| Assalamu'alaikum wr. wb.
| Sudah beberapa hari ini kok dari Mailist tasawuf tidak ada
| kiriman...
| Saya awam dalam ilmu tasawuf, jadi banyak bertanya daripada
| berkomentar, mohon penjelasan nih :
| 1. Apakah perbedaan antara syariat dan tarekat ?
| 2. Apakah untuk mencapai marifat dengan jalan tarekat ?
| 3. Apa yang dimaksud dengan maqam dalam ilmu tasawuf
Waalaikumussalam Wr. Wb.
Betul Mas Rifai, karena 2 minggu ini milis Tasawuf diistirahatkan, karena
selama ini terlalu banyak replikasi e-mail dan bouncing.
Dan sekarang Alhamdulillah sudah bisa kembali hadir. Semoga masalah
replikasi e-mail dan bouncing, dapat teratasi.
BEDA SYARIAT DENGAN TAREKAT
Tarekat asal katanya dari Thariqah. Yang artinya jalan. Lebih spesifik dalam
kasus beragama thariqah merupakan jalan dalam mendekatkan diri pada Allah.
Ilmu yang dipelajari dalam thariqah disebut ilmu Tasawuf. Seorang yang
menjalankan Tasawuf disebut Sufi.
Dalam menjalankan Tasawuf, dalam sebuah Thariqah ada seorang pembimbing
(guru) disebut Mursyid. Dan murid-muridnya disebut Salik (orang yang
berjalan).
Banyak thariqah dalam Tasawuf.
Yang banyak dikenal di Indonesia, diantaranya Thariqah Naqsabandiyah,
Qadiriyah, Tijaniyah, dsb.
Thariqah secara umum ada 2 jenis.
1. Thariqah Muktabarah (silsilah fisik guru-murid-guru) jelas sampai kepada
Rasulullah SAW.
2. Thariqah Tidak Muktabarah (silisilah fisik guru-murid-guru) tidak jelas
sampai kepada Rasulullah SAW.
Menurut hemat saya, Muktabarah atau Tidak Muktabarah bukan berarti Tidak
Sesat dan Sesat. Tetapi hal ini lebih merupakan kejelasan dan agar orang
yang mengikuti dapat lebih berhati-hati dalam mengikuti satu Thariqah.
Nah Ad-Diin itu dalam Al Qur'an terimplementasi atas 3, yaitu :
1. Iman - Iman
2. Amal - Islam
3. Shalih - Ihsan
Untuk belajar mengenai Iman dipelajari dalam Ilmu Tauhid,
Belajar mengenai Amal dipelajari di Ilmu Syariah,
dan belajar mengenai Shalih dipelajari di Ilmu Siir (Tasawuf).
Sehingga sering disebut Ilmu Syariah adalah Syariah Lahir dan Tasawuf adalah
Syariah batin.
Imam Al Ghazaly dalam buku terakhirnya yang berjudul Minhajul Abidin (banyak
diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia), mengatakan bahwa Ilmu yang Wajib
dituntut dalam kaitannya dengan hadits Nabi Muhammad SAW adalah 3 hal diatas
: Tauhid, Syariah, dan Siir. Dan tidaklah ilmu tsb wajib ditutut untuk
berargumentasi. Tetapi untuk perbaikan diri.
APAKAH MENCAPAI MAKRIFAT DENGAN TARIKAT
Dalam sebuah kata-kata hikmah, (bagi banyak ulama ini dikatakan sebagai
hadits Rasulullah SAW) bahwa :
Man Arofa Nafsahu faqod Arofa Rabbahu (Barang siapa mengenal Jiwa (Nafs)
nya, maka ia akan mengenal Tuhannya)
Dan Ali R.A mengatakan : Awaluddina Ma'rifatullah (Awalnya beragama
Ma'rifatullah)
Jadi dalam 2 keterangan tersebut dapat disimpulkan:
1. Awal bergama mengenal Allah
2. Mengenal Jiwa akan mengenal Allah
3. Awal bergama adalah mengenal jiwa
Jadi untuk mencapai ma'rifat sesungguhnya dengan mengenal Jiwa kita.
Namun permasalahannya jarang sekali ulama-ulama yang mengerti mengenai hal
ini. Bahkan dalam bukunya Ihya Ulumuddin Bab Ajaibul Qulub, Imam Al Ghazaly
mengatakan : "Ulama-ulama Masyhur saat ini sedikit sekali yang mengerti
permasalahan ini".
Itu zaman Imam Al Gahazaly, ratusan tahun yang lalu... Apatah lagi sekarang?
Permasalahan jiwa, lingkupnya banyak dibahas dalam Ilmu Siir (Tasawuf) bukan
di Tauhid ataupun di Syariah.
Semoga kita sempat unutuk mendiskusikan lebih jauh mengenai JIWA diwaktu
mendatang.
MAQAM DALAM ILMU TASAWUF
Maqam dalam Islam dan juga dalam Ilmu Tasawuf, mempunyai maksud sebagai
Tingkatan Keimanan.
Karena Iman ini bertingkat-tingkat (gradual)
(QS 48 :4) Allah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang
mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang
telah ada).Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana,
Kata-kata : supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang
telah ada), menunjukkan bahwa Iman tsb bertingkat-tingkat.
Hal ini diperjelas :
sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat. (QS. 84:19)
Tingkat keimanan (maqam) ini berbanding lurus dengan tingkat Jiwa seseorang.
Karena Tingkat Jiwa seseorang itu juga gradual (bertingkat-tingkat)
(QS 91:7) dan jiwa serta penyempurnaannya
Wallahu'alam
Imam Suhadi
---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]