. Sesampai di RSU Kabanjahe, kehadiran bayi malang itu tidak diterima 
baik.
Persis dengan kejadian sebelumnya, pihak RSU, bersikukuh terkait penanggung 
jawab biaya. Kades Rumah Berastagi, Moro Purba, mengambil inisiatif, untuk 
mengajukan diri selaku penanggung jawab biaya perawatan bayi selama dirawat di 
RSU Kabanjahe.
“Situasi sudah menjelang  pagi hari, kasihan anak itu. Disertai surat 
penghantar dari Polsekta Berastagi, dan jaminan pengakuan penanggung jawab 
biaya, pihak RSU mau menerima,” kata Moro.
Catatan Waspada Online, Kamis (25/3/) lalu, seorang bayi juga ditemukan 
terlantar disebuah rumah warga di desa Kaban Tua kecamatan Munte kabupaten 
Karo. Bayi yang ditaksir berusia 6 bulan tersebut mengalami cacat yang sama, 
cleft lip atau labioschizis (bibir sumbing).
Bayi itu diletakkan orang tua kandungnya di beranda rumah tetangganya, diduga 
akibat himpitan ekonomi. Namun, karena alasan yang sama, oleh pengasuh, 
perawatan bayi malang itu diserahkan ke Dinas Sosial kabupaten Karo yang 
selanjutnya menghantarkannya ke RSU Kabanjahe.
Saat itu, waktu dalam perawatan di RSU Kabanjahe, sejumlah pegawai dinsos Karo 
berinisiatif mengumpulkan uangnya untuk memenuhi kebutuhan bayi perempuan 
tersebut.
Warta Terkait:
22:16 - Bayi cacat di Karo akan dibawa ke Medan
Sumber: http://www.waspada. co.id/index. php?option= 
com_content&view=article&id=121306:-lagi- bayi-cacat- ditelantarkan
 
 
Salam Mejuah Juah
Karo Cyber Community

Kirim email ke