Jumat, 30/07/2010 18:04 WIB
Kolom Didik Supriyanto
Politisi Bermental Bandit dan Artis
Didik Supriyanto – detikNews
Jakarta - Ketika Mahkamah Konstitusi memutuskan formula calon terpilih dengan 
suara terbanyak untuk Pemilu 2009, akhir Desember 2008, dalam kolom ini saya 
menyambutnya dengan judul: Selamat Datang Bandit dan Artis. Dengan judul itu, 
saya hendak menegaskan, sistem pemilu baru hanya akan menghasilkan DPR yang 
diisi oleh para bandit dan artis. 

Bandit adalah orang-orang yang merasa terhormat, namun sesungguhnya memiliki 
karakter jahat. Mereka kaya harta dan atau punya kuasa, sehingga ditakuti. 
Sangat mungkin mereka sering melakukan tindakan kriminal, tapi tidak ketahuan. 
Mereka tokoh, yang dengan harta dan kuasa, mudah meraup suara dalam pemilu.

Sedang artis adalah orang-orang terkenal karena aktif di panggung hiburan. 
Meskipun kemampuan seninya kadang terbatas, mereka cukup dikenal oleh 
masyarakat. Popularitasnya lebih banyak ditopang oleh televisi. Sama dengan 
bandit, di antara para artis memang ada yang punya minat politik, namun 
sebagian besar hanya memanfaatkan peluang pemilu saja.

Perkiraan saya tidak terlalu salah. Tidak semua anggota DPR terpilih hasil 
Pemilu 1999 berkarakter bandit dan artis. Namun kita menyaksikan, dari 70-an 
persen muka baru, kita menemui nama-nama asing; tak dikenal secara nasional, 
tapi sangat berpengaruh di lokal. Atau sebaliknya, namanya populer di seantero 
Nusantara, tetapi kita tidak tahu apa aktivitas sosial politiknya selama ini. 

Dengan karakter anggota Dewan seperti itu, maka sebetulnya kita tidak perlu 
heran apabila pada tahun pertama keanggotaannya sudah kelihatan betapa buruk 
kinerjanya. Bayangkan saja, untuk rapat paripurna yang dilakukan pada awal dan 
akhir masa persidangan (rata-rata tiga bulan sekali) saja, mereka banyak 
membolos, apalagi untuk rapat-rapat lain yang jarang terpublikasi.

Beberapa pembolos berkoar, meskipun dirinya sering membolos dalam rapat 
peripurna, tapi mereka mengaku aktif dalam rapat komisi, rapat pansus, rapat 
panja atau rapat-rapat Dewan yang lain. Tetapi percayalah, jika data-data 
kehadiran rapat-rapat khusus itu dibuka, mereka akan kecele. Pada rapat-rapat 
khusus tersebut, pembolosnya justru lebih banyak. 

Karena aktivitas pokok anggota Dewan adalah rapat, maka ketika banyak anggota 
yang membolos dalam rapat, dengan sendirinya fungsi-fungsi dewan tidak 
berjalan. Lihatlah, fungsi legislasi sangat rendah. Nyaris tidak ada 
undang-undang penting yang disahkan. Jika pun ada, itu lebih merupakan 
melanjutkan pekerjaan DPR sebelumnya. 

Fungsi anggaran DPR periode ini melihatkan dua fenomena menggelikan: pertama, 
menyetujui apa saja yang dikehendaki pemerintah, dan; kedua, sebagai imbal 
baliknya, mereka meningkatkan anggaran internal, mulai dari membangun gedung 
megah, meningkatkan studi banding ke luar negeri, hingga menambah tetek bengek 
kebutuhan lain.

Fungsi pengawasan tampak hebat, ketika mereka mengusut skandal Bank Century. 
Namun dalam prosesnya kemudian, rapat-rapat Pansus Bank Century tampak sebagai 
sandiwara belaka. Sikap kritis dan daya dobrak anggota Dewan tidak berbuah 
apa-apa, karena tujuan mereka bukan mengungkap skandal, melainkan menaikkan 
daya tawar untuk menambah harta dan kuasa.

Adakah jalan atau cara agar anggota Dewan lebih bertanggung jawab atas 
fungsinya sebagai wakil rakyat? Beberapa usulan disampaikan, mulai dari 
menerapkan presensi dengan mesin pemindai, mengurangi gaji atau honor, hingga 
melaporkan ke Badan Kehormatan. 

Tetapi percayalah, usulan-usulan tersebut jika diterapkan tidak akan berarti 
apa-apa bagi kinerja Dewan. Sebab ini bukan soal teknis administratif, bukan 
juga soal keuangan, tetapi soal mental.

Lihatlah, sudah jelas MA memvonis bersalah, tetap saja anggota Dewan itu merasa 
tidak bersalah, sehingga lebih suka lari ke sana ke mari menjadi buron. Lihat 
juga, sudah tahu pekerjaan Dewan itu seabrek-abrek, tapi masih ada anggota 
Dewan yang sibuk show ke sana ke mari. 

Didik Supriyanto adalah wartawan detikcom. Tulisan ini tidak mewakili kebijakan 
perusahaan/redaksi.

(diks/nrl)

Kirim email ke