Saya mencermati tulisan Senina MUG ini sangat tajam,logis dan argumentatis 
tanpa harus terjebak dalam polemik tidak produktif. Dengan kata lain tulisan 
ini mengatakan : "Saya Karo, memiliki sejarah dan riwayat sendiri. Tapi saya 
dan kalian tetap bersaudara, setidaknya dari segi demografis". 

RGM

--- On Fri, 7/30/10, MU Ginting <[email protected]> wrote:

From: MU Ginting <[email protected]>
Subject: [tanahkaro] Karo as Culture Entity
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Friday, July 30, 2010, 3:08 PM







 



  


    
      
      
      Karo as Culture Entity 
  
Karo adalah etnis tersendiri dengan kultur dan budaya sendiri, satu etnis  
besar yang pernah exis di Sumatra bagian Timur. Kebesaran dalam kultur 
budayanya, arsitekturnya  (rumah adat) begitu juga terlihat dalam filsafat 
hidupnya yang menggambarkan way of thinking (filosofis) yang sudah tinggi. 
Bukti-bukti kebesaran ini tidak tercatat secara rapi seperti manifestasi 
kebudayaan dan peradaban tinggi Barat atau Yunani kuno misalnya. Dari yang 
pernah terlihat ialah tulisan atau goresan pada bambu seperti dalam sejarah 
Patimpus. Begitu juga terlihat dari cita-cita Hayam Wuruk (Gajah Mada) 
menaklukkan kerajaan besar satu-satunya di daerah Sumatra bagian timur, satu 
kerajaan besar orang kafir (pemena), karena
 kerajaan ini bukan muslim atau bukan Aceh maupun bukan Jawi, ( 'Kalak Jawi' 
adalah panggilan orang Karo terhadap orang islam tempo doeloe, umumnya orang 
Melayu). 
Pasukan-pasukan berbagai kerajaan islam (Melayu) dari selatan dan dari laut 
(semenanjung Malaka) serta dari utara (Aceh, juga islam) mendesak dan 
menaklukkan kerajaan besar orang kafir (pemena) Haru, dan masih meninggalkan 
sisa pertahanan terakhir benteng Delitua yang masih terlihat sampai sekarang. 
Nama-nama kota dengan istilah kuta (kampung) dalam bahasa Karo tersebar mulai 
dari Kutaraja sampai ke Siak. Kemudian yang masih banyak terutama di Sumtim 
terutama di daerah-daerah etnis Karo, dan masih ada di daerah Gayo/Alas.  Dalam 
Sumpah Palapa (1336) Gajah Mada Majapahit berjanji akan menaklukkan banyak 
kerajaan termasuk Haru. Tetapi yang berhasil menaklukkan Haru ternyata adalah 
kerajaan-kerajaan islam yang telah lama (sebelum Gajah Mada bersumpah)
 berusaha membinasakan kerajaan kafir terakhir didaerah Sumatra bagian Timur. 
Dialektika adalah cara pikir dan cara pandang atas hal-ihwal dari segi-segi 
yang bertentangan didalamnya, atas alam dan pikiran manusia serta kehidupan dan 
perkembangan kehidupan manusia maupun perkembangan pikiran manusia . Orang 
Barat berpendapat dan mengatakan bahwa penemu pertama dialektika adalah orang 
Yunani Kuno bernama Heraklitos (500 SM) dalam Pantarei (air mengalir, sungai). 
Heraklitos menunjukkan proses atau perubahan tak henti-hentinya (dialektika 
alam). Orang Karo Kuno (Karo sinoria) sudah mengenal dan memakai dialektika 
dalam kehidupan dan cara pikirnya, dalam melihat alam dan dalam menilai 
perkembangan pikiran manusia. Ini terlihat dari pepatah kuno Karo (sudah ada 
sejak Karo lahir sebagai satu kesatuan struktur budaya dan kultur) yaitu: dalam 
alam (sungai) dikatakan 'aras jadi
 namo, namo jadi aras' (Pantarei Karo), dimana aras adalah bagian dangkal dalam 
aliran sungai, bagian yang beriak, bagian yang deras, bagian yang ribut dan 
pada gilirannya akan berubah jadi namo (lubuk), yaitu bagian yang dalam, bagian 
yang tenang. Jadi disini menggambarkan kedangkalan kontra kedalaman, keributan 
kontra ketenangan, dan yang satu berubah jadi yang lain lewat proses tertentu 
yaitu proses perubahan segi-segi bertentangan. 
Dan dalam pikiran, seperti 'seh sura-sura tangkel sinanggel' (begitu tercapai 
cita-cita akan muncul kesusahan), menunjukkan kegembiraan kontra kesedihan, 
proses tak henti-hentinya hal-hal bertentangan dalam pikiran manusia. 
Dialektika Karo kuno  menunjukkan proses dan pertentangan dalam alam maupun 
dalam pikiran manusia. Dialektika Heraklitos (Pantarei) menunjukkan proses 
dalam alam, sungai mengalir tak henti-hentinya dan perubahan tak 
henti-hentinya. Kalau kita menginjakkan kaki kedua kalinya kedalam satu sungai, 
sungainya bukan lagi sungai ketika kita menginjakkan kaki pertama kali katanya. 
Dialektika alam Karo atau Pantarei Karo secara jelas tidak hanya menunjukkan 
proses, tetapi juga adanya segi-segi
 bertentangan. Kenyataan-kenyataan legendaris alamiah ini cukup membuktikan 
tingkat peradaban dan tingkat filsafat pemikiran etnis Karo telah ada sejak 
adanya Karo sebagai entitas budaya dan kultur tersendiri dan jelas terlihat 
dari perbandingan dengan perkembangan dialektika Yunani kuno Heraklitos. Dari 
logika ini menjadi jelas tak teragukan bahwa etnis Karo adalah salah satu dari 
etnis tertua dan sangat tinggi filsafat dialektikanya dibagian dunia Sumatera 
bagian timur. 
"The Batta Cannibal States", sebutan John Anderson, dalam buku Mission to the 
East Coast of Sumatra 1823, menemukan berbagai kesatuan atau berbagai struktur 
kesatuan budaya dan kultur di pantai timur Sumatra. Dia melihat perbedaan dan 
juga melihat adanya kekuasaan (states) dalam kesatuan-kesatuan itu. Tetapi 
Anderson menjadikan semua entitas yang bermacam-macam itu (selain kelompok 
islam) dengan nama bersama yaitu 'Batta'.  Istilah ini pasti berasal dari kata 
'Batak', tapi dalam pendengaran dan ucapan lidah totok seorang Inggris berubah 
jadi 'Batta'. 'Batak' adalah nama julukan terhadap orang-orang atau entitas 
orang-orang kafir tak ber Tuhan bukan islam, ketika itu orang Karo, Toba, 
Simalungun dan
 sebagian Pakpak atau Mandailing.  Mereka ini tak berTuhan tapi berDibata 
(Karo) atau Debata (Toba,Simalungun) . Asal usul kata dari bahasa Sanskrit yang 
di Bali dikatakan Dewata. Orang-orang Dibata/Debata ini adalah kafir pemakan 
babi dijuluki sebagai kelompok 'Batak' oleh orang islam, dan dengan lidah 
Inggris jadi 'Batta' dan yang kanibal, artinya bagi orang Inggris Anderson 
bukan hanya pemakan babi tapi juga pemakan orang. Istilah 'Batak' atau 'Batta' 
jadi nama bersama orang-orang berDibata, satu kesatuan tersendiri dari pihak 
islam maupun dari orang Barat bahkan sampai kezaman kolonial Belanda dan juga 
termasuk demikian dalam ajaran antropologi kolonial. Antropolog orang Batak 
Amir Nadapdap bahkan mengatakan Gayo dan Alas sebagai Batak, dpl Batak Gayo dan 
Batak Alas. Sebaliknya antropologi Aceh mengatakan Aceh Gayo dan Aceh Alas, 
atau yang lebih tak mengenakkan lagi ialah dengan mengatakan Gayo dan Alas 
sebagai sub-etnis Aceh dan yang lainnya
 sub-etnis Batak. Ini jelas menunjukkan perkembangan pikiran expansionis 
etnis-etnis mayoritas dominan atas existensi etnis minoritas yang umumnya 
berada diluar kekuasaan atau berada dibawah dominasinya, dimasa nation state 
post kolonial sampai sekarang era reformasi, era yang menuntut perubahan 
radikal dalam hubungan saling mengakui dan saling menghormati, 'berdiri sama 
tinggi dan duduk sama rendah' sesama etnis dalam nation multi etnis seperti 
Indonesia. 
Salah satu diantara kelompok yang dijuluki 'Batak' atau 'Batta' sampai sekarang 
masih mempertahankan sebagai Batak yaitu orang Toba. "Namun dalam kenyataannya, 
orang Karo dan Mandailing menolak disebut Batak. Mereka mengaku sebagai orang 
Karo dan orang Mandailing, dan sama sekali bukan Batak. Demikianlah, istilah 
Batak kini mengacu kepada Batak Toba. Jadi, dalam pembica-raan awam, orang 
Batak adalah orang Batak Toba, bukan Batak yang lain." (Kompas, Selasa, 2 Juli 
2002)
Salah satu entitas diantara 'Batta Cannibal States' adalah Karo, satu suku 
bangsa peninggalan entitas Haru state, sekarang terpencar atau terpusat sekitar 
Sumtim, Dairi Karo, Aceh Tenggara dan Langkat. Satu entitas struktur budaya dan 
kultur tak terpisahkan dari existensi sejarah budaya dan kulturnya serta 
filsafat hidupnya, dari way of thinking yang sangat dialektis sebagai tempat 
lahir pertama dialektika dalam kehidupan (pikiran) dan dalam hubungan dengan 
alam. 
MUG
 


    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke