2008/9/18 Arief Yudhawarman <[EMAIL PROTECTED]>:

> Bukan Mas Zaki, saya swasta kok :-).

Lhoh dikira kerja di Telkom, setelah membaca blog Mas Arief ;-)

> Pros:
> 1. Lebih enteng kerja modemnya jika cuma berfungsi sebagai bridge.
> 2. Server dapat alokasi ip public shg dapat menjalankan service yg dpt
>   diakses dr internet.
> 3. Realtime trafik monitoring.
>   Dulu saya buat script sendiri untuk hitung bandwidth terpakai - saat
>   itu pakai speedy limited - perbandingan dg hitungan speedy sekitar
>   2-5%.
> 4. Maintenance lebih mudah, kalo modemnya rusak tinggal ganti modem adsl
>   baru dan diset sbg bridge, jalan dah.
> 5. Rekan lain bisa nambahin deh
>
> Cons:
> 1. Susah untuk monitor secara visual apakah koneksi internet on / off,
> modem adsl yg diset sbg router mempunyai indikator lampu led internet /
> ppp yg menyala jika koneksi internet on, sedangkan modem adsl yg diset
> sbg bridge hanya 3 led yg nyala dari 4, power, lan, dan adsl.
> 2. Susah digabung alias multi speedy. Umumnya yg multi speedy alias
> banyak modem adsl speedy digabung jadi satu WAN menggunakan mode router
> semua. Di tempat warnet yg saya kelola pakai 4 modem speedy, 1 modem
> diset sebagai bridge dan 3 sebagai router. Jadi saya masih bisa remote
> masuk melalui modem bridge.
> 3. Script firewall lebih rumit. Saya biasa buat 2 script, kondisi saat
> internet off dan on.
> 4. Ada yg mau nambahin?

Koneksi bridge berbahaya karena komputer langsung terekspos ke
publik[1] (halaman 4).

-- 
Zaki Akhmad
[1]http://opensource.telkomspeedy.com/furusato/D-Link_DSL-2540T-2640T.pdf

-- 
FAQ milis di http://wiki.linux.or.id/FAQ_milis_tanya-jawab
Unsubscribe: kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info milis selengkapnya di http://linux.or.id/milis

Kirim email ke