Mjj,

Lebih baik ATHEIS akan tetapi menghargai martabat mnausia yang plural, daripada 
mengaku negara BERTUHAN akan tetapi tidak menghargai sesamanya dan korupt 
dimanamana.

Apa arti kelembutan perlindungan yang tertuang dalam undang-undang dan 
peraturan hukum lainya, kalau toch TANGAN_TANGAN berbilah pisau yang menyapa 
kemajemukan.

Apa arti sudara sebangsa dan setanah air, kalau kaum minor seperti imigran 
gelap ( imigran gelap aja diurus),,,,,,

Negara biarlah menjadi Negara, hendaknya tidak menjadi AGAMA.  Selagi agama 
ingin menggantikan NEGARA, kacau kacau dan kacau.
Mejuah juah

Joni Hendra Tarigan

--- On Sun, 8/8/10, perjuma cina <[email protected]> wrote:

From: perjuma cina <[email protected]>
Subject: [tanahkaro] Re: [komunitaskaro] massa menyerang jemaat HKBP
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Sunday, August 8, 2010, 6:09 AM







 



  


    
      
      
      












Sebegitu susah kah membangun tempat ibadah di negara kita tercinta ini yang 
katanya bhineka tunggal ika, yang mendukung nilai perbedaan keyakinan untuk 
"kita" yang diklaim minoritas? 
Ya.... Inilah Indonesia... .


Pinem Mergana Batam Nari
Sent from perjumaBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSATFrom:  MU Ginting 
<gintin...@yahoo. se>
Sender:  komunitaskaro@ yahoogroups. com
Date: Sun, 8 Aug 2010 13:02:09 +0000 (GMT)To: <tanahk...@yahoogrou ps.com>; 
<forumk...@yahoogrou ps.com>; <komunitaskaro@ yahoogroups. com>ReplyTo:  
komunitaskaro@ yahoogroups. com
Subject: [komunitaskaro] massa menyerang jemaat HKBP

 



    
      
      
      Minggu, 08/08/2010 18:37 WIB
Insiden Penyerangan Jemaat HKBP
Setara Institute Desak Polisi Bertindak Tegas Hentikan Kekerasan
Irwan Nugroho – detikNews 
Jakarta - Setara Institute menyesalkan terjadinya aksi penyerangan kepada 
jemaat HKBP di Pondok Timur, Bekasi, Jawa Barat, pagi tadi. Polisi diminta 
bertindak tegas dalam menghentikan aksi kekerasan tersebut.

"Polri harus menghentikan aksi anarkis massa dan memberikan perlindungan penuh 
pada setiap kegiatan ibadah," kata Manajer Program Setara, Ismail Hasani, dalam 
rilis yang diterima detikcom, Minggu (8/8/2010).

Menurut Ismail, saat terjadi pengejaran dan pemukulan terhadap jemaat HKBP, 
polisi tidak memberikan perlindungan yang memadai. Dengan jumlah 100-an aparat 
di bawah komando Kapolresta Bekasi, semestinya polisi mampu menghalau serangan 
massa
 yang berjumlah sekitar 150-an orang.

"Tidak ada alasan bahwa aparat tidak mencukupi dalam peristiwa ini. Yang jelas 
pendeta dan sekitar 11 jemaat mendapati serangan dalam bentuk pemukulan dan 
pengejaran dari warga," katanya.

Ismail mengaku heran bagaimana mungkin penyelenggara negara tunduk pada 
penghakiman massa kecil yang anarkis dan membiarkan warga negara tidak bisa 
melakukan ibadah. Hukum harus bekerja dan memaksa setiap orang yang melakukan 
kekerasan ditindak sehingga menimbulkan efek jera.

"Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus memerintahkan Kapolri untuk menindak 
tegas serangan dalam kelompok massa yang telah berulang kali melakukan 
kekerasan di Bekasi," imbaunya.
(irw/fay)


    
     

    










    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke