Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum wr.wb.

MENCOBA MEMAHAMI MASALAH TAQDIR......5/5 (Habis)

Berbicara  tentang adanya "kehendak Allah" dan  "kehendak manusia"   kita
hendaknya  jangan  melihat  pertentangan diametris  diantara  kedua kehendak
itu  sehingga tidak mempunyai   pertalian  sama  sekali.   Adapun
pertalian kehendak  manusia dengan kehendak Allah sama saja  dengan
pertalian  sifat-sifat manusia dengan sifat-sifat  Allah. Manusia  dapat
menggunakan kehendaknya dalam  batas-batas dan  hukum-hukum  tertentu dan
baginya disediakan  macam-macam  keadaan  yang dapat digunakannya untuk
menentukan pilihannya dalam melaksanakan kehendak itu. Walaupun  ada
pembatasan-pembatasan  oleh  keadaan   dan hukum-hukum tertentu,  tidaklah
berarti pilihan  untuk  melaksanakan kehendak itu dirampas dari manusia.
Jadi jelaslah manusia itu mempunyai  kebebasan  juga melaksanakan
kehendaknya dengan  memilih keadaan-keadaan  yang  ada,  sehingga
pertanggungjawabannya    terhadap  perbuatannya   itu tergantung dari
keadaan dan pilihannya dalam melaksanakan perbuatan itu.

Ada   beberapa   ayat  Al-Qur'an  yang   dijadikan   oleh sebahagian
Ulama-Ulama  Islam  untuk  menetapkan   bahwa perbuatan  baik dan perbuatan
buruk manusia  adalah  atas kehendak Tuhan, sehingga manusia sama sekali
tidak  punya andil  dalam mewujudkan perbuatannya itu. Jadi kendatipun itu
perbuatan  manusia pada hakikatnya adalah  perbuatan Allah jua.....

"Kaum   musyrik  itu  berkata:'Jika Allah  menghendaki, niscaya  kami  tak
akan musyrik, dan tidak pula nenek moyang kami; demikian pula kami tak
akanmengharamkanapa-apa' . Demikianlah orang-orang sebelum mereka
mendustakan (Kebenaran), sampai  mereka  merasakan  siksaan   Kami.
Katakan:'Apakah  kamu mempunyai pengetahuan  hingga  kamu mengemukakan  itu
kepada Kami?  Kamu  tidak  lain  hanya mengikuti dugaan, dan kamu hanyalah
berkata dusta'.Katakan:  
"Tanda  bukti  yang  meyakinkan   adalah kepunyaan  Allah;  lalu  jika  Ia
menghendaki,  Ia  akan memimpin kamu semua".....(QS . 6:149-150).

Kalau  kita baca ayat diatas jelaslah bahwa ayat tersebut tidaklah  bisa
dijadikan  sebagai  hujjah bahwa semua kehendak  dan  perbuatan manusia
adalah  atas  kehendak Allah.  Ucapan bahwa manusia berbuat jahat  karena
Allah yang  menghendaki demikian , adalah ucapan  kaum  musyrik dan  para
musuh  Nabi Suci yang diungkapkan  juga  dalam beberapa  ayat-ayat Al-Qur'an
yang lain .  Bantahan  kaum musyrik  pada  ayat diatas bahwa perbuatan
mereka  adalah sesuai dengan kehendak Allah, didamprat dam dicela  keras
oleh   ayat  berikutnya  dan  Allah  menyebutnya  sebagai
"dugaan dan kebohongan semata-mata". Dan untuk menyanggah bantahan
orang-orang musyrik yang menisbahkan perbuatan mereka  sebagai  kehendak
Allah ayat selanjutnyaitu mengemukakan  dua  buah  argumentasi  untuk   kita
buat dipikirkan.

Pertama,  orang-orang sebelum mereka  mendapat  siksaan karena  mereka
tetap  menjalankan kejahatan;  seandainya mereka  berbuat  kejahatan karena
Allah  menghendaki  itu niscaya Allah tak akan menjatuhkan siksaan kepada
mereka. Kedua,  Allah  tak  pernah  berfirman  demikian  melalui siapapun
diantara  para  Nabi.  "Apakah  kamu  mempunyai pengetahuan  hingga kamu
mengemukakan itu  kepada  kami?" Ayat berikutnya menerangkan alasan
selanjutnya: "Jika Ia menghendaki  ,  Ia  akan  memimpin  kamu  semua".
Adapun kesimpulannya  jelas  sekali,  yakni  jika   ini   adalah kehendak
Allah untuk memaksa orang menjalankan  sesuatu, maka ini pasti jalan yang
benar. Tetapi orang tak dipaksa oleh  Tuhanb mengikuti suatu jalan,
kendatipun jalan  itu benar,  apalagi  jalan yang salah mustahil  sekali
Allah memaksa manusia kearah sana.....

Sesungguhnya kehendak Allah telah diundangkanNya  melalui para Nabi yang
diutus untuk menunjukkan apa yang baik dan apa yang buruk, tetapi kebebasan
memilih tetap diserahkan
sepenuhnya  kepada manusia, apakah akan  mengikuti  jalan baik ataukah jalan
buruk. Qur'an berfirman sbb:

"Sesungguhnya  Kami  telah  menunjukkan  kepadanya  suatu jalan;   ia
boleh  menerima  dan  boleh pula  menolak (itu)".....(QS. 76:3). Ayat lain
lagi: "Kebenaran  adalah dari Tuhan kamu, maka barangsiapa suka ia boleh
iman, dan barangsiap suka boleh ia kafir"....(QS. 18:29).

Jadi kehendak Allah itu dilaksanakan dengan mengutus para Nabi  dengan
memberikan petunjuk jalan baik dan jalan buruk. Adapun  kehendak  manusia
itu  dilaksanakan sepenuhnya  olehnya dengan menentukan pilihan jalan ini
ataukah jalan itu yang akan ditempuhnya.

Ayat lain yang menguatkan adanya "kebebasan memilih" bagi manusia
diundangkan lagi dalam ayat yang berbunyi sbb:

  "Sesungguhnya  ini adalah peringatan; maka  barangsiapa suka hendaklah ia
mengikuti jalan yang menuju Tuhan.  Dan kamu  tak  mau, kecuali jika Allah
menghendaki"......(QS.
76:29,30).  Ayat  lain yang juga senada  mengatakan  sbb: "(Qur'an)  itu
tiada lain hanyalah Peringatan bagi  sarwa sekalian  alam  dan  bagi siapa
saja yang  suka  diantara kamu, yang ingin berjalan lurus. Dan kamu tak mau
kecuali jika Allah menghendaki"..... (QS. 81:27-29).

Terang  sekali bahwa ayat-ayat diatas menyebutkan  Qur'an sebagai  wahyu
yang  ditujukan  Allah  untuk  mengangkat derajat  manusia, tetapi hanya
orang yang  memilih  jalan yang  lurus  dan mengikuti jalan yang menuju
Tuhan  saja yang  akan memperoleh faedah dari Qur'an itu, yaitu orang yang
melaksanakan kehendaknya di jalan yang benar.  Jadi setelah  Allah
menurunkan wahyu dan petunjukNya,  manusia diberi  kebebasan  untuk
menentukan  pilihannya.  Dengan demikian  kehendak manusia untuk menentukan
pilihan  baru dilaksanakan   setelah  Allah  melaksanakan   kehendakNya
dengan  jalan  menurunkan wahyu. Jika Allah tak  berkenan menurunkan
Peringatan, niscaya manusia tak akn  mempunyai pilihan.  Jadi kalimat "kamu
tak mau, kecuali jika  Allah menghendaki"   hanyalah   berarti,   bahwa
jika   Allah menghendaki  untuk menurunkan wahyuNya,  niscaya  manusia tak
dapat menentukan pilihan terhadap yang baik atau yang buruk.

Ajaran taqdir atau suratan nasib baik bagi orang ini  dan nasib  buruk  bagi
orang itu sebagaimana  yang  diyakini orang-orang  Islam  , sebenarnya itu
tak  dikuatkan  oleh ayat-ayat Al-Qur'an yang terang-terangan  memberikan
kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihan, apakah akan  mengikuti
jalan  ini  ataukah  jalan  itu.  Tetapi menurut  sebahagian Ulama Islam ,
ajaran tentang  suratan nasib  baik dan nasib buruk itu berasal dari ajaran
bahwa Allah tahu hal-hal yang akan terjadi kemudian. Jika Allah sebelumnya
sudah tahu hal-hal yang akan  terjadi,  bahwa orang  ini akan menempuh jalan
yang baik atau jalan  yang buruk  niscaya orang orang itu akan menempuh
jalan  yang sudah  ditentukan  itu,  karena  pengetahuan  Allah   tak
mungkin salah.

Memang  benar bahwa hal yang akan terjadi sudah diketahui sebelumnya  oleh
Allah.  Ruang dan  waktu  bagi  manusia adalah  suatu kenyataan , dan ini
sesungguhnya tidak  ada bagi   Allah.   Pengetahuan  manusia  akan
barang-barang sesuatu dibatasi oleh ruang dan waktu, tetapi bagi  Allah
ruang  yang terbatas itu hanya satu titik saja. Apa  yang sudah  lampau  dan
apa yang akan datang, itu  bagi  Allah sama  seperti  keadaan sekarang.
Allah melihat  dan  tahu yang  akan terjadi seperti manusia melihat kejadian
yang ia   saksikan  dengan  mata  kepalanya.  Oleh  sebab  itu pengetahuan
Allah  akan hal yang akan terjadi sama dengan pengetahuan   manusia  akan
hal  yang  sedang   terjadi. Sekalipun  pengetahuan Allah itu jauh lebih
tinggi  dari pengetahuan  manusia  namun  pengetahuan  itu  tidak  ada
sangkut pautnya dengan kebebasan manusia untuk menentukan pilihan.  Oleh
sebab itu pengetahuan Allah akan hal  yang terjadi , tak ada sangkut pautnya
dengan taqdir......


Sampai jumpa pada kesempatan berikutnya.......



Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin
Jalan Rambutan B-32,
Telp. (+62-0765) 93072 Duri 28884
Riau Daratan INDONESIA
------------------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER.
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE.....!
Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come.....
For further detail contact Ahmadiyya Mission  over the world.
------------------------------------------------
TAQDIR.txt


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke