Terbitan Analisa Minggu 25 Juli 2010

(Umpan Balik atas Tulisan Jones Gultom)



Kenapa Orang Toba Lebih Bangga Sebagai Batak?

Oleh: Thompson Hs*

Juara Rimanta Ginting rupanya sudah berada di Medan. Saya baru mengetahui dari 
tulisan Jones Gultom yang terbit di Harian Analisa, 18 Juli 2010. Tentu pula 
karena Juara Rimanta Ginting katanya baru-baru ini mengudar kembali kalau orang 
Karo itu bukan Batak. Saya mengira Juara Rimanta Ginting masih berada di 
Belanda 
untuk kepentingan studi Antropologinya atau lebih khusus untuk studi kebatakan 
Karo. Berhasil atau tidak, mungkin diskusi yang diadakan di Rumah Buku Padang 
Bulan Medan beberapa waktu lalu lumayan sedikit menandai kalau Juara Rimanta 
Ginting sudah mulai yakin kalau orang Karo itu bukanlah Batak. Memang, orang 
Karo sebagai Batak atau tidak masih dapat diperdebatkan. 



Namun hal itu secara maksimal pasti membuyarkan konsep “Karo Sirulo” atau Karo 
yang berkelompok dan yang terbentuk karena sejumlah klan yang berdatangan ke 
Tanah Karo Simalem. Ada lima kelompok klan atau marga di Karo, yaitu: Ginting, 
Karo-Karo, Peranginangin, Sembiring, Tarigan 
(http://blog.petrabarus.net/2007/07/06/budaya-karo-sejarah-marga-marga/). 



Kelima kelompok klan/atau marga ini juga mencakup sejumlah marga yang 
dipastikan 
datang dari luar Tanah Karo jauh sebelum kedatangan Belanda dan misionaris. 
Yang 
menjadi mitos Karo sebagai sebuah entitas dan identitas asli sangat sering 
dirujuk dalam kaitan sejarah Kerajaan Haru sebelum menjadi Islam. 



Rujukan keterkaitan Kerajaan Haru dengan Karo dapat dicermati melalui buku 
tertentu Brahma Putro dan pengembangan referensialnya oleh penulis dari 
kalangan 
Karo seperti Darwan dan Darwin Prinst. Namun kelima induk klan/marga tadi juga 
sangat jarang diurutkan dalam kebiasaan genealogis seperti mengurutkan yang 
tersulung sampai yang terbungsu. Merga Silima diperkirakan sebagai konsep orang 
Karo kemudian dalam membentuk mitosnya sebagai entitas tersendiri. 



Dapat dipastikan kalau orang Karo bukanlah sepenuhnya keturunan dari Kerajaan 
Haru yang kita banggakan itu. Apalagi dengan pecahnya Kerajaan Haru dalam klaim 
kekuasaan agama-agama tertentu semakin memastikan munculnya mitos baru untuk 
genealogisnya. Hal itu dapat dilihat atas klaim keturunan Kerajaan Deli yang 
tidak mungkin mengakui dirinya sebagai orang Karo. Padahal Kerajaan Deli itu 
selalu dikaitkan dengan Kerajaan Haru yang sudah menjadi Islam.

Mungkin sajalah orang Karo bukan orang Batak karena kondisi mitosnya. Kelima 
induk/klan marga itu tidak pernah bisa ditarik garisnya secara langsung kepada 
mitos besar kebatakan melalui induk Siraja Batak. Namun beberapa marga yang 
tercakup dalam kelima klan/marga itu ada yang berasal dari keturunan 
marga-marga 
yang terkait dengan mitos Siraja Batak. Sejumlah orang Karo dari klan Ginting 
misalnya sering mengaitkan diri kepada kelompok Parna (Parsadaan Naiambaton) di 
Toba dan menjadi bagian dari 60-an marga-marga tersebut. Parna sendiri tidak 
mempersilahkan kawin-mawin antar- marga cakupannya karena dibayangkan sebagai 
salah satu praktik inses atau menghilangkan identitas kekuatan induk tersebut. 



Demikian juga dengan orang Karo dari klan Sembiring (Siman Biang) sering 
mengidentikkan diri dengan bagian dari Silahi Sabungan di Toba, induk dari 
marga-marga Silalahi, Haloho, Sipayung, dan lain-lain. Contoh-contoh ini bukan 
berarti memastikan poros kedatangan marga-marga yang terkait di Toba itu 
langsung berasal dari sekitar Danau Toba, seperti Paropo yang tidak terlalu 
jauh 
dari wilayah Tanah Karo yang sekarang. Namun bisa saja marga-marga di Karo dan 
Toba pernah melakukan perjanjian tradisional untuk mengatasi emosi-emosi 
kekuasaan territorial.

Saya kira dalam kenyataan sosial masih sering juga bagian dari induk klan/marga 
lainnya di Karo mengaitkan dirinya dengan marga-marga pada sub-Batak lainnya, 
terlepas dari kebiasaan mereka tidak mengakui pula sebagai Batak. Misalnya 
salah 
satu marga di Karo seperti Limbeng, awalnya tidak bisa dipastikan langsung 
sebagai bagian dari lima klan marga di Tanah Karo. Namun ada yang memperkirakan 
marga Limbeng terkait dengan Limbong di Toba, salah satu dari kelompok 
Naimarata 
(Keturunan Tateabulan minus Siraja Lontung). Juga dengan marga Sitepu dan 
Barus. 
Sitepu adalah anak perantau dari Siraja Oloan, induk dari marga Naibaho, 
Sihotang, Sihite, Sinambela, Bakkara, dan Simanullang. Bahkan sebagian dari 
merga Pelawi masih mengaitkan diri dengan keturunan Datuk Hamparan Perak yang 
pernah mengaitkan silsilah kepada Raja Bakerah (Bakkara) – maksudnya mungkin 
Sisingamangaraja. Sedangkan merga Barus tercatat berasal dari kota Barus, 
Tapanuli Tengah.

Kebiasaan mengaitkan marga-marga dalam komunikasi sub-etnik Batak adalah sebuah 
kenyataan emosional, sebagaimana kebiasaan di kalangan Karo sudah melakukannya 
dengan bahasa yang digunakan, yakni bahasa Karo, sebagai dialek Utara dengan 
dialek Pakpak-Dairi dalam peta Linguistik Batak. 



Kebiasaan mengaitkan ini terjadi dalam pertemuan tertentu, baik di perantauan 
maupun dalam perkenalan awal untuk menetralisir posisi yang berbeda. Misalnya 
seorang merga Tarigan tidak jarang sungkan menyatakan dirinya sebagai bagian 
dari marga-marga Simamora kalau datang ke Humbang Hasundutan. Demikian 
sebaliknya marga Purba, Manalu, dan Debataraja seperti punya hubungan emosional 
dengan Tarigan kalau bertemu di Tanah Karo. Saya juga pernah mendengar 
pengakuan 
seorang merga Sebayang kalau mereka dulunya berasal dari marga Pandiangan. 
Kasus-kasus seperti ini mungkin saja menggangu debat kebatakan orang Karo. 



Namun dalam kenyataan banyak orang Toba harus mengakui diri sebagai orang Karo 
untuk kepentingan penyesuaian saja dan menghormati konsep “Karo Sirulo” itu. 
Atau malah untuk menyatakan diri juga bukan orang Batak, sebagaimana 
orang-orang 
Batak yang mengakui dirinya sebagai orang Melayu. Kapak membelah kayu, Batak 
menjadi Melayu. Itulah salah satu perumpamaannya. Kebiasaan serupa itu saya 
kira 
menjadi perhatian studi antropoligis. Apakah Juara Rimanta Ginting termasuk di 
dalamnya?

Tentu saja orang Karo tidak harus menjadi Batak. Itulah mungkin dasar lain di 
samping argumen Juara Rimanta Ginting yang mengambil catatan-catatan lama 
secara 
umum. Lalu orang Toba sendiri juga bisa juga menganggap dirinya bukan orang 
Batak. Namun memang masalahnya bukanlah di situ.
Toba Lebih Bangga sebagai Batak
 

Toba Lebih Bangga sebagai Batak

Orang Toba memang sedikit agak hina bagi sub-etnik Batak lainnya. Masing-masing 
orang non-Toba memiliki pemahaman tertentu dengan istilah toba. Sebaliknya 
kebanggaan orang Toba sebagai orang Batak dapat menambahi kehinaan itu. 
Sebenarnya tidak banyak orang mengetahui kalau identifikasi orang Toba itu 
adalah masyarakat yang tinggal di wilayah Toba-Holbung. Namun kebanyakan studi 
Antropologi terlanjur mengesankan Toba itu juga mencakup masyarakat Silindung, 
Humbang, dan Samosir. Faktor-faktor yang membuat cakupan itu mungkin dapat 
dikaitkan dengan kenyataan bahasa yang digunakan. Ada tiga dialek dalam Bahasa 
Batak, yakni: Dialek Utara, seperti yang sudah disinggung tadi adalah 
Pakpak-Dairi dan Karo. Kemudian Dialek Selatan (Toba dan Mandailing), dan 
Dialek 
Pertengahan (Simalungun). Contoh kata dalam penggunaan dialek tersebut 
mempunyai 
kemiripan idiolek. Misalnya, njuah-juah (Pakpak-Dairi) dan mejuah-juah (Karo). 
Di Toba dan Mandailing, kata horas digunakan dalam fungsinya yang serupa, 
sebagaimana di Simalungun. Lantas perbedaan seperti ini boleh saja digunakan 
sebagai asumsi juga. Namun bukan saja seperti Juara Rimanta Ginting dapat 
menyatakan orang Karo bukan Batak. Kebanyakan orang Mandailing juga sudah lama 
menyatakan diri bukan Batak. Dari kelompok antropologis Mandailing seperti Z. 
Pangaduan Lubis juga berani mempertaruhkan Mandailing itu bukanlah Batak atau 
bagian dari kebatatakan. Dalam bukunya yang terakhir soal marga-marga di 
Mandailing contohnya menyatakan marga Lubis aslinya adalah seorang Bugis yang 
pernah menikah di Toba hingga meninggalkan seorang anaknya yang bernanama 
Tonggo 
Lubis di sana. Setelah di Mandailing si Lubis itu menikah dengan putri marga 
Dalimunthe yang sudah lebih dulu memiliki kerajaan di sana. Namun tragisnya 
dalam buku Z. Pangaduan Lubis itu Marga Dalimunthe menjadi terabaikan sebagai 
bagian dari marga-marga di Mandailing (lihat: Pustaka Widyasarana, 2010). Namun 
penyangkalan Mandailing sebagai Batak dan bagian kebatakan diperkirakan ssangat 
terkait dengan potensi agama dan kekuasaan sejak zaman colonial Belanda.

Hubungan orang Karo dan Toba juga sering mewarnai adanya kaitan kebanggaan 
kebatakan itu. Ada percakapan yang menyatakan keretakan orang Toba dan Karo 
dalam kaitan kebatakan terganggu oleh Peristiwa PRRI/Permesta. Namun jauh 
sebelum itu, konflik orang Toba dan Karo sudah pernah terjadi di Lau Balang 
atas 
kasus keperintisan ladang atau pertanian. Kalau kita masih berpatok kepada 
kenyataan orang Karo sebagai Batak adalah dengan adanya eksistensi Gereja Batak 
Karo Protestan (GBKP) hal itu menjadi sejarah tersendiri. Meskipun dinyatakan 
GBKP hasil “akuisisi” gereja misi Jerman, kenyataan historis seperti itu tidak 
serta-merta harus menjadi kenyataan historikal untuk keseluruhan orang Karo. 
Apa 
untungnya orang Karo bukan Batak? Itu juga dapat menjadi pertanyaan penting, 
sebagaimana pertanyaan seorang Julius Limbeng yang sudah sering terlontar 
secara 
terang-terangan. Namun saya kira soal keuntungan yang dimaksud menjadi Batak 
atau tidak hanya tergantung kepada kebanggaan saja.

Juara Rimanta Ginting sebagai antropolog dari kalangan Karo perlu menjelaskan 
hal itu dengan tuntas. Apakah konsep adat tungku nan tiga sebagaimana dimiliki 
bersama Mandailing, Karo, Simalungun, Pakpak-Dairi, dan Toba mengada begitu 
saja 
dalam praktik adat di Tanah Karo? Atau apakah rakut sitelu dalam istilah Karo 
itu benar-benar asli warisan Kerajaan Haru yang bukan Islam? Saya kira istilah 
Batak hanya mengikat adanya persamaan konsep adat itu. Soal praktiknya yang 
berbeda itu urusan lain, seperti kata pepatah: di mana langit di junjung, di 
situ bumi dipijak. Jadi kalau orang Toba lebih bangga atau keterlaluan bangga 
sebagai Batak, itu bukan berarti mengatakan non-Toba tidak pernah bangga 
sebagai 
Batak. Horas, njuah-juah, dan menjuah-juah!

Medan, 18 Juli 2010.

*Pengamat Kebatakan dan tinggal di Pematangsiantar.


      

Kirim email ke