Abu Furqon wrote:
>
> Assalamu'alaikum wr. wb.
>
> Segala puji bagi Allah, semoga selalu berlimpah sholawat dan salam atas
> Nabi Ummiy Rasulullah saw.
>
> Saya hanya ingin membagi sedikit pengalaman saya, yang menurut saya
> merupakan kebodohan saya dan semoga hal ini bisa diambil hikmahnya oleh
> para salik semuanya. Amien.
>
> Adalah suatu saat saya bertanya pada diri saya sendiri mengenai seorang
> ustadz, yang menurut kabar burung, yang beliau selalu identik dengan
> uang. Beliau mempunyai seorang anak yang kalau dilihat dari pandangan
> lahir, sungguh mencemarkan nama sang bapak. Mungkin kalau kita bilang
> seperti ini "Anak ustadz kok seperti itu, emang bapaknya tidak bisa
> mendidik..?" (ini saya su'udzon saja).
>
> Suatu ketika saya mengunjungi seseorang yang oleh Allah sudah diangkat
> hijabnya, pada beliau sudah dilihatkan alam jabarut, alam malakut,
> dilihatkan padanya oleh-Nya jin, setan, malaikat, dan lain sebagainya.
> Pada beliau dipertemukan pada Rasulullah, dan juga sering beliau
> dikunjungi oleh wali-wali yang pernah ada di nusantara ini. Saya
> bertanya pada beliau, adakah wali di tanah jawa barat, kemudian beliau
> berkata "Ada dua yang saya tahu, Pertama ialah ustadz A, dan kemudian
> Kiai B". Masya Allah... ternyata ustadz A tersebut ialah ustadz yang
> padanya saya su'udzon. Kemudian beliau berkata " Bahkan ustadz A ini
> ialah seorang Min Aulia, pemimpinnya para wali. Sedang kiai B ialah
> wali biasa. Saya juga baru tahu setelah diberitahu-Nya." Kemudian saya
> bertanya "Apakah di Australia ada seorang wali" Beliau menjawab
> "Disetiap tempat yang ada Islam disitu, disitu ada Wali. Yang saya tahu
> ada seorang wali di tanah Jepang".
>
> Para Salik semuanya, sungguh saya malu pada diri saya sendiri, sudah
> su'udzon pada ustadz tersebut. Saya teringat pada doa Syaik Abdul Qadir
> Al-Jailani yang kira-kira seperti ini ...
>
> Ya Allah, Sesungguhnya saya adalah orang yang bisu
> Maka berilah Saya mulut..
> yang dengan mulut itu saya mengatakan yang benar
> Yang mengajak orang menuju Kebenaran
> Jika ternyata mulut ini tidak bisa Ya Allah
> Maka kembalikan saya kepada kebisuan...
>
> Dalam perenungan saya, betapa banyak saya memberi sangkaan pada pendapat
> orang-orang (meskipun masih dalam hati) tanpa saya diberi ilmu oleh
> Allah akan hal itu. Maksud saya, apakah yang saya lihat itu ialah
> Hakikat sebenarnya dari orang tersebut ? Apakah saya sudah diberi oleh
> Allah kebenaran-Nya, sehingga apa yang saya nilai, merupakan cara Dia
> menilai ?
>
> Maka sekarang saya mulai berhati-hati menilai seseorang, meskipun itu
> masih di dalam hati. Apakah saya mempunyai pengetahuan (ilmu) yang haq
> akan hal tersebut? Salah satu cara yang bisa saya perbuat ialah
> memperbanyak sholat istikharah, semoga berlimpah jalan lurus atas saya.
>
> Bagi saya, diam saya saat ini insya Allah lebih mendatangkan ridla-Nya
> dari pada perbuatan saya.
>
> Waallahu a'lam.
>
> Abu Furqon
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
Assalamualaikum Wr Wb
Saya ingin menanyakan.
Apakah yang dimaksud mas Abu Furqon, orang yang sudah diangkat hijabnya
itu sudah dimaksud orang yang ma'rifat atau orang yang mursyid?
Apakah mas Abu Furqon bersedia menunjukkan alamat orang tersebut?
Apakah hubungan mas Abu dan orang itu dekat?
Pada suatu hari saya juga pernah menemukan orang seperti itu, tapi saya
masih ragu apakah orang yang saya temui itu sudah ma'rifat atau belum?
Demikian pertanyaan saya, mohon penjelasannya.
Wassalamualaikum Wr Wb
Fadjar
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)