Sepengetahuan saya pengamanan tanpa security check di bandara hanya berlaku kepada Presiden dan Wakil Presiden. CMIIW. Entah kepada keluarganya..
________________________________ From: Tenang Ginting <[email protected]> To: "[email protected]" <[email protected]> Sent: Wed, September 8, 2010 8:20:50 AM Subject: RE: [tanahkaro] Re: menunggu anak presiden, Garuda terlambat Bukannya keluarga seorang peresiden memang begitu standard pengamannya? Kalau itu sudah standard baku saya rasa tidak masalah dikawal oleh 6 orang dengan senjata lengkap. Perlu pencerahan. Kalau masalah keterlambatan gara-gara menunggu mereka para penumpang punya hak komplain ke Garuda, karena mereka punya hak. Bujur ras MJJ Ginting’s Anak Berastepu ________________________________ From:gintingmu [mailto:[email protected]] Sent: 08 September 2010 2:29 To: [email protected] Subject: [tanahkaro] Re: menunggu anak presiden, Garuda terlambat 6 orang pengawal bersenjata lengkap, mengawal seorang Ibas, wah wah . . . datang terlambat. Yang lainnya seluruh penumpang pesawat menunggu 'dengan sabar'. 1. 'takut sama rakyat?' kata Bang KT. Pastilah ada diantara rakyat yang ditakuti atau setidaknya tidak dipercayai. Pengawal 6 orang dengan senjata lengkap bikin aman, atau setidaknya bikin hati lebih aman dan nyaman sedikit. Soal keamanan ini pastilah sudah dianalisa oleh panglima tertinggi, kemungkinan ketidakamanan sang putra. Dan analisanya tidak akan dibocorkan kepada siapapun. Keamanan diatas segala-galanya . . . TEntu masih bisa didiskusikan apakah ini menyangkut keamanan negara atau negeri. 2. dari segi bertentangan (dialectics). Yang menunggu kontra yang ditunggu. Sekiranya masalahnya begitu besar menyangkut keamanan negara atau negeri, analisa dari segi ini tentu bisa disisihkan, demi mengingat 'first thing first' atau 'kontradiksi pokok' atau 'the main contradiction' among all contradictions. Atau persoalan utama diantara semua persoalan. Persoalan adalah kontradiksi, karena tidak ada persoalan tanpa kontradiksi, tanpa segi-segi bertentangan didalamnya. Bagaimana menganalisa dasar dan sebab pertentangan itu dan mencari penyelesaian yang tepat, itulah namanya penyelesaian secara dialektis. Atau dpl mencari balans diantara semua pertentangan itu, atau ada juga yang menyebutkan mencari keseimbangan, mencari keharmonisan dsb. Semuanya itu karena ada yang bertentangan atau kontradiksi. Yang menunggu sipesawat capek dan kesal. Yang ditunggu bisa merasa bangga dan bisa juga tinggi hatinya (tidak harus). Saya teringat orang Karo dengan watak tipikalnya, pasti tidak merasa enak kalau ditunggu. Tetapi orang Karo juga pasti kesal kalau menunggu seperti penumpang Garuda diatas. Itulah orang Karo spesifiknya. Yang lain lebih memilih ditunggu, dan ada juga yang memilih lebih enak menunggu daripada ditunggu. Macam-macamlah. Tergantung sifat/watak tiap orang atau tiap etnis atau kultur. Dalam kultur feodal, bawahan lebih suka menunggu, atasan lebih suka ditunggu atau bahkan sering keharusan datang belakangan. Agaknya tidak semua yang dipesawat dari kultur feodal . . . Salam kontradiksi (sipanjang-punjuten) MUG --- In [email protected], kontan tarigan <kontan_tari...@...> wrote: Mengapa mesti dikawal oleh pengawal yang bersenjata lengkap? Apa mereka takut sama rakyat? Bang KT ---------------------------------------------------------- From: MU Ginting <gintin...@...> To: [email protected]; [email protected]; [email protected] Sent: Tue, September 7, 2010 6:54:18 PM Subject: [tanahkaro] menunggu anak presiden, Garuda terlambat Selasa, 07/09/2010 14:23 WIB Pesawat Garuda Ngaret 20 Menit Gara-gara Tunggu Anak SBY Ken Yunita â€" detikNews Jakarta - Pesawat Garuda Indonesia GA 239 ngaret 3 menit gara-gara menunggu Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan. Sehari sebelumnya, pesawat Garuda GA 222 jurusan Jakarta - Solo juga molor terbang. Bahkan 20 menit. Kali ini, gara-gara rombongan anak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Edhi Bhaskoro yang akrab disapa Ibas. Peristiwa itu terjadi di Bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu 4 September 2010. Seorang penumpang pesawat tersebut, sebut saja Hendro, menceritakan kepada detikcom, Selasa (7/9/2010). Menurut Hendro, pesawat itu seharusnya terbang tepat pukul 09.30 WIB. Namun hingga jarum jam menunjuk waktu tersebut, pesawat tidak juga lepas landas. Para penumpang yang telah duduk manis di kursinya mulai bertanya-tanya. "Semua pada bisik-bisik, kenapa nggak terbang-terbang ya. Padahal kelihatannya kursi sudah terisi penuh," cerita Hendro. Beberapa penumpang bahkan sempat menduga ada gangguan teknis pada pesawat tersebut. Pertanyaan para penumpang pun akhirnya terjawab. Tak berapa lama setelah waktu yang dijadwalkan terbang, sang pilot mengumumkan sesuatu. Menurut Hendro, melalui pengeras suara, pilot mengatakan bahwa sebenarnya Garuda sudah siap untuk terbang namun masih ada penumpang yang ditunggu. Kasak-kusuk di antara penumpang pun kian ramai. Kali ini, para penumpang bertanya-tanya, siapa orang yang terlambat itu. Saat itu, keterlambatan sudah hampir 10 menit. Dan tak lama setelah itu, rombongan yang ditunggu akhirnya muncul. Sejumlah penumpang pun hanya memandang rombongan yang ternyata adalah anak SBY, Ibas, bersama enam orang pengawalnya. Ibas merupakan anggota DPR dan kini menjabat sebagai Sekjen DPP Partai Demokrat. "Pengawalnya pakai senjata lengkap, jadi semua orang melihat mereka," kata Hendro. Setelah Ibas duduk, pesawat belum juga terbang karena pengawalnya masih sibuk menyimpan dan merapikan senjata-senjatanya. Otomatis, pesawat makin molor. "Kita akhirnya baru terbang sekitar pukul 09.50 WIB. Lama banget terlambatnya, semua pada ngeluh tapi ya gimana," kata Hendro. (ken/nrl)
