Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
Apa yang dilakukan Sdr Anzar Djais, memang termasuk dzikir karena
dzikir adalah kegiatan mengingat Allah.
Aktivitas dzikir dapat dikelompokkan menjadi:
1. Ritual untuk mengingat Allah. Dzikir berupa ritual lebih sering
dikonotasikan sebagai mengulang-ulang perkataan tertentu dalam
jumlah tertentu sambil mengarahkan pikiran (perhatian) kepada
perkataan yang diucapkan. Ritual shalat termasuk dalam dzikir karena
Allah memerintahkan shalat agar kita mengingat-Nya [QS 20:14].
2. Dzikir hati. Dzikir ini berlangsung dengan sendirinya di luar
kendali otak, dalam bentuk pengucapan perkataan tertentu secara
berulang; terjadi kapan saja dan di mana saja [termasuk di WC, di
tempat tidur] tanpa dapat dikendalikan. Ucapan hati itu tercetus di
dalam pikiran dan/atau mulut, dan mendorong orang yang bersangkutan
untuk memikirkan Allah. Orang yang telah terbiasa melakukan dzikir
ritual lebih sering mengalami dzikir hati ini.
3. Kontemplasi aktif. Ini merupakan kegiatan aktif memikirkan Allah,
menghubungkan sesuatu yang dilihat, dialami, didengar dll dengan
keberadaan dan peran Allah. Ketika orang mengucap basmalah,
hamdalah, istigfar dll, sudah sepantasnya perbuatan itu disertai
dengan kontemplasi yang menghubungkan hal-hal yang dihadapinya
dengan kekuasaan Allah. Semua benda dan peristiwa di alam semesta
ini merupakan obyek kontemplasi yang tak habis-habisnya.
4. Kontemplasi pasif. Merupakan efek dari pembiasaan diri dalam
melakukan komtemplasi aktif; bawah sadar manusia mendorong otak
untuk lebih sering memikirkan Allah; orang mengingat Allah tanpa
disengaja.
Dari keempat kelompok itu, kalau kita gunakan paradigma lain, kita
dapat pula membagi dzikir menjadi:
1. Dzikir ritual
2. Kontemplasi
dan dari tiap kelompok, masing-masing dapat kita bagi lagi menjadi;
a. Aktivitas aktif [sengaja]
b. Aktivitas pasif [tanpa disengaja]
Sebaiknya, kita melakukan semua jenis dzikir [ritual dan
kontemplasi] hingga pada akhirnya kita mampu 'melihat' Allah dalam
melaksanakan kegiatan sehari-hari.
Sdr. Anzar perlu memperluas bidang cakupan kontemplasi, jangan hanya
tergetar hatinya dalam hal-hal yang anda sebutkan. Tambahkan satu
hal setiap hari, setiap minggu atau setiap bulan pada bidang
kontemplasi anda.
Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS
____________
Anzar Djais wrote:
> Saya ingin berbagi pengalaman untuk soal zikir. Zikir itu tidak berarti
> harus direncanakan, tidak harus memenuhi syarat ini dan itu. Yang saya
> lakukan adalah
> pada saat seharusnya saya ingat. Ditambah dengan menghadirkan Allah pada
> saat bimbang, ragu, putus asa, dll. Misalnya:
> 1. Melihat keajaiban alam, pemandangan, maka saya berzikir subhaanallah
> sambil melihat pemandangan sampai rasa takjub ini terpuaskan
> 2. Lagi dirundung masalah, ingin melampiaskan kemarahan, Astagfirullah
> samapai marah ini hilang
> Terus terang saja saya sulit sekali bertasbih (yang 33x, selesai
> shalat) dengan berpura - pura kagum, atau setengah memaksakan diri untuk
> kagum. Tetapi berada di puncak gunung, meihat jurang yang dalam dengan
> tanpa sadar terucap sendiri dengan ikhlas bermacam-macam jenis tasbih
> dan saya yakin lebih masuk dalam qalbu dibanding pada waktu selesai
> shalat.
---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]