"Perspektif Demokrasi Etnis, kelihatannya juga mujarab sebagai pintu masuk guna 
gerak laju kemakmuran suatu suku bangsa. Apalagi bila diracik dengan statuta 
kearifan lokal." (MJS). 
Diracik dengan kearifan lokal, salah satu keharusan yang mungkin, atau dpl 
memanfaatkan potensi lokal kultural. Sering juga terdengar  jargon 
"melestarikan budaya". Ijenda lanai jadi jargon tapi ibas kenyataan praktis. 
Uga carana? Penduduk lokal lebih pandai njawabsa. Potensi didalam pengalaman 
lokal (tradisional) dimanfaatkan dalam kenyataan, tidak dalam jargon elit 
politik. Pemimpin yang tak punya dasar kearifan lokal ini akan lebih sulit, 
tetapi bukan tak bisa. 
Teringet ka aku fenomena "Karo jadi Ketua" si enggo mekatep ka ku singetken. 
Ijenda kalak minoritas jadi ketua. Piga-piga organisasi orang Batak di Jawa 
ketuana kalak Karo, maon sada dua kibul ngenca je kalak Karo. Tujuanna jenda 
jelas. Tapi uga adi i Karo? Kai tujuanna? 
Maka persoalenna tetap nge uga memanfaatkan maksimal potensi lokal kultural 
adah ndai. Kekuaten terjilen asangken kekuatan kultural lokal la lit. 
Memanfaatkan potensial menusia dari segi kemanusiaannya sendiri, budayanya, way 
of thinkingna, tradisina, kebiasaan kerjasamanya secara lokal. Semua daerah 
kultural seluruh Indonesia bikin yang sama, potensi kultural lokal. 
Perkembangan pasti lain, make different. Perkembangan demokrasi etnis enda la 
lit batasna. Akal sehat bas kita nari (minoritas) dasarna, bas kalak mayoritas 
nari berangsur nge kari turah simpatina, sebab enda la terpisahken ras 
keadilan, atau perjuangan untuk keadilan. 
Kalak Batak lebih dinamis, cepat memahami kebutuhan perkembangan.Sura-sura 
Protap lanai teraguken. Kalak Mandailing akhirnya bisa nyambung juga, teridah 
bas jalan akhirna erbahan Sumtra enca usaha sekaratna jadi raja turun-temurun 
Sumut jelas lanai mungkin. Kalak Melayu bisa melihat perkembangan dan 
mengikutinya perlahan tapi pasti, sebagian ke Sumtim, sebagian lagi ke Aslab. 
Kalak Simalungun bisa melihat angin dan punya pendirian jelas, mau ikut Sumtim 
dibandingkan Protap. Kalak Pakpak lincah dan butuh waktu lebih banyak, mau ikut 
Sumtim atau Singkil di ALA, dan jumlahnya sangat minoritas. Kalak Karo enggo 
teridah dialektis, ertina banci maklum "seh sura-sura tangkel sinanggel". 
Propinsi Karo jadi sura-sura, gia enggo siap ka nangkeli sinanggelna. Maka 
semua kita secara pribadi maupun secara etnis "sedang bergumul" (MJS) dalam 
mencapai semaksimal mungkin 'sura-sura', tetapi 'demokrasi etnis' sudah dalam 
bayangan yang semakin nyata disemua daerah.    
Enda ka sitik tambahenku
Bujur
MUG

--- In [email protected], medi sembiring <medy_sembir...@...> 
Re : Demokrasi Etnis - Pilkada Kab. Karo 2010 

Menarik ma (MUG).  Perspektif Demokrasi Etnis, kelihatannya juga mujarab 
sebagai pintu masuk guna gerak laju kemakmuran suatu suku bangsa. Apalagi bila 
diracik dengan statuta kearifan lokal.  Selain itu, juga untuk meminimalisir 
ruang gerak nekolim/neo imperialism. 

Meski tidak jarang pula, Demokrasi Etnis ini sering  dibenturkan dengan 
nasionalisme semu atau Bhineka Tunggal Ika yang diwariskan secara abstrak . 
Sehingga, ini menjadi alat rasionalisasi, yang melegitimasi kepemimpinan lokal  
bukan dari etnis lokal itu sendiri. Saya pribadi sedang bergumul
 
Debat ‘sengit’ sering berlangsung belakangan ini di lapangan, khususnya,  
bila pembicaraan bersentuhan dengan Pemilukada Kab. Karo 2010. 

Contoh kasus : 

Pilkada Kab. Karo yang jatuh tempo 27 Oktober 2010, kemungkinan akan diikuti 
9-10 orang calon defenitif (kabarnya, informasi resmi  dari KPUD Kab. Karo 
diumumkan 23/08)

Dari 9-10 calon ini, 2 kontestan diantaranya, bukanlah dari kalangan si lima 
merga yang ada di zazirah Karo. Satu dari kontestan tersebut kemungkinan besar 
akan terus melaju menjadi calon defenitif, karena diusung PDI Perjuangan, yang 
memiliki 7 kursi. 

Melihat potensi banyaknya calon defenitif, dan membaca metode konsolidasi opini 
serta konsolidasi pemilih yang mereka lakukan, maka bila dibandingkan dengan 
estimasi pemilih, besar kemungkinan mereka menang dalam satu putaran. 
 
Ada 3 buah pikiran yang sering terlontar :
 
1. Nasionalisme 
2. Mungkin kita (Karo) biarkan sekali kita dipimpin saudara kita yang dari 
etnis lain. Barangkali dengan demikian Kab. Karo akan semakin membaik (nada 
kalimat ini masih spekulasi, tidak ada jaminan 100 % persen akan pasti lebih 
baik)
3. Kesannya, tidak ada lagi orang Karo yang mampu membenahi kampong halamannya 
sendiri
 
Salam si entebu man banta kerina,
Tetap semangat walau masih ¼ merdeka !
 MJS
 
On Mon, 8/16/10, gintingmu <gintin...@...> wrote:

From: gintingmu <gintin...@...>
Subject: [tanahkaro] Re: Re : "Demokrasi Produktif"
To: [email protected]
Date: Monday, August 16, 2010, 3:35 PM

Mejuah-juah ka kerina permilis sirulo
Banci nge kuakap sterusken bual-bualta soal demokrasi enda, bagenda enggo 
imulai MJS. Bancika nge kari je nari rempet si dat ka pemeteh simbaru soal 
perkembangan demokrasi enda, perkembangan si mbue nentuken nasibta sebagai Karo 
bagepe Indonesia sebagai sada nation. 'Demokrasi etnis' bagi sipernah ka 
kupostingken sebagai contoh misal Sumtim sebagai sada propinsi: 
"Untuk Sumtim saya pernah usul perwakilan sbb: 10 Karo, 10 Melayu DeLang, 10 
Simalungun, 10 Pujakesuma, 10 etnis-etnis lain, tanpa melihat jumlah 
masing-masing etnis. Mereka (wakil-wakil) ini dikenal secara tradisi dan 
kultural oleh etnisnya, diuji dan dipilih oleh masing-masing etnisnya 
(demokrasi etnis). Mereka ini nanti akan memilih Gubernur Sumtim. Suara sama 
besar, hanya yang dikenal dan diketahui terbijak dan ter'wise' akan terpilih. 
Wakil-wakil maupun Gubernur bisa di recall oleh tiap etnis atas dasar 
musyawarah etnis atau semacamnya." 
(Thu Mar 23, 2006 6:37 pm, milis komunitaskaro)

"Demokrasi Gelombang ke 3", ku gelari ka mbarenda sekali, mbedaken ras 
demokrasi gelombang pertama, demokrasi langsung i Yunani, encage gelombang ke 
2, demokrasi si lit ngayak gundari ibas berbagai bentukna gia kerina dasarna 
demokrasi liberal barat. Umumna demokrasi perwakilan (parlemen), janah 'suara 
terbanyak', ije etnis minoritas sampai kiamat dunia tak pernah bersuara atau 
tak pernah menang. Penterapan demokrasi liberal enda bas negeri nulti etnis 
enggo jelas malapetaka, puluhan juta korban. Tapi siterusken denga sebab lenga 
lit gantina. 'suara mayoritas' ndai la mungkin reh bas minoritas nari, karena 
itu sampai kiamat dunia tak pernah bersuara. DPD Sumut sejak semula mewakili 
kalak mayoritas saja (100% Tapanuli). Seribu kali lagi pemilihan tetap akan 
masih sama hasilnya, artinya 5x1000 atau 5000 th lagi masih sama selama 
etnis-etnis masih ada. 
'Demokrasi etnis' sada bentuk pengganti si mungkin, bertitik tolak dari jutaan 
kematian akibat perang etnis (perang perbedaan kultur) terdapat seluruh dunia 
dan masih jalan sampai sekarang. Demokrasi enda banci ikembangken terus menurut 
akal sehat, terutama dari segi minoritas. Dari segi mayoritas tak mungkin 
terjadi. Perjuangan keadilan hanya bisa diselesaiakan oleh manusia yang 
diperlakukan tidak adil. Karena itu dari bawah, dari daerah, ke nation, ke 
dunia. 
Enda ka sitik tambahenku
Bujur
MUG

--- In [email protected], medi sembiring <medy_sembir...@...> wrote:
Lit sejumlah pemikiren-pemikiren mentas tambahenna ma (MUG)

1. Mungkin Anas melihat, Demokrasi Pancasila tidak lagi relevan dengan situasi 
masa kini di Indonesia
2. Sebagai tokoh politik, Anas membutuhkan jargon sesuai porsi dan posisinya 
saat ini.
3. Semanis apapun jargon/praktek demokrasi yang diinisiasi sebuah rezim, bila 
tidak ditopang kemakmuran ekonomi, maka lambat laun rakyat akan menggugatnya
4. Soal politik uang, mungkin ini erat kaitannya dengan kadar pendidikan, 
ekonomi dan terutama kadar spiritualitas orang/kelompok yang bersangkutan
5. Bisa jadi juga, Demokrasi Produktif yang dilontarkan Anas tersebut, 
merupakan pintu masuk menuju wellfare-state, sebagaimana kebijakan sosial - 
ekonomi Swedia, yang berhasil menyeimbangkan antara generosity kebijakan sosial 
dan competitivenes perekonomian. Payo nge ndia bage ijena ma .. . . ? Besar 
kemungkinan, konsep Anas ini merupakan duplikasi dari sistem yang telah ada, 
namun "dibumbui" dengan sejumlah inovasi.
6. Pada suatu kesempatan nanti ma, ingin saya berbincang-bincang denganndu, 
perihal Demokrasi Etnis dan Kepemimpinan Lokal. Mumpung bisa On Line dengan 
designernya...ha.ha.ha.ha.

Ada lagi sejumlah percikan-percikan informasi sampai di sini. Katanya, di 
Amerika hukumnya berjalan dan melakukan kontrol terhadap korupsi. Sehingga, 
korupsi terjadi dengan lebih canggih, terutama di tingkat atas. Sementara, di 
level bawah, kontrol masyarakat sangat kuat. 

Salam akhir pekan buat kita semua

MJS

--- On Wed, 8/11/10, gintingmu <gintin...@...> wrote:

From: gintingmu <gintin...@...>
Subject: [komunitaskaro] Re: "Demokrasi Produktif"
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 11, 2010, 1:55 PM

Re: "Demokrasi Produktif" 

Mejuah-juah permilis sirulo kerina
Si imulai Medi enda, banci ka kuakap jadi sada tema diskusi aktual man banta 
permilis. Soal 'demokrasi produktif', demokrasi sosial, dan demokrasi liberal 
Barat, atau banci kang itambahi salu 'demokrasi etnis' karangan MUG hehehe . . .
Lenga terbetteh luas uga situhuna 'demokrasi produktif' Anas enda. Tapi 
tersinget ia sada masalah perusak demokrasi emkap 'politik uang'. Anas 
ngarapken nadingken politik uang enda. Melala ka nge banci itulis teorina, tapi 
praktisna uga maka kalak Indoanesia nadingken politik uang enda, la lit si 
mettehsa. Lit kang si meruntus, tembak mati nina. Tapi i China tiap uari 
itembaki, la
keri-keri atau la berkurang, gia sangana era komunisme Mao la pernah terbegi 
kalak korupsi. Hukuman 'ratusan tahun' atau hukuman mati di USA, tetap muat 
lalana kang si jadi jahat. La kin erbahan kemamangen ngenda? Lenga kin lit 
analisa si menyinggung persoalen dasarna? Sebab utamana?
Tapi kai gia ningen percobaan Anas mengkedepankan idenya jadi diskusi orang 
banyak, pasti tidak merugikan. Dari bantah membantah akan mungkin muncul yang 
baru, tak terduga bagi semua pihak. Gagasan apa saja juga diuji disitu. Bas 
milis enda pe inganna kang.
Enda ka sitik tambahenku
Bujur
MUG

--- In [email protected], medi sembiring <medy_sembir...@...> wrote:

Re: "Demokrasi Produktif"

Masih agak kabur konsep Demokrasi Produktif yang ditawarkan Ketua Umum Partai 
Demokrat ini. Sehingga, masih sangat diragukan, jikalau konsepnya ini sanggup 
menjadi Jalan Akhir Menuju Pembebasan Rakyat Indonesia. Baik secara lokal 
maupun nasional.

Atau, yang dia maksud dengan Demokrasi Produktif adalah bahasa lain dari 
Demokrasi Sosial sebagai Peta Jalan Penghapusan Kemiskinan....?

Bukan berarti saya bermaksud mengatakan kalau Anas menjiplak (sebagian besar ) 
dari Platform Demokrasi Sosial. Barangkali ada aron yang berkenan memberi 
pencerahan lebih mendalam perihal uraian Ketum Demokrat tersebut.... Bujur

Salam

Dirgahayu Indonesia

MJS

Minggu, 08/08/2010 14:55 WIB
Anas Tawarkan Konsep Demokrasi Produktif di Indonesia

Muhammad Nur Hayid â€" detikNews

Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum terus membangun kapasitas
intelektual dan gagasannya di sela-sela menjalankan tugas konsolidasi parpol.
Anas terus melebarkan sayap dengan berkeliling ke seluruh Indonesia untuk
membenahi partainya sambil mengkampanyekan demokrasi produktif yang digagasnya.
"Demokrasi yang kita bangun saat ini sudah berjalan pada rel yang tepat. Dalam
penerapan demokrasi yang ada sekarang hanya banyak menguntungkan elit-elit
nasional dan daerah, belum sepenuhnya dirasakan rakyat. Oleh karena itu, saya
menawarkan konsep demokrasi produktif," kata Anas.
Hal itu disampaikan Anas kepada detikcom, Minggu (8/8/2010). Anas menawarkan
gagasan barunya itu saat memberikan pidato politik dalam acara Rapat Senat
Terbuka dalam rangka wisuda mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),
Malang, Jawa Timur, kemarin.
Menurut tokoh muda potensial ini, gagasan demokrasi produktif itu tidak lahir
secara tiba-tiba. Gagasan ini muncul dari situasi sosial dan politik yang masih
tidak memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi stakeholder demokrasi, yaitu
rakyat. Sebab, selama ini insentif demokrasi hanya dirasakan oleh para pelaku
politik dan lingkungannya.
"Gagasan ini ingin memastikan bahwa seluruh insentif demokrasi bisa dirasakan
oleh seluruh rakyat. Caranya, lewat kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah
daerah yang bisa menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Sebaliknya
demokrasi bisa meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas harmoni 
antarmasyrakat, " tegas Anas yang disambut tepuk tangan hadirin.
Menurut dia, otokritik parpol di Indonesia mutlak diperlukan jika ingin
kehidupan berpartai di negeri ini menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi rakyat.
Selain itu, para politisi dan publik juga harus mendorong budaya fairness dan
suportivitas dalam berkompetisi. Sebab, tanpa ada penghargaan pada aturan main,
konsep demokrasi yang dibangun hanya akan menguntungkan elit-elit politik saja.
"Kalau partai politik ingin mendorong hadirnya karakter sportif, maka politisi
juga harus menghadirkan sportivitas dalam praktek politiknya. Salah satu
contohnya keberanian mengakui kekalahan. Karena pasca kompetisi yang dibutuhkan
kooperasi," tegas Anas.
Anas mengajak para politisi dan elit negeri ini mencontoh gaya berpolitik dan
berdemokrasi seperti Barrack Obama dan Hillary Clinton. Betapa pun dahsyatnya
kompetisi antar kedua tokoh Amerika Serikat (AS) itu, tetapi pada titik
tertentu, Obama dan Hillary bisa satu gerbong untuk mewujudkan kepentingan
kolektif yang lebih besar.
"Kompetisi Hillary dan Obama sangat keras, bahkan pada batas-batas tertentu
sampai pada urusan pribadi. Tapi ketika hasil konvensi diumumkan, Hillary bisa
menerima kekalahan dan malah menjadi pendukung utama Obama. Hillary bukan saja
mengakui kekalahan, tapi sekaligus memberi dukungan penuh pada kampanye Presiden
Obama," tegasnya.
Dalam kesempatan ini, Anas juga menyinggung soal maraknya tradisi konflik
internal partai dan konflik horizontal akibat agenda politik seperti pemilukada.
Cara-cara seperti itu harus dihentikan jika masih ingin membangun demokrasi yang
bermartabat.
"Tradisi ngamuk itu harus dijauhkan. Tidak semua partai politik bisa melewati
ujian itu dengan baik. Bahkan mereka tidak bisa menghidupkan tradisi demokrasi
di dalam internalnya itu," terangnya.
(yid/irw)


 




Kirim email ke