W'alaikum salaam W W
Pak Widya, menurut pendapat saya masalah yang demikian sangat susah
dijelaskan
dengan kata-kata. Pembahasan dalam milis ini biasanya hanya pendekatan
secara teoritis yang jauh dari inti sebenarnya. Puncak dari kajian itu
sendiri hanya
bisa difahami dengan proses pembersihan diri di bawah bimbingan mursyid
(tidak wajib) dengan kesungguhan hati semata-mata mohon karunia Allah.
Sering saya menyatakan bahwa sulit dipahami dengan akal, karena pada
kondisi
puncak pengetahuan itu terjadi, akal tidak berguna lagi. Hukum syariah
tidak
penting lagi. Di situ tidak ada pertentangan, perselisihan, pedebatan,
salah-paham dsb sebagaimana kita sering alami dalam kajian syariah di sini.
Saya menyarankan kalau bapak serius ingin memahami masalah di atas,
sebaiknya
mencari mursyid (pembimbing) yang piawai di bidang ini.
Sebagai ilustrasi betapa sulitnya akal/pikiran menerima pelajaran itu, saya
kutip "inti"(menurut yang saya tangkap) dari tiga posting dari Bp. Sunarman
(Titik-titik), Bp. Supriyono (Tujuh Lembah Mencari Tuhan) dan Bp.
Abdurrahman (Ucapan Para Asyiq) yang ketiga-tiganya mempunyai kesamaan
esensi.
Dari Bp. Sunarman (Titik-titik)
-------------------------------
Puncak dari pendakian para murid dalam ilustrasi itu di alami pada tataran
SIU LIAN sbb:
>Yang menakjubkan ternyata garis-garis,
>terpancar dan bersumber dari titik pusat terus menerus,
>bergerak, tanpa awal dan tanpa akhir.
>Murid di titik ini hanya menemukan awal
>dan arah garis tanpa tahu lapis-lapis selanjutnya.
>Di sini murid terhempas ke dataran rendah
>tanpa pengetahuan, tanpa kepandaian
>bukan apa-apa, apalagi siapa ...
>Dia hanya menjadi suatu titik yang sangat
>maha kecil dari bola yang maha besar
>berjari-jari tak terhingga, berpusat tak berhingga
>itu adalah titik maha kecil yang sekaligus
>maha besar pula.
>Lapisan ini bisa disebut sebagai lapisan ma'rifat.
>Di sini sering timbul kata-kata aneh
>membuat linglung lapisan gwakang
>kosong itu isi
>aku tidak ada
>dia itu ada
>aku adalah Dia
>Dia hanya Titik
>sedang aku adalah kamu
Enam baris terakhir ini kalau kita pahami dengan daya pikir (intelektual)
kemungkinan besar akan berbeda dengan makna yang sebenarnya. Bagaimana akal
akan bekerja sedangkan kata 'aku' dan 'kamu' sudah tidak bisa dibedakan
lagi. Bahkan mungkin tidak ada lagi dalam kondisi 'begitu' itu.
Kalaupun dipaksakan juga yang timbul adalah imaginasi akal. Berbeda halnya
kalau dilakukan melalui suatu proses (Tarekat) insya Allah akan 'dialami'
kondisi semacam itu sehingga bukan gambaran akal, melainkan pengenalan
(ma'rifat).
Posting Bp. Supriyono (Tujuh Lembah....)
----------------------------------------
>Setelah melewati ujian fisik dan mental, penjaga istana Simurgh membukakan
100
>tabir dunia, satu demi satu menyingkapkan keindahan rahasia tak terperi,
dan
>sebuah dunia baru di balik tabir itu tersingkap. Kini "cahaya segala
cahaya"
>memancar dan burung-burung dipersilakan duduk di singgasana, tempat duduk
Yang
>Mulia dan Agung. Mereka diberi naskah untuk dibaca, direnungkan, dan
dipahami.
>Akhirnya, dalam suasana tafakur itu mereka menyadari kehadiran Simurgh dan
>merekalah sang Simurgh, dan bahwa sang Simurgh adalah ke-30 burung itu
pula.
>Mereka lalu tenggelam dalam tafakur dan sejenak kemudian, tanpa kata-kata,
>mereka mohon agar sang Simurgh menyingkapkan diri-Nya untuk mereka. Tanpa
>kata-kata pula sang Simurgh menjawab permohonan mereka, "Matahari
keluhuranku
>adalah cermin. Dia yang becermin akan melihat jiwa dan raganya, melihat
semua
>sepenuhnya. Karena kalian datang 30 (Simurgh) kalian pun akan melihat 30
burung
>dalam cermin itu. Bila yang datang 40 maka akan melihat 40 juga. Meskipun
>kalian kini telah berubah sepenuhnya, kalian melihat diri kalian sendiri
>sebagaimana keadaan kalian dahulu."
>Setelah itu, burung-burung pun akhirnya meniadakan diri (fana) dalam sang
>Simurgh, bayang-bayang telah lenyap dalam cahaya matahari. Namun, mereka
>menyadari, mereka tetap sebagai burung, bukan sebagai Simurgh sekalipun
mereka
>telah larut dalam Simurgh.
Esensi dari penggalan tulisan ini bukan sekedar filsafat dan permainan
logika. Sekali lagi akal tidak bisa bekerja di sini untuk mengungkap
misteri dibalik makna kalimat kalimat di atas.
Penggalan Posting Bp. Abdurahman (Ucapan Para Asyiq)
----------------------------------------------------
Kalu saya tidak salah, Bp Abdurrahman menukil tulisan ini dari sebuah buku
karangan Al-Gozali yang membahas tentang miskat. Apa yang dapat saya
tangkap
dari buku itu beliau (Al-Gozali) menguraikan secara rapi tentang makna ayat
35 dari surat an-nuur. Bagi rekan-rekan yang belum pernah membacanya, insya
Allah bisa di dapat di tiko buku sekedar untuk tambahan pengetahuan.
>Akulah dia yang kucintai
>Dia yang kucintai adalah aku
>Kami adalah dua ruh
>Bersemayam dalam raga yang satu
>Ibarat orang yang belum pernah melihat cermin, lalu tiba-tiba dikejutkan
>oleh sebuah cermin dan melihat gambar dirinya di sana. Dikiranya bahwa
>gambar yang dilihatnya pada cermin itu adalah gambar cermin yang telah
>menyatu dengan gambar dirinya sendiri.
>Atau seorang melihat minuman anggur dalam sebuah gelas, lalu mengira bahwa
>anggur itu bukan anggur, tapi itu hanya warna si gelas. Jika kelak keadaan
>itu sudah menjadi terbiasa baginya dan kuat pula pengetahuannya, barulah
ia
>akan menyadari keadaan sebenarnya, sebagaimana dalam untaian syair ini :
>Gelas bening dan anggur dan murni
>Keduanya serupa bercampur menyatu
>Seakan anggur tanpa gelas
>Atau gelas tanpa anggur
>Tentunya berbeda antara dua ucapan : "Anggur itu adalah gelas" dengan
>"Anggur itu seakan-akan gelas", seperti yang diucapkan oleh si penyair.
Betapa rumit dan dalamnya kejadian semacam itu, sehingga para asyiq hanya
mampu menggambarkan dalam bahasa lisan/tulis dengan bentuk tamsil atau
perumpamaan-perumpamaan, maupun dalam bentuk syair.
Apalagi di dalam internet semacam ini, sepertinya bukan wahana yang pas
untuk membahas hal semacam ini lebih dalam.
Dari tiga penggalan di atas, walaupun masih-masing dari sumber yang berbeda
sebut saja misalnya dari Attar,China dan Al-Gozali, pada kondisi yang
'begitu'
antara ketiganya tidak ada pertentangan lagi.
Seperti ilustrasinya pak Sunarman 7 orang buta meraba gajah, yang menjadi
pertentangan itu sebenarnya adalah 'kreasi akal' yang mengimajinasikan
bentuk gajah. Padahal sesungguhnya pengakuan mutlak tanpa pertentangan
diantara
mereka itu mereka adalah sama-sama 'merasakan adanya gajah'.
Dalam kehidupan beragama seperti di internet ini misalnya pertentangan itu
hanya terjadi dalam tataran luar saja.
Wallahu'alam bs.
Sekali lagi sekedar saran, tanyakanlah/minta bimbingan kepada mursyid.
Pendapat saya ini belum tentu kebenarannya hanya Allah Azza wa Jalla
Yang Maha Mengetahuinya.
Kurang lebih saya mohon maaf. Saya tidak menjawab pertanyaan anda, hanya
sekedar memberikan gambaran bahwa masalah yang sebenarnya tidak seringan
yang kita duga.
Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino
Assalamu 'alaikum WW
Dalam beberapa posting telah sering disebut tentang Diri Manusia. Mohon
maaf bila dianggap mengulang penjelasan tentang yang sering disampaikan
sebagai diri manusia. Yang masih membuat saya belum jelas, apakah Diri
Manusia itu merupakan Kombinasi ke Empat Komponen dan keinteraksian satu
dengan lainnya. Dalam beberapa artikel/posting disebutkan bahwa Diri
Manusia adalah Ruh, Nafs, Hawa, Jasad dan keterkaitan satu dengan lainnya.
Kalau disebutkan kita kendalikan hawa agar nafs-nya bangkit dari
ketertidurannya itu siapa yang yang berbuat 'mengendalikan', tentunya bukan
nafs dan bukan jasad. Apakah itu perbuatan ruh atau perbuatan siapa. Apakah
Ruh mempunyai kekuatan sehingga dapat membangunkan Nafs dari
keterkungkungan Hawa sehingga terimplementasi dalam wujud perbuatan Jasad
dan proses intu sendiri disebut dengan interaksi satu dengan lainnya.
Apakah Diri Manusia itu sebenarnya ya Ruh Manusia itu sendiri, ataukah Some
One yang melingkupi ke empat komponen itu. Mudah-mudahan ada yang membantu
menjelaskan hal ini agar tidak ketinggalan dalam memahami diskusi / posting
selanjutnya.
Wassalamu 'alaikum WW
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)