|Ida Husmami wrote:
|> Untuk Apa Belajar Tasawuf?
Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
Tambahan saja dari penjelasan Pak Sunarman.
Sesungguhnya jika saja seseorang menjalankan Islam (syariat)
berdasarkan Iman (Tauhid) berdasarkan keikhlasan yang utuh,
sudahlah cukup ia memapaki agama ini, tanpa perlu tasawuf.
Untuk itulah pada zaman Rasulullah SAW tidak pernah tercetus
secara eksplisit ilmu Tasawuf. Seperti juga tidak pernah tercetus
secara eksplisit Rasulullah SAW mengatakan Ilmu Tauhid atau
Ilmu Syariah.
Rasulullah SAW hanya mengajarkan kepada para sahabat
konsepsi dan pengamalan Ad-Diin yang terintegrasi, yaitu
melingkupi :
Iman --- Iman
Islam --- Amal
Ihsan --- Shalih
Sehingga sering kita ikuti keterangan kisah yang menjelaskan
bagaimana Rasulullah SAW menjelaskan bagaimana Sifat Allah
(Iman), bagaimana cara beribadah (syariah) Namun bukan sedikit
keterangan yang menjelaskan, bagaimana Rasulullah SAW
menekankan dalam pelaksanaan Syariah berdasarkan niat yang
lurus.
Kita sangat sering mendengar hadits yang berbunyi :
"Innamal A'malu bin Niyyat". Amal itu bergantung pada niatnya.
Dan niat itu tempatnya di HATI.
Atau sebuah hadits yang mengatakan :
"Di dalam diri manusia ada segumpal darah. Yang apabila
baik ia, maka baiklah seluruhnya, dan apabila buruk ia, maka
buruklah seluruhnya. Itulah HATI".
Nah berjalan dengan waktu. Akhirnya Ilmu-Ilmu Islam terdefinisi
perbagian.
Untuk mengerti Iman didefinisikanlah apa yang disebut
Ilmu Tauhid.
Untuk mengerti Syariah didefinisikanlah apa yang disebut
Ilmu Syariah.
Tapi Cabang Ilmu mana yang mempelajari tentang HATI diatas?
Itulah TASAWUF.
Sehingga kalau ada orang yang mengatakan bahwa Tasawuf
tidak dikenal pada zaman Nabi SAW...
Betul sekali. Karena memang zaman Nabi SAW, Ad-Diin
tidak dipilah-pilah menjadi bagian-bagian.
Sehingga pada akhirnya Al Ghazaly mengatakan, bahwa Ilmu yang
WAJIB dituntut dalam hadits Nabi SAW, adalah melingkupi :
1. Iman -- Ilmu Tauhid
2. Amal -- Ilmu Syariah
3. Shalih -- Ilmu Siir (Tasawuf)
Keintegrasian kepada 3 hal itulah Ad-Diin.
Jadi sesungguhnya Tasawuf, adalah ilmu Siir (hati). Dimana
seorang muslim menyelaraskan segala 'amal lahiriahnya dengan
hati. Dan hal itu secara sadar dilakukannya.
Kalaulah sekarang kita rajin shalat, puasa , zakat (syariat lahir),
dengan belajar tasawuf diharapkan yang shalat, puasa, dan zakat
bukan hanya sang jasad tetapi juga sang jiwa.
Kalaulah kita sekarang bekerja, mencari nafkah untuk keluarga,
bukan sekedar hanya untuk bisa menafkahkan keluarga, tetapi
sebagai ungkapan ke ikhlasan kita pada Allah.
Jadi sesungguhnya TIDAK HARUS seorang berthariqah kalau
sanggup menyelaraskan ke 3 hal diatas secara individual.
Tapi hal ini sangat sulit sekali.... Sangat Sulit....
Bagaimana untuk bersikap Ikhlas, aduhhh luar biasa sulitnya.
Nah sebuah Thariqah, diturunkan Allah kemuka bumi ini,
melalui Sang Mujaddid yang dalam sebuah hadits dijanjikan
Allah hadir setiap puncak abad, untuk memberikan metoda
yang termudah sesuai zamannya untuk menyucikan diri dan
mendekatkan diri pada-Nya.
Karena itulah banyak Thariqah yang dikenal dalam Islam.
Wallahu'alam
IS
---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]