Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum wr.wb.
Betapa merusaknya dongeng tentang Haruut dan Maaruut telah ditunjukkan
oleh Dr. Hamka dalam Tafsirnya "Tafsir Al-Azhar" juzu I halaman 229-235
tahun 1967. Tetapi dalam Tafsir itu tidak diceritakan bagaimana
kejadian yang sebenarnya . Berikut ini adalah pembahasan ruhaniyah yang
dikemukakan oleh Imam Jemaat Ahmadiyah Khalifatul Masih II, Hazrat
Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad tentang siapa sebenarnya Haruut dan
Maaruut itu.
Cuplikan dari "The Holly Qur'an with English Translation and
Commentary" , Volume I, (part I) , page 156-160, Second Edition,
Oriental and Religion Publishing Corporation Ltd, Rabwah, 1964.
SIAPA HARUUT DAN MAARUT?
"Wattaba'uu maa talu-sy-syayathiinu 'alaa mulki sulaimaana wamaa kafara
sulaimaanu wa laakinnasy-syayaathiina kafaruu yu'allimuuna-n-naasa-s-
sihra wa maa unzila 'ala-l-malakaini bibaabila haaruuta wa maaruuta wa
ma yu'allimaani min ahadin hattaa yaquulaa innaama nahnu fitnatun faa
takfur faya'allamuuna minhumaa maa yufarriquuna bihii baina-l-mar'i
wazaujihi wa maa hum bidhaarriina bihi min ahadin illa bi-idzni-llahi
wa yata'allamuuna maa yadhurruhum wa laa yanfa'uuhum walaqad 'alimuu
lamani-sytaraahu maa lahu fi-l-aakhirati min khalaaqin wa labi'sa maa
syarau bihii anfusahum law kaanuu ya'lamuuna" (QS. 2:103).
Artinya: "Dan mereka mengikuti "cara" yang dilakukan oleh pendurhaka-
pendurhaka dimasa pemerintahan kerajaan Sulaiman. Dan Sulaiman tidak
ingkar, tetapi pendurhaka-pendurhaka itulah yang ingkar; mereka
mengajarkan sihir kepada manusia. Dan "mereka mengikuti juga" apa yang
telah diturunkan kepada dua malaikat Haruut dan Maaruut di Babil.
Tetapi keduanya tidak mengajarkan seorangpun hingga mereka
mengatakan:"Kami hanya percobaan, maka janganlah kamu ingkar". Maka
orang-orang "dimasa itu" belajar dari keduanya hal yang dengannya
mereka membuat perbedaan antara pria dan isterinya, dan mereka tidak
mendatangkan mudharat kepada seorangpun dengan itu, kecuali dengan izin
Allah; dan "sebaliknya" mereka ini- (musuh-musuh Rasulullah SAW)-
belajar mendatangkan mudharat kepada mereka dan tidak bermanfaat bagi
mereka. Dan sesungguhnya mereka mengetahui, bahwa barangsiapa
berdagang dengan "cara" ini, tiada baginya kebaikan di akhirat; dan
sesungguhnya aamat buruk yang untuk itu mereka telah menjual diri
mereka; "alangkah baiknya" sekiranya mereka mengetahui.
Kata-kata penting....
"Tathluu (mengikuti). Dalam ayat 2:114 ada tercantum "wahum yatluunal
kitaaba"...sedang mereka (keduanya) membaca kitab (itu juga); yatluuna
(mereka membaca) asalnya dari "talaa" yang berarti:
1. ia mengikuti
2. ia membaca atau membacakan (Aqrab).
Al-Qur'an mengatakan: "Walqamaari idzaa talaaha" (demi bulan bila
mengikuti matahari); begitu juga "yatluu 'alaihim aayaatihi (mereka
membaca atau membacakan kepada mereka tanda-tanda-Nya. Dalam ayat 114
itu kata "yatluuna" dapat diartikan kedua-duanya, yakni: "mereka berdua
membaca kitab yang sama" atau "mereka kedua-duanya mengiktui kitab yang
sama".
"Syayaathiinu" (pemberontak-pemberontak) adalah bentuk jamak atau
plural dari "syathaan" yang diambil dari akar kata "syathana" atau
"syaatha" (mufradhat). "Syathaana 'anhu" berarti "ia adalah atau
menjadi jauh atau terpencil dari padanya". "Sathana shaahibahu" berati
"ia menentang kawannya dan memalingkannya dari maksud atau tujuannya
(Aqrab). Jika diambil dari akar kata ini maka "syaithaan" akan berarti
makhluk yang bukan saja terjauh dari kebenaran tetapi juga memalingkan
orang-orang lain dari itu.
Pengambilan lain ialah dari "syaatha" yang berarti "ia hangus, ia
musnah". Jika diambil dari akar kata ini maka perkataan "syaithaan"
berarti "makhluk yang hangus karena kebencian dan kemarahan dan ia
musnah."
Dalam pemakaian umum "syaithaan" berarti :
1. Ruh jahat
2. Seorang yang sangat melanggar batas dan sangat congkak dan
menentang.
3. Ular (Aqrab).
4. Setiap kekuatan, kemampuan atau pembawaan yang tercela seperti
kemarahan dsb (Mufaradaat).
5. Sesuatu keadaan yang sangat menyakitkan seperti dahaga keras (Lane).
Dalam arti yang lebih luas lagi kata ini dipakai mengenai sesuatu yang
berbahaya dan dapat mendatangkan derita.
" 'Ala" (pada masa) mempunyai arti: "fi" ialah "dalam" atau "pada masa"
(Aqrab dan Mughni). Ia dipergunakan juga untuk mengungkapkan arti
bermusuhan, seperti arti "terhadap", seperti yang dikatakan "kharaja
'alaihi", ialah" "ia memberontak terhadapnya atau ia keluar menghadapi
dengan kekuatan bersenjata dengan maksud untuk bertempur (Wright).
Dalam arti ini ungkapan " 'ala mulki sulaimaan" berarti "terhadap
pemerintahan Sulaiman" atau maksudnya "menentang dan melawan Sulaiman".
" Sihrun" (kepalsuan dan penipuan); dalam penggunaan sebagai kata
kerja "saharahu" berarti "ia menipunya, ia membujuknya dan
melibatkannya dalam kesukaran dan tidak memberikan pengertian; ia
menarik hatinya." " Saharal fidhatu" berarti "ia menyepuh barang perak
, sehingga nampak seperti dibuat dari emas". Kata "sihrun" berarti
"sesuatu yang sumbernya tidak jelas ; menampilkan kepalsuan sebagai
kebenaran; rencana palsu ; penipuan; kejahatan;tarikan birahi dan
rawan" (Aqrab).
Juga "sihrun" berarti "menampilkan kepalsuan sebagai kebenaran; setiap
kejadian yang penyebabnya tersembunyi dan memberi kesan lain dari
kenyataannya; memperindah dengan pemalsuan dan penipuan" (Lane). Jadi
setiap kepalsuan, penipuan dan rencana muslihat dengan tujuan
menyembunyikan tujuan sebenarnya dari penglihatan umum termasuk
"sihrun".
"Almalakain" adalah bentuk jamak atau plural dari "malakun" (malaikat),
yang dijelaskan dalam QS. 2:31. Dalam arti kiasan "malakun" kadang-
kadang dipakai untuk mengungkapkan orang cantik atau suci, seperti
dikatakan Al-Qur'an dalam 12:32 , "in haadza illaa malakun kariim" (ini
adalah pemuda cantik dan suci belaka). Karena dalam ayat yang sedang
dibahas ini kedua malaikat itu dilukiskan sedang mengajarkan sesuatu
kepada kaum itu maka kata itu tidak dapat diartikan secara harfiyah,
sebab malaikat-malaikat tidak hidup bergaul dengan manusia dan pada
umumnya tidak bercakap-cakap biasa dengan manusia (lihat QS. 17:95, 96;
dan QS. 21:8). Jadi dalam ayat ini "malakaini" tidak berarti "dua
malaikat" secara harfiyah, tetapi "dua orang suci".
"Haruut" dan "Maaruut" kedua-duanya nama yang bersifat melukiskan.
"Haaruut" asalnya dari "harata" , artinya "merobek-robek" (Aqrab). Jadi
"Haaruut" berarti "orang yang merobek-robek, penyobek". "Maaruut"
asalnya dari kata "marata" , yang artinya "ia memecahkan" (Aqrab dan
Lane). Jadi "Maaruut" ialah "orang yang memecah-mecahkan, pemecah".
Nama-nama itu berarti , bahwa tujuan kedatangan kedua orang suci ini
ialah untuk mencabik-cabik dan menghancurkan kemuliaan dan kekuasaan
dan kaum tertentu.
"Fitnatun" (percobaan) berarti "percobaan" atau "cara yang dengan itu
keadaan manusia dapat ditampakkan mengenai kebaikan atau kejahatannya"
(Lane). Orang berkata: "fatanush shaaigudz dzahaba", yaitu "pandai mas
mencairkan emas dalam pasu" sehingga kemurnian atau kepalsuannya dapat
diketahui.
Tafsir...
Cerita-cerita purba yang khayal dan tidak dibenarkan oleh Al-Qur'an
Suci dan Hadits yang juga malahan bertentangan dengannya banyak
beredar diseputar ayat ini. Sangat tidak masuk akal untuk
menafsirkannya berdasarkan ceritera-ceritera khayal tersebut. Untuk
penafsiran yang tepat tidak diperlukan bukti atau tanda dari luar,
karena kata-kata itu telah mengungkapkan dirinya sendiri.
Jelas tampak dari ayat itu sendiri bahwa orang-orang Yahudi dizaman
Rasulullah SAW cenderung kepada kejahatan yang sama . sebagaimana yang
juga menjadi ciri mereka di masa Nabi Sulaiman a.s. dan ketika mereka
dalam keadaan menjadi tawanan di Babylon. Ayat itu selanjutnya
menunjukkan bahwa pembuat-pembuat kejahatan di masa Nabi Sulaiman a.s
itu adalah "golongan-golongan pemberontak " yang menyebut beliau
orang kafir.
Tuhan mengatakan, bahwa orang-orang itu sendirilah yang kafir dan bukan
Nabi Sulaiman yang tidak beriman. Juga ayat ini mengatakan, bahwa
orang-orang itu mengajar sekutu-sekutunya arti tanda-tanda yang
disampaikan kepada mereka , yang sangat berlainan dengan yang umumnya
diterima, dengan tujuan menipu orang-orang lain dan menyembunyikan
kegiatan-kegiatan mereka sendiri. Kesemuanya itu membawa kepada
kesimpulan , bahwa ayat ini menunjukkan kepada komplotan-komplotan
rahasia, yang dilancarkan musuh-musuh Nabi Sulaiman a.s. terhadap
beliau dengan tujuan menghancurkan kerajaan beliau. Dijelaskan bahwa
kini dimasa Rasulullah SAW pun orang-orang demikian mengadakan
kesibukan yang sama , dengan cara yang sama, tetapi kesemuanya usaha
mereka itu akan menemui kegagalan sama sekali.
Karena ayat ini bertalian dengan beberapa peristiwa sejarah, maka
dianggap perlu untuk menceritakannya dengan agak terperinci. Ketika
orang-orang Yahudi melihat bahwa kekuatan Islam senantiasa meluas dan
bahwa tidak ada perlawanan dari kaum Arab yang dapat menghentikan
kemajuan kaum Muslimin itu, mereka mulai membakar hati orang orang-
orang luar untuk melawan mereka (kaum Muslimin).
Pada masa itu ada dua kerajaan besar dekat Arabia, yaitu Bizantium atau
Romawi Timur dan Persia. Karena kaum Yahudi telah bermusuhan dengan
Pemerintah Romawi disebabkan mereka senantiasa bentrok dengannya, maka
tinggal Pemerintah Persia saja lagi yang dapat mereka bantuannya.
Terdesak oleh penindasan Pemerintahan Kristen , mereka mencari
perlindungan di Persia , dimana mereka memperoleh banyak kebebasan
beragama sehingga merekapun memindahkan pusat keagamaan mereka dari
Yudea dan Yerusalem ke Babylonia. (Hutchitson's History of Nations,
page 550).
Dalam abad ketujuh dari zaman Kristen yang juga pada masa hayat dari
Rasulullah SAW orang-orang Yahudi menderita aniaya yang kejam dari
Kerajaan Romawi Timur. "Phocas dan Heraclius" , menurut "Historian's
History of the World, jilid 7, halaman 175 , "berusaha melenyapkan
agama Yahudi dan jika mungkin dimusnahkan kedudukan mereka sebagai
bangsa. Heraclius bukan saja melancarkan setiap macam kekejaman untuk
mencapai tujuannya didalam lingkungan daerahnya, tetapi malahan juga
ia memaksakan orang-orang Yahudi untuk berpindah agama atau mengusir
mereka sebagai cara kebijaksanaan politiknya."
Jadi di zaman Rasulullah SAW satu-satunya pemerintahan tempat orang-
orang Yahudi meletakkan harapan akan pertolongan adalah Kerajaan
Persia, dimana orang-orang seagama mereka mempunyai banyak pengaruh
disana, terutama dalam pemerintahan Kisra Chosrus II (Jew. Enc., IX,
page 648).
bersambung 2/2]
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin
Jalan Rambutan B-32,
Telp. (+62-0765) 93072 Duri 28884
Riau Daratan INDONESIA
-----------------------------------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED]
-----------------------------------------------------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER.
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE.....!
Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come.....
For further detail contact Ahmadiyya Mission over the world.
-----------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]