Assalaamu 'alaikum wr. wb. |Saya berharap agar pak Imam dapat menjelaskan lebih jauh tentang MISI |HIDUP tsb. |Saya agak ragu apakah Allah itu benar-benar merencanakan segala |sesuatunya berkenaan dengan misi hidup setiap manusia karena misi hidup |dalam konsep pak Imam ini sangat detail misalnya "untuk menjadi |mursyid", "untuk mengajarkan islam bagi orang-orang non muslim" dst, dst |bukan yang global seperti menjadi "beribadah kepada Allah" dll. Bismillahirrahmaanirrahiim Tentang Misi Hidup memang TIDAK BANYAK orang yang mengetahui. Karena "jarang sekali" orang yang sampai pada jenjang ini. Manusia turun ke bumi ini mempunyai 2 (dua) tujuan: 1. Tujuan Umum Menjadi seorang hamba Allah (beribadah kepada Allah). 2. Tujuan Khusus Menjadi khalifah Allah. Fungsi ke-khalifahan berbeda-beda. Ada seorang yang mempunyai fungsi ke-khalifahan sebagai mursyid, ada yang sebagai dokter, ahli matematika, ahli bagungan, ahli pemerintahan, seorang pendo'a, dsb. Seorang akan mengetahui Misi Hidup-nya sebagai apa, apabila ia telah mengenal diri nya (Bertemu diri). Ia akan diberi tahu langsung oleh Allah, untuk dan sebagai apa dia turun ke dunia ini. Dan tentu, untuk dapat berjalan sesuai dengan misi hidupnya ini, Allah akan memperangkatinya dengan Nur Ilmu (Ilmu Laduni), sehingga dia dapat menjadi khalifah dalam bidang tersebut. Ia menjadi "brilian" dalam bidang tersebut. Sehingga, sangat wajar sekali, apabila kita ketahui dalam sejarah, dimana para ulama Islam, sangat "brilian" dalam bidangnya, apakah politik, kedoketeran, matematika, astronomi, filsafat, ilmu fiqh, ilmu hadits, dsb. Imam Khomeini adalah salah seorang muslim abad ini yang bertemu diri, dimana Misi Hidupnya adalah dalam bidang politik. Sehingga wajar sekali, ia mampu membangun Iran dari pemerintahan yang sebelumnya (kufur) menjadi pemerintahan Islam yang stabil. Suatu hal yang sangat sulit dilakukan oleh seorang pemimpin (sekaliber apapun). |Ada gap yang besar dalam pemahaman saya tentang sifat Allah SWT & konsep |takdir untuk bisa memahami adanya misi hidup tsb. Allah dalam benak |saya, meski mengetahui apa yang akan dilakukan manusia (karena Allah SWT |tidak terikat waktu) tidak mencampuri apapun yang akan dilakukan oleh |setiap manusia dalam mengisi hidupnya, dalam kapasitasnya sebagai hamba |Allah, sebagai khalifah di bumi dll. Dengan menerima adanya 'MISI HIDUP' |yang berbeda antara satu manusia dengan manusia lainnya seakan ada Grand |Scenario yang menutup kehendak bebas manusia, benarkah? |Saya berharap pak Imam dapat menjelaskannya lebih jauh tentang hal ini. Konsepsi berserah diri (tidak mengikuti hawa nafsu) adalah bersedia diri kita, diatur oleh Allah. Bukan diatur oleh hawa nafsu kita. Sehingga sesungguhnya, bagi manusia yang ingin selamat (dalam Al Qur'an dikatakan "janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslimiin = berserah diri") ia harus merelakan dirinya diatur oleh Grand Scenario Allah, tidak berlaku bebas sesuai dengan kehendaknya. Inilah sesungguhnya yang dimaksud dengan kewajiban kita untuk "membunuh diri" (QS 4:69) atau sebuah hadits yang mngatakan "Matilah kamu sebelum mati". Yaitu mati dari kehendak diri kita untuk mengatur diri kita sendiri, kemudian menyerahkan diri kita untuk diatur oleh Allah. Bagi kita yang belum sanggup menerima petunjuk Allah (karena hati kita masih buta), kerelaan kita mengikuti scenario Allah, dilakukan dengan mengikuti aturan-aturan dari hadits ataupun Al Qur'an, sebagai manifestasi keberserahan diri kita pada-Nya. Namun bagi orang-orang yang sanggup menerima petunjuk Allah, kerelaan mengikuti scenario Allah, demikian terang dengan bimbingan nafsu muthmainnahnya (bukan lagi hawa nafsu) sehingga Al Qur'an menjadi demikian terang dan mengalirlah dari akhlaqnya sunnah-sunnah rasulullah SAW. Silakan bertanya untuk kebingungan diseputar ini. Wassalamu'alaikum Wr. Wb AIS, Ujungpandang --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
