Bengkila MU, bincara Propinsi Karo ugaka ia kira-kira..(Wilayahna, 
batas-batasna, prospek ku lebe, dat anggaran pendidiken ntah lang?..)

Begi beritana gubernur nta ena Sembiring ningen ka, Sembiring uga ka kin e..

Ja dage anggota DPRD Kab. Karo nda, enam kita tokohi kalak kel kita 
kibul-kibul..

Bujur


--- Pada Sel, 6/7/10, MU Ginting <[email protected]> menulis:

Dari: MU Ginting <[email protected]>
Judul: [tanahkaro] Re: Tanah Karo Tidak Kebagian Anggaran Pendidikan
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Tanggal: Selasa, 6 Juli, 2010, 8:08 AM







 



  


    
      
      
      
Fenomena tyrani mayoritas 
  
Berbagai tingkat perkembangan ethnic revival  
MU Ginting, Milis tanahkaro: Tue Jul 28, 2009 11:43 pm 
  PEMEKARAN ADALAH PENGAKUAN dan RESPEK, siapa yang harus diakui dan diberi 
respek. Jawabnya ialah penduduk asli pemegang hak ulayat. Mengapa mereka harus 
diakui? Karena mereka pemegang ulayat. Mengapa harus dihormati. Karena mereka 
punya hak atas daerahnya, hak ulayat. Seperti tamu harus menghormati tuan rumah 
kalau bertamu. Mengapa harus dihormati? Sederhana jawabannya, karena dia tuan 
rumah, dan sikap lain hanya akan mendatangkan perkelahian atau perang, dan 
sudah sering perang, karena tuan rumah bukannya diakui dan dihormati tetapi 
malah didominasi sampai tak berkutik sejak berdirinya nation state post 
kolonial, ada yang sudah setengah abad lebih (misalnya etnis minoritas di Sumut
 atau NAD) dan ada juga yang sudah ratusan tahun (misalnya etnis Irlandia di 
Irlandia Utara, etnis Hutu di Rwanda). Sekarang apakah masih harus diteruskan? 
Perubahan situasi dunia (ethnic revival dan perubahan kontradiksi pokok dunia) 
dan dari situ lahirnya perubahan perkembangan tingkat pikiran/kesedaran 
manusia, sudah merupakan prasyarat dasar untuk bisa mengubah hukum-hukum 
dialektis proses perkembangan kontradiksi lama itu (internal colonialism) .  
 "Whether politically correct or not, ethnonationalism will continue to shape 
the world in the twenty-first century." (Jerry Z. Muller is Professor of 
History at the Catholic University of America).  
Globalisasi telah mendesak kemanusiaan kepelosok yang paling terpencil 
sekalipun, dan menciutkan gerombolan kemanusiaan sampai sekecil mungkin, dan 
satu-satunya tempat bertahan bagi gerombolan manusia ialah dalam 'grup bersama' 
yang paling kecil yaitu etnisnya atau sukunya, yang kulturnya sama. Erik Lane 
dalam satu bukunya, Globalization and Politics: Promises and Dangers menulis: 
"the focus is almost exclusively at ethnics and not nations . . . Thus, people 
are so intimately connected with a culture that they are, so to speak, 
constituted by the culture in question or embedded in such a particular 
culture."  
 Persoalan ethnic revival adalah persoalan pembebasan dari dominasi etnis 
mayoritas atau etnis dominant tertentu, pembebasan dari penjajahan pada 
pokoknya (internal colonialism) karena dominasi adalah penjajahan. Penjajahan 
atau dominasi, adalah sumber ketidakadilan, karena seperti yang dikatakan oleh 
antropolog prof Denis Dwyer dalam bukunya Ethnicity and Development: 
"development programmes frequently are controlled and administered at the 
higher levels by members of the
 politically dominant ethnic group; and most of the fruits of such development 
flow into the pockets of a tiny ethnic elite or at best, are distributed in a 
limited manner within the same ethnic group". Inilah salah satu dan yang hakiki 
dalam proses kelahiran ketidakadilan antar etnis, dari dominasi kekuasaan oleh 
etnis dominant.  
 Sekarang sudah semakin jelas bahwa ketidakadilan dari manapun datangnya adalah 
sumber pertengkaran dan perang. Ketidakadilan etnis ini belum terlihat di era 
kolonial maupun di era nation state post kolonial, tetap semua mata terbuka 
setelah era ethnic revival, stelah era dua blok selesai. Sekarang era 
perjuangan untuk keadilan, termasuk keadilan etnis didalam satu nation 
tertentu, dan keadilan bagi tiap nation dalam skala internasional.  
MUG 
  
--- In tanahk...@yahoogrou ps.com, Alexander Firdaust <daustco...@. ..> wrote: 
MEDAN (Berita): Disaat daerah lain, kebanjiran anggaran untuk sektor 
pendidikan, sehingga beberapa proyek di antaranya bahkan menuai masalah. Namun 
ternyata untuk  daerah Tanah Karo untuk APBD 2009 daerah tersebut sama sekali 
tak mendapat kucuran anggaran untuk sektor pendidikan, baik berupa pembangunan 
fisik maupun bantuan.  Kondisi ini mengundang kekecewaan tim Kunjungan Kerja 
(Kunker) DPRD Sumatera Utara Daerah Pemilihan (dapem) X, Karo, Dairi dan 
Phak-Pak Bharat, saat melakukan kunker ke daerah terebut. Apalagi pada rapat 
yang digelar di kantor bupati Tanah Karo itu para Satuan Kerja Perangkat Daerah 
(SKPD) maupun staf dari Dinas Pendidikan Sumut tak seorangpun yang hadir. 
“Ini kita ketahui saat mengevaluasi APBD 2009, ternyata tidak sesuai  dengan 
pertanggungjawaban Gubernur saat Ranperda,†ungkap Richard Eddy M Lingga, SE, 
Ketua tim Kunker X menjawab wartawan, kemarin mengomentari hasil kunker timnya 
baru-baru ini. 
Ketidakhadiran para SKPD maupun staf dari dinas pendidikan Sumut menurut 
Richard justru mengundang kecurigaan dewan, yang ternyata terungkap  Dinas 
Pendidikan Sumut tidak mengalokasikan dana APBD Sumut tahun anggaran 2009 untuk 
dana pendidikan di kabupaten tersebut. Dalam rapat itu juga diketahui bahwa 
anggaran untuk pembangunan fisik atau bantuan tak sepeserpun dikucurkan ke 
daerah itu. 
“Sama sekali tidak ada, inikan sudah mengangkangi program Gubsu yakni agar 
rakyat tidak bodoh . Padahal pemerintah sudah berjanji akan mengalokasikan 
anggaran untuk sektor pendidikan sebesar 20 persen dari APBD termasuk untuk 
daerah-daerah,†tandas politisi Partai Golkar ini. 
Sebagaimana diketahui, paparnya, untuk daerah lain dinas pendidikan Provsu 
banyak mengalokasikan dana untuk sektor pendidikan. Bahkan, sangkinkan 
banyaknya, beberapa proyek di antaranya justru menuai masalah, sebagaimana 
temuan rekan-rekannya sesama wakil rakyat di dapem masing-masing. 
“Jadi sangat tidak fair justru tanah Karo tidak mendapatkan kucuran dana 
pendidikan untuk tahun anggaran 2009, “ ujarnya. 
Menurut Richard, kondisi ini akan menjadi pelajaran berharga bagi mereka para 
wakil rakyat, khususnya untuk daerah pemilihan X, yang merupakan perwakilan 
rakyat Tanah Karo, Dairi dan phakpak Bharat, hingga bisa lebih memperjuangkan 
alokasi dana tahun 2010 untuk sektor pendidikan daerah tersebut. “Kondisi 
seperti ini jangan lagi terulang untuk APBD 2010, jangan sampai anggaran 
pendidikan bisa terluput dari perhatian,†sesalnya.(irm) 
Sumber: http://beritasore. com/2010/ 07/05/tanah- karo-tidak- kebagian- 
anggaran- pendidikan/
Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community


    
     

    
    


 



  





Kirim email ke