Rumah Tuhan Selalu Terbuka
Memang ada tangga untuk mendatangi "rumah" Tuhan. Tetapi tangga
itu kita sendiri yang membuatnya yakni ketika di hati aib dan cacat masih
bersitegar dan kita belum mampu membersihkan sama sekali.
Sebetulnya "Rumah" Tuhan selalu terbuka. Ia menunggu kita dengan
setia. Bahkan ia datang mencari kita, mencintai kita. Pada angin yang bertiup
mengawinkan serbuk jantan dan betina. Pada hujan yang turun menghidupkan tanah
gersang. Pada detak jantung sepanjang kita menempuh kehidupan maya. Pada rahmat
melimpah setelah kita diantarkan ke pemakaman dengan ampunan-Nya.
Oh Tuhan! Engkau tidak bertabir. Kami yang telah merentangkan tabir itu
sehingga wajah-Mu begitu samar. Dan kami tidak menampak keindahan-Mu karena mata
batin kami yang penuh dengan jelaga. Pada diri kami bercokol tiga macam cela;
aib nafsu, aib hati dan aib ruh.
Aib nafsu adalah segala rangsangan yang menyebabkan kesenjangan diri dengan
iman, manakala syahwat lahiriyah menginginkan makanan serba lezat, minuman serba
nikmat, tempat tinggal serba mewah, kekayaan melimpah ruah dan hasrat birahi tak
kunjung puas.
Aib hati ialah syahwat kalbu yang mendambakan pangkat tinggi, kehormatan
diatas yang lain, kedudukan abadi, didukung oleh sifat angkuh, dengki, kesumat
dan serakah.
Aib ruh merupakan maksiat di dalam jiwa, yang kaitannya menyangkut syahwat
bathin, pada waktu seorang ahli ibadah tidak ikhlas dalam amalnya, pada waktu
ahli tasawuf mengharapkan keramat dan keajaiban mengiringi langkahnya, pada
waktu sembahyang tahajud dilakukan untuk mendapatkan kelebihan duniawi.
Rasulullah SAW menyatakan lewat salah satu hadisnya:
"Seandainya syaithan tidak lagi melingkari hati orang beriman,
pasti mereka akan bisa melihat Kerajaan langit."
Ibnu Athaillah As Sukandari dalam kitabnya Al Hikam mengatakan:
"Tuhan Sang Maha Benar tidak memasang hijab dari penglihatanmu.
Sesungguhnya penutup itu adalah dirimu sendiri sehingga engkau tidak dapat
memandang-Nya. Lantaran jika ada sesuatu yang bisa mendindingi Dia berarti
dinding itu punya kekuatan untuk menutupinya. Dan kalau bagi-Nya ada penutup
niscaya bagi wujud-Nya ada pembatas. Sedangkan pembatas bagi sesuatu merupakan
sesuatu lainnya yang lebih perkasa. Padahal Allah gagah Perkasa diatas
hamba-hamba-Nya."
Karena itu para abdi Tuhan yang menuntut kehidupan khawasul khawas (tingkat
pertama dalam keihlasan ibadah) pasti akan "melihat" Tuhan dalam
berbagai jelmaan yang terpampang pada pancaran kekuasaan-Nya.
Seperti diutarakan oleh Amir bin Abdul Qais:
"Tiadalah aku melihat sesuatu kecuali Allah lebih dekat kepadaku
daripada sesuatu yang kulihat itu."
Namun lebih banyak manusia yang sudah pikun sebelum berusia lanjut.
Sebab yang dikerjakan justru perbuatan yang sia-sia, malah yang merugikan
dirinya dan mengancam keselamatannya.
Dengan susah payah manusia mengumpulkan harta. Setelah bertimbun dan belum
sempat dimanfaatkan, harta itu meninggalkannya akibat dirampok atau tertimpa
bencana alam. Kadang si pemilik yang meninggalkannya, lantaran dibunuh oleh
perampok yang merampas kekayaannya.
Dengan menyingkirkan atau mencelakakan kawan seiring, seseorang
berusaha merebut kedudukan atau pangkat "terhormat". Ketika tiba di
puncak, ternyata sekedar untuk diseret dari singgasananya dengan penuh
kehinaan dan direndahkan.
Acapkali manusia tidak sadar bahwa perjalanannya menempuh titian waktu dari
tahun ke tahun bukan untuk menggapai lebih sempurna, melainkan kekalahan di
ujung penghabisan, tatkala ajal merenggut nyawanya.
Konon ada seseorang nenek bernama Rauthah. Ia memintal benang dan
merajutnya menjadi sulaman yang indah. Ketika sudah selesai, sulaman itu
dibongkarnya kembali menjadi benang terurai. Ia lalu tertawa memandangi
benangnya yang berantakan. Kemudian dengan cermat dan hati-hati dirapikannya
lagi lantas dirajutnya pula menjadi sulaman lebih indah. Namun setelah siap,
kembali dibongkarnya. Dan ia tertawa lebih menggila menyaksikan benangnya yang
berhamburan. Itulah perumpamaan manusia yang tidak menyadari akan kesia-siaan
daya upayanya, apabila tidak untuk keabadian diseberang sana, jika tidak untuk
kesejahteraan di alam sana.
Karena itu para sufi berusaha mencari kekayaan dan kebahagiaan yang hakiki
dengan menempuh dua jembatan, attazkiyah dan
attahliyah.
Attazkiyah (pembersihan) atau disebut pula attakhliyah artinya menghampakan
ialah upaya menyirnakan semua kekotoran dan penyakit hati yang dapat merusak
diri dan perbuatan yang bakal bisa menjadi noda berketerusan andaikata
dibiarkan.
Attahliyah (menempatkan) yaitu upaya menghiasi diri dengan akhlakul karimah
atau budi pekerti mulia, agar manusia dapat kembali sesuai fitrahnya, selaku al
insaanul kaamil (manusia seutuhnya)*ARROISI
(Ditulis kembali dari kliping majalah Amanah)
--------------------------------------------------------------------- Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
