Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Selamat atas establishment dari milis Tasawuf ini. Semoga dengan media ini, kita bisa saling berbagi pengalaman dan saling memberikan semangat untuk semakin meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT. Semoga Allah berkenan kepada usaha kita semua ini dalam upaya memperoleh ridha dan cintaNya. Amin. Dibawah ini saya sertakan sebuah artkel karangan Sdr. Arif Pradono yang saya ambil dari majalah Amanah beberapa tahun silam. Bagi yang memiliki waktu senggang dan kemudian membaca artikel di bawah ini, semoga bermanfaat bagi Anda. Insya Allah. Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh Rizki Herucakra ------------------------------------------------------------------------ --- TASAWUF, JASA YANG TERLUPAKAN Oleh Arif Pradono Tasawuf memang kontroversial. Sementara kaum pembaharu secara terus menerus mengatakan kaum sufi adalah orang-orang yang jumud. Para penganut tasawuf dikatakan dalam hal dunia tidak mau berpikir sehingga menghambat kemajuan mereka sendiri, dan pada umumnya kemajuan umat islam. Tambahan lagi, kaum sufi, menurut golongan modern ini, telah tenggelam dalam berbagai bentuk bid'ah dan khurafat. Memang, sekalipun sufisme mendasarkan ajaran-ajarannya pada Al Quran dan As Sunnah, khususnya dalam soal-soal doktrin, namun tidak dapat dipungkiri dalam perkembangannya ajaran ini telah kemasukan unsur-unsur asing seperti neoplatonisme, gnostisisme, paham inkarnasi dan bahkan animisme, pantheisme dan politheisme. Akibatnya, polemik mengenai Tasawuf hingga kini masih terus terjadi, karena berbagai apologia untuk membela tasawuf juga belum padam. Sebagaimana pernah dikatakan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa tasawuf kalau dikonkretkan ke dalam rangkaian ritualistik secara intensif memungkinkan adanya penyiraman jiwa dari kekeringan penghayatan iman atau kemiskinan batin, sehingga jiwa tidak mudah rapuh oleh tantangan kehidupan. Namun patut dipertanyakan, "HARUSKAH TASAWUF TERUS MENERUS DISALAHKAN SEBAGAI AJARAN YANG TELAH MENGHAMBAT KEMAJUAN ISLAM?" Sesungguhnya kita harus bisa bersikap jujur terhadap aliran ini. Sudah merupakan fakta sejarah bahwa sufisme memang pernah menderita penyimpangan dari sunnah, yang amat jauh. Tetapi pasti tidak adil pula memukul rata begitu saja dunia tasawuf sebagai penanggung jawab keseluruhan gejala penyimpangan itu. Dan juga TIDAK ADIL UNTUK MENGINGKARI BEGITU SAJA JASA-JASA YANG PERNAH DIBERIKAN OLEH KAUM SUFI KEPADA AGAMA ISLAM. Di kala kaum Muslimin mengalami kemunduran dalam hal politik dan militer, serta pada waktu mundurnya kegiatan intelektual Islam pada abad-abad ke 12 dan 13, gerakan-gerakan kaum sufilah yang memelihara jiwa keagamaan di kalangan kaum Muslimin. Mereka pula yang bersama-sama para pedagang menjadi juru tablig utama, menyebarkan Islam ke luar daerah Timur Tengah, termasuk Indonesia, dan ke pedalaman Afrika. Baru setelah itu tugas diteruskan dan diselesaikan oleh ulama-ulama ahli fiqih dan ahli kalam. Sehingga bukan kebetulan umat Islam Indonesia pada waktu itu lebih menekankan tasawuf dan amalan-amalannya (tarikat) dari pada teologi (Kalam) dan fiqih. Di antara pemimpin-pemimpin Islam di Indonesia pada masa tersebut, bukan ahli-ahli teologi (mtakallimun) dan ahli hukum (fuqaha) yang sangat dihormati, tetapi para guru tarikat atau para guru suluk. Menurut Prof. Dr. A. Mukti Ali, tersiarnya Islam di Indonesia terutama merupakan hasil pekerjaan kaum sufi yang dalam beberapa segi bersikap toleran terhadap adat kebiasaan yang hidup di suatu tempat walau sebenarnya belum tentu sesuai dengan ajaran tauhid. Oleh mereka banyak didirikan pesantren-pesantren sebagai tempat pembinaan calon-calon ulama. Tempat-tempat seperti inil dalam perkembangannya lebih lanjut dapat berubah menjadi pusat kegiatan ekonomi, bahkan tidak jarang merupakan cikal bakal kekuatan politik yang besar pengaruhnya di kemudian hari. Di antara mereka ada pula yang lalu menikah dengan putri-putri para penguasa. Hal ini berarti terjadi proses Islamisasi melalui perkawinan. Setelah mengislamkan istrinya, sang suami biasanya mengislamkan pula sanak keluarga pihak istri. Proses Islamisasi yang dilakukan oleh para sufi terhadap para aristokrat saat itu menjadi lebih berpeluang lagi karena adanya unsur-unsur mistisme dalam sufi yang disukai oleh kebanyakan pembesar, khususnya Jawa, serta adanya rasa 'susastra' yang sama disukai oleh kaum sufi dan aristokrat. Status para wali sebagai golongan pedagang atau penduduk kota menempatkan mereka dalam posisi marginal, tidak terikat secara ketat oleh struktur feodal, sehingga dalam hal ini lebih longgar untuk menjadi protagonis tata masyarakat baru. Pada umumnya perkumpulan tarikat tidak turut dalam masalah politik. Tetapi ini tidak berarti mereka senang saja dengan penjajahan. Malah di antara mereka justru banyak yang anti penjajahan. Bahkan di antara perkumpulan-perkumpulan tarikat ini ada yang dengan kekerasan berusaha melawan Belanda, meski hal itu hanya bersifat setempat saja. Sebagai contoh, pemberontakan Diponegoro mendapat bantuan Kiai Maja, pemberontakan di Cilegon terjadi ketika Haji Wasid dengan tarikat Qadiriyah-nya mengadakan perang jihad melawan pemerintah Belanda pada tahun 1888. Semua itu terjadi dan terus berlanjut hingga masa perang kemerdekaan, ketika para pengikut tarikat tidak ketinggalan turut aktif berjihad dan menggabungkan diri dalam barisan-barisan Hisbullah atau Sabilillah. Pada masa kemerdekaan, kegiatan para penganut tarikat lebih pada mengembangkan ajaran mereka masing-masing dan bertindak sebagai gerakan sosial-keagamaan yang independen. Dari perspektif sejarah ini, masih kurangkah jasa aliran tasawuf, khususnya di Ind ia ini? Mungkin suatu hal harus tetap kita ingat ungkapan bijak: JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH. (Arif Pradono adalah mahasiswa jurusan Sejarah FSUI, peminat sejarah Islam dan Timur Tengah) --------------------------------------------------------------------- Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
