Artikel yang bagus.. Beginilah juga seharusnya kita memandang Karo, meninggikan 
bukan merendahkan. Lagipula kalo berkualitas dengan sendirinya orang akan 
"nganggap". 

RGM

--- On Sun, 7/18/10, david ketaren <[email protected]> wrote:

From: david ketaren <[email protected]>
Subject: [tanahkaro] Character Development
To: "Milis GBKP" <[email protected]>
Cc: "Moderamen GBKP" <[email protected]>, "Majalah GBKP Maranatha" 
<[email protected]>, "KARO-ITB" <[email protected]>, "Pdt Jenny 
Eva Karosekali" <[email protected]>, [email protected], "Pdt Sahabat 
Peranginangin" <[email protected]>, "Pdt Armand Barus" 
<[email protected]>, "rs colia" <[email protected]>, "Analgin Ginting" 
<[email protected]>, "ananta purba" <[email protected]>, "Budianto 
Surbakti" <[email protected]>, "Pt Dr Alex Ginting" 
<[email protected]>, "Pt Helman Pandia" <[email protected]>, "Pt Abdi 
Ginting" <[email protected]>, "Kurnia Sembiring" <[email protected]>, 
"GBKP TG PRIOK" <[email protected]>, "aswan sembiring" 
<[email protected]>, "Pdt DR Jadiaman Peranginangin" 
<[email protected]>, "Pt Harun Tambun" <[email protected]>, "Pdt 
Matius Panji Barus" <[email protected]>, "Pdt Erick Barus" 
<[email protected]>, "Pdt Rudi Meliala" <[email protected]>,
 "Loto Ginting" <[email protected]>, "Bijaksana Sinuraya" 
<[email protected]>, "Hiskia Bangun" <[email protected]>, "John 
Sinarta Bangun" <[email protected]>, "Imen Bangun" 
<[email protected]>, "Syahnan (IRA) Ginting" 
<[email protected]>, "Christian Ketaren" 
<[email protected]>, "Christine Bangun" <[email protected]>, 
"dicky christian" <[email protected]>, "Pdt Darius Pandia" 
<[email protected]>, "Setia Pandia" <[email protected]>, "Ruth Sembiring" 
<[email protected]>, "Pt Roka Tarigan" <[email protected]>, "Pdt Khasna 
Barus" <[email protected]>, "Pdt Soni Sembiring" 
<[email protected]>, "Pdt Prananta Manik" <[email protected]>, 
"Pdt Yunus Bangun" <[email protected]>, "Pdt Justen Tarigan" 
<[email protected]>, "Pdt Juris Tarigan" <[email protected]>, "Pdt 
Bahagia Tarigan" <[email protected]>, "Pdt Minda Peranginangin"
 <[email protected]>
Date: Sunday, July 18, 2010, 9:54 PM







 



  


    
      
      
      Saya mau numpang posting artikel dari milist pendidikan sebelah, kiranya 
dapat memperkaya bacaan kita dan jika baik dapat diterapkan, terima kasih..



*RHENALD KASALI *

*Thursday, 15 July 2010*



LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah

tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. *

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu

telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali.

Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya

dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan

itu buruk, logikanya sangat sederhana. *

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan

diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai?

Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi

nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes,

ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?"

"Dari Indonesia," jawab saya. Dia pun tersenyum.*



*Budaya Menghukum *



Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya.

Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap

simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang

anakanaknya dididik di sini,"lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit

memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum,

melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! " Dia pun

melanjutkan argumentasinya.

"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak

sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris,

saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan

berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat

pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut

ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang

nilai "A", dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya

harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para

penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat

melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar

siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya

dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan

jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang

saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan

kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal

sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah

ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. *

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan,

penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap

seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami

frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang

maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan

encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan

rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang

yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara

menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana

guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah

anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat,

bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar

secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun,

bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru

mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan

kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak anak di Amerika yang ditulis dalam

bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun

rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang

mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah

memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah

telah menunjukkan kemajuan yang berarti." Malam itu saya mendatangi anak

saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di

tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia

pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi

saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang

berbeda.



*Melahirkan Kehebatan *



Bisakah kita mencetak orangorang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan

rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh

sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur,

dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan

seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...;

Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas

kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi

lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan

mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata

menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil)

atau sebaliknya,dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang

didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia

dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan,

ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.*

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan

ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan

menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*) *



*RHENALD KASALI *

*Ketua Program MM UI*





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke