Kebetulan, kemarin mampir di salah satu posko di Kabanjahe; nampaknya yang 
dikhawatirkan masyarakat adalah kehidupan sepulang dari pengungsian saat ini.

Ajakan Pak Rophian Sembiring, sebenarnya dalam. Bukan sekedar memberikan 
makan-minum bagi petugas pengamanan, namun memberikan dan menyerahkan jaminan 
atas keselamatan aset penduduk yang ditinggalkan di kampungnya. Maksudnya agar 
aparat sepenuh hati dan ikhlas menjaga dan mengamankan aset2 tersebut.

Mudah-mudahan Pemda bisa menjawab 2 hal di atas secara profesional dan 
proporsional

Semoga semua lebih baik...

Bujur...





________________________________
From: Alexander Firdaust <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Sent: Mon, September 6, 2010 8:42:06 PM
Subject: [komunitaskaro] DPRDSU kecam Pemkab Tanah Karo

  
MEDAN - Anggota DPRD Sumut, Taufan Agung Ginting, mengecam keteledoran  unsur 
Pemkab Tanah Karo, termasuk bupati, Daulat Daniel Sinulingga  dalam  menangani 
bencana Gunung Sinabung, sehingga mengakibatkan 35.000  pengungsi yang tersebar 
di sejumlah kecamatan tercerai-berai.

“Ini  sudah yang kedua kali pengungsi dibuat kucar-kacir dan terpisah dari  
keluarganya akibat keteledoran bupati Tanah Karo dan jajarannya,” jelas  
Taufan, 
pagi ini.

Menurut politisi Partai Demokrasi Indonesia  Perjuangan  (PDIP) ini, pihaknya 
menyesalkan kebijakan bupati Tanah Karo  yang menghimbau para camat agar 
memerintahkan para pengungsi yang  terdapat di 35 titik segera kembali ke 
rumah, 
karena situasinya sudah  aman.

“Itu saya tanyakan langsung dan dijawab camat Kabanjahe,  Lian Karo-karo. 
Namun, 
ketika saya tanyakan mana surat dari bupati, yang  bersangkutan tidak bisa 
memperlihatkannya,” beber anggota dewan dari  daerah pemilihan Tanah Karo itu.

Harusnya, tandas anggota Komisi B  ini, himbauan itu disertai keterangan para 
ahli gunung api agar  masyarakat tidak ragu-ragu.  “Yang pertama, himbauan 
beberapa hari  setelah gunung Sibanung meletus tidak efektif, karena terjadi 
lagi  letusan susulan,” katanya.

Kini himbauan itu, menurutnya, tidak  memberi rasa nyaman, karena Gunung 
Sinabung yang pertama meletus akhir  Agustus lalu, kembali memuntahkan lava 
pada 
Jumat (3/9) sekitar  pukul  04.40 WIB.

Akibatnya, para pengungsi tunggang langgang mencari  tempat aman. “Mereka jadi 
tercerai-berai dari keluarga mereka, berlarian  entah ke mana,” tukas Taufan 
yang baru saja kembali dari lokasi  bencana.

Sehingga, sulit dikontrol lagi penanganan terhadap para  sekitar 35.000 
pengungsi yang terdapat di sejumlah kecamatan, seperti  Kabanjahe, Berastagi, 
Tiga Binanga, Kuta Buluh dan Sei  Bingai.

Taufan  juga melihat banyak kekurangan dan langkah yang harus diambil terkait  
nasib pengungsi yang masih menunggu uluran bantuan. Misalnya, update  data 
pengungsi terkini, yang menurut Taufan tidak tersedia di posko  pengungsian. 


Kemudian, terjadi penumpukan bantuan yang tidak  tersalurkan. Sehingga ada 
donatur yang langsung menyampaikan kepada para  pengungsi. "Ini kan sudah ada 
semacam ketidakpercayaan terhadap Pemkab  Tanah Karo," pungkasnya.

Selanjutnya, tidak tersedianya tenaga  dokter untuk menangani pengungsi yang 
mungkin butuh penanganan medis.  “Yang ada hanya perawat. Karenanya, kita 
berharap Dinkes Sumut  menurunkan dokter dan tim medis menangani pengungsi,” 
paparnya.

Selain  itu, lanjutnya, saat ini para pengungsi membutuhkan selimut dan  
obat-obatan, karena peralatan ini digunakan sehari-hari di tenda  pengungsian. 
Terkait pengamanan, Taufan meminta Kapolda dan Pangdam I/BB  untuk menambah 
personil guna mengamankan harta benda pengungsi dan  warga dari pencurian.

Sumber:http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=141280:dprdsu-kecam-pemkab-tanah-karo&catid=14:medan&Itemid=27


Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community
 

 


      

Kirim email ke