Assalaamu 'alaikum wr. wb.
>----------
>From: Abdullah Isa[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Kalau Mas Ali tanyakan tentang dalil, inilah dalilnya tentang Misi Hidup
>tersebut.
Maaf, mungkin saya salah mengemukakan apa yang saya butuhkan. Sebenarnya
bukan 'dalil' dalam arti ayat atau hadist semata (meski ini juga salah
satunya), tetapi penjelasan lebih jauh tentang konsep misi hidup tsb.
Saya tertarik tentang konsep misi hidup tsb dan terus terang baru sekali
ini mendengar tentang konsep adanya misi hidup yang sebegitu detailnya
(minimal begitulah kesan saya) bagi setiap individu. Seakan saya ini
diciptakan untuk suatu misi khusus yang unik dalam penciptaan. Seakan
saya ini memiliki tugas yang spesifik dari Allah SWT diantara milyaran
manusia lainnya.
>Namun saya pun masih bingung tentang bagaimana penjabarannya.
>
>Dari Imran bin Husain r.a katanya : Ada seorang bertanya, "Yaa Rasulullah,
>adakah telah dikenal para penduduk surga dan neraka?" Jawab Nabi, "Ya!"
>Bertanya kembali, "Kalau begitu apalah gunanya lagi amal-amal orang yang
>beramal?" Beliau menjawab, "Masing-masing bekerja sesuai dengan untuk apa
>dia diciptakan atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya?" (HR Bukhari).
Hadist ini sudah pernah disebutkan kalau tidak salah oleh Pak Imam
Suhadi, dan memang barangkali menyiratkan Misi Hidup yang unik tsb.
Tetapi dengan konsepsi yang kunopun, sebenarnya hadist ini bisa
dijelaskan dengan mudah sbb:
-- "Telah dikenal penduduk Surga & Neraka" : seperti telah diketahui
bahwa Allah tidak terikat oleh waktu maka Allah memang mengenal penduduk
Surga dan Neraka. Dan bila Allah memberitahukan hal itu kepada
Rasulullah SAAW maka bukan sesuatu yang aneh.
-- "Untuk apa dia diciptakan": Manusia diciptakan untuk beribadah
kepadanya dan menjadi khalifah di bumi. Kata-kata untuk apa dia
diciptakan tidak menyiratkan "script drama" yang detail untuk setiap
individu yang diberikan oleh Sang Maha Sutradara.
-- "Sesuai apa yang dimudahkan kepadanya" : Manusia berusaha sesuai
Qadar (kapasitas, kemampuan, modal dst) apa yang ada padanya. Banyak
ayat yang memerintahkan manusia untuk melakukan sesuai kesanggupannya.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya...(QS. 2:286)
Katakanlah:"Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya
akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (diantara
kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.
Sesungguhnya,orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan
keberuntungan. (QS. 6:135)
Atau ketika Allah berfirman kepada Lebah: kemudian makanlah dari
tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yanng telah
dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang
bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi
manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. 16:69)
Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di
angkasa bebas.(QS. 16:79)
>Saya lihat permasalahan dalam pikiran Mas Ali, timbul karena bingung
>memposisikan taqdir, keleluasaan manusia berkehendak, konsepsi berserah diri
>dan Misi Hidup.
>
>Kalau Mas Ali tidak keberatan, bisakan Mas Ali jelaskan persepsi Mas Ali
>tentang :
>1. Taqdir
>2. Keleluasaan Kehendak Manusia dalam Hidup
>3. Konsepsi Berserah diri
>4. Hubungan atau versus antara 1, 2, dan 3
Pak Abdullah Isa memang benar bahwa dengan penjelasan Konsep Misi hidup
hingga saat ini, masih belum bisa pas dengan konsep kuno yang sudah ada
di benak saya sekitar ketiga konsep di atas. Berikut saya cerita
pemahaman saya sekitar ketiga konsep di atas.
TAQDIR
Taqdir dalam pengertian saya adalah Ukuran / Kapasitas/ Kadar beserta
Hukum Alam yang diberikan Allah untuk segala ciptaannya termasuk
manusia. Manusia tidak bisa terlepas dari taqdir tetapi bergerak dalam
taqdir tersebut. Seluruh makhluk berpindah dari suatu keadaan kepada
keadaan lainnya sesuai Taqdir Allah. Khusus Manusia dapat berpindah dari
suatu keadaan ke keadaan lainnya dengan memahami serta memanipulasi
takdir tsb .
Konsepsi saya mengenai kehendak bebas dll barusan saya postingkan dalam
menjawab mail pak Wargino. Mungkin ada baiknya saya copy-paste sebagian
di sini.
TAQDIR vs KEHENDAK BEBAS MANUSIA
Ada hal tertentu yang manusia tidak bisa melakukan usaha apapun seperti
memilih siapa orang tuanya, atau keadaan jasmaninya ketika dilahirkan
dst. Tetapi pada bidang lainnya manusia memiliki kehendak bebas yang
mutlak seperti jika ingin hangat maka hidupkan api, jika ingin pintar
maka belajar, jika tidak ingin sakit flu maka jangan dekat-dekat ke
orang yang sakit flu dst, dst.
Ada rangkaian sebab-akibat yang nyata yang menghantar manusia pada suatu
hasil tertentu. Sebatas rangkaian sebab akibat yang mampu dikendalikan
oleh manusia maka manusia mampu memaksakan kehendaknya akan hasil. Ada
rangkaian sebab-akibat yang tidak mampu dikendalikan oleh individu itu
sendiri , rangkaian tsb barangkali ditrigger oleh kehendak manusia yang
lain (misalnya ditabrak mobil lain meski sudah berhati-hati) atau oleh
kehendak Allah SWT.
TAQDIR vs KEHENDAK BEBAS vs BERSERAH DIRI
Alangkah nisbinya jika manusia mampu berusaha tetapi tidak mampu merubah
hasilnya. Maka konsep berserah diri menurut saya adalah sbb:
Ketika saya berusaha dan kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah maka
sebenarnya dalam benak saya yang saya inginkan adalah agar Allah
membantu saya agar ihtiar saya mencapai hasil seperti yang saya
inginkan. Agar Allah membantu saya sedemikian rupa sehingga rangkaian
sebab-akibat yang di luar kendali saya janganlah kiranya mengantarkan
ihtiar saya pada hasil yang tidak saya inginkan. Ketika saya sudah
belajar keras untuk lulus ujian dan kemudian saya pasrah kepada Allah
SWT maka sebenarnya saya menginginkan agar Allah membantu saya supaya
besok lulus ujian sehingga agar janganlah dalam perjalanan ke tempat
ujian saya ditabrak mobil, janganlah nanti hasil ujian saya tertukar
dengan teman yang lain sehingga jadi jeblok, janganlah dosen tsb lagi
bad mood sehingga banyak yang nggak diluluskan ujian dst...dst.
Syukur-syukur jika rangkaian sebab-akibat yang lain tsb malah membantu
saya untuk lulus ujian (misalnya dosennya jadi murah hati sehingga murah
nilai).
Barangkali benar pak Sunarman bahwa seorang yang menuju kepada Allah
akan semakin Jabbariyah. Tetapi yang jelas kebanyakan manusia ada di
tengah antara keduanya (saya tidak mampu menerima Qadariyah murni
ataupun Jabariyah murni).
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)