Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum wr.wb.
ALAMI, AKHLAKI DAN ROHANI......X)
SIFAT TABI'I, AKHLAKI, ROHANI DAN PERBAIKANNYA..........
MENINGGALKAN KEJAHATAN.....
Kesucian farji..........(lanjutan).
Ayat-ayat berikut menjelaskan lagi.....
" Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah
perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.".....(QS. 17:32).
"Dan orang-orang yang belum mampu kawin hendaklah menjaga kesucian
dirinya, sehingga Allah memampukan dirinya dengan karuniaNya.....
..(QS. 24:33).
".......Dan mereka mengadakan "rabbaniyah" , padahal Kami tidak
mewajibkan kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-
ngadakanya) untuk mencari keridhaan Allah lalu mereka tidak
(sanggup) memeliharanya dengan memelihara
semestinya.........".....(QS. 57:27).
Ayat-ayat diatas menunjukkan betapa pentingnya menjaga kesucian
diri untuk meraih akhlak "ihshon atau 'iffat" . Ada beberapa cara
dianjurkan oleh Al-Qur'an untuk memelihara kesucian diri. Antara
lain bisa diringkaskan dari ayat-ayat yang dikutip diatas.
a. Mencegah mata memandang berahi terhadap orang-orang yang bukan
muhrim....
b. Mencegah telinga medengar suara-suara yang membangkitkan berahi
dari orang-orang yang bukan muhrim.....
c. Tidak mendengarkan cerita-cerita yang mebangkitkan berahi
tentang orang-orang yang bukan muhrim.....
d. Mencegah diri dari segala yang dikhawatirkan dpat menbimbulkan
perbuatan keji tersebut.
e. Jika belum mampu kawin hendaklah membentengi diri dengan
berpuasa atau mengurangi makan serta pekerjaan-pekerjaan yang
melelahkan....
Firman Allah diatas juga tidak memerintahkan orang-orang menjalani
kehidupan "rabbani"....tidak menikah dengan tujuan mencari
keridhaan Allah. Juga Allah tidak merintahkan kita untuk mengebiri
diri sehingga tidak mempunyai kemampuan bilogis syahwat dengan
maksud menjaga kesucian.....Sekiranya itu merupakan perintah Allah
, maka semua orang akan berkewajiban mengamalkan perintah itu.
Akibatnya jelas dan dengan demikian mata rantai keturunan manusia
akan terputus, lalu dunia ini telah menjadi punah sejak semula.
Kalau ada pula anjuran, demi memperoleh kesucian perlu memotong
alat kelamin laki-laki, maka hal itu seolah-olah celaan terhadap
Sang Pencipta yang telah membuat bagian tubuh tersebut.
Sesungguhnya bahwa tumpuan sentral dari pahala , terletak pada
adanya suatu potensi , kemudian manusia karena takut kepada Allah
melawan dorong-dorongan buruk dari potensi tersebut,......dan
dengan mengambil manfaat-manfaat dari potensi tersebut maka
manusia itu akan meraih paha dari dua sisi . Jadi, kalau manusia
menghilangkan bagian tubuh itu....dengan mengebiri diri misalnya
maka manusia luput dari meraih kedua pahala tersebut. Pahala
justeru diraih karena adanya dorongan negatif, kemudian manusia
itu berusaha melawannya. Namun seseorang yang seperti anak kecil
dan tidak memiliki potensi tersebut, pahala apa yang akan ia
peroleh? Apakah anak kecil dan orang tuan renta dapat menerima
pahala karena "ihshon atau 'iffatnya" ?.
Bahwa ajaran-ajaran mulia yang diterangkan Al-Qur'an Suci dengan
segala tata caranya itu hanya terdapat dalam Islam. Dan disinilah
suatu hal yang patut diingat , yaitu dikarenakan "keadaan thabi'i"
manusia yang merupakan sumber nafsu syahwat; yang tanpa suatu
perubahan sempurna, manusia tidak dapat menghindarkan diri
daripadanya, dengan menemukan suasana dan kesempatan maka dorongan-
dorongan syahwat itu tidak akan tinggal diam. Dan tidak mustahil
dorongan biologis syahwat ini akan menjerumuskan manusia itu
kedalam bahaya yang besar.
Untuk itulah Allah Ta'ala tidak mengajarkan kepada kita agar
memandang wanita-wanita yang bukan muhrim walaupun tanpa sengaja,
memperhatikan segala keindahan mereka, serta liuk lenggang
gemulainya dalam menari, asalkan kita memandang dengan pandangan
suci. Dan Dia juga tidak mengajarkan kepada kita agar kita
mendengarkan nyanyian gadis-gadis bukan muhrim, dan juga
mendengarkan cerita-cerita tentang kecantikan mereka asal kita
mendengarkannya dengan pikiran bersih.....
Sama sekali Allah tidak mengajarkan yang demikian.... Justeru
malah sebaliknya untuk membentengi diri kita, Dia melarang
kita....agar jangan sekali-kali juga kita memandang wanita yang
bukan muhrim dan keindahan-keindahan mereka , baik dengan
pandangan suci maupun dengan pandangan berahi. Janganlah
mendengarkan suara merdu mereka, serta kisah-kisah kecantikan
mereka , baik dengan pikiran bersih maupun dengan pikiran kotor.
Bahkan hendaknya kita merasa jijik mendengarkannya serta memandang
mereka sebagai bangkai agar kita tidak jatuh tergelincir . Sebab ,
pasti pada suatu waktu pandangan yang tanpa kendali akan
menggelincirkan.
Oleh sebab itu, dikarenakan Allah Taala menghendaki supaya mata ,
hati dan resiko-resiko kita semuanya tetap terpelihara suci, untuk
itulah Dia telah memberikan ajaran yang mulia ini. Memang
kenyataan membuktikan bahwa tidak adanya ikatan yang kuat dapat
menimbulkan ketergelinciran. Apabila kita letakkan sepotong daging
didepan seekor kucing yang lapar dan kita berharap kucing itu
tidak akan menghiraukan daging itu , maka dengan mempunyai pikiran
itu sesungguhnya kita melakukan suatu kekeliruan. Jadi, Allah
Ta'ala telah menghendaki agar kekuatan nafsu itu tidak memperoleh
kesempatan melakukan gerakan-gerakan tersembunyi , yang dapat
menimbulkan bahaya-bahaya buruk.
Itulah sebabnya Islam menganjurkan dan memerintahkan pemakaian
"pardah" (cara pembatasan pergaulan antara pria dan wanita) yang
merupakan petunjuk syari'at. Didalam Kitab Allah yang dimaksudkan
dengan "pardah" bukanlah sekedar mengurung seperti tahanan dalam
penjara. Itu adalah tanggapan orang-orang yang tidak mengetahui
tata cara Islami dan memandang bahwa pardah itu menghambat
kebebasan wanita. Maksud sebenarnya dari pardah adalah agar wanita
dan pria keduanya dicegah memandang secara bebas dan memamerkan
keindahan masing-masing. Sebab disitulah terdapat kebaikan bagi
kaum pria dan wanita keduanya.
Akhirnya , hendaklah diingat bahwa sikap menghindarkan diri dengan
memandang secara redup dan melihat benda-benda yang dibenarkan
untuk dipandang dalam bahasa Arab disebut "ghadhu bashar". Dan
setiap orang mutaki yang ingin tetap memelihara hatinya dengan
suci, hendaklah ia jangan melayangkan pandangannya dengan liar
kesana kemari seperti binatang-binatang , melainkan wajib baginhya
menerapkan kebiasaan "ghadhu bashar" dalam pergaulan hidupnya.
Dan ini adalah suatu kebiasaan beberkat yang mengakibatkan keadaan
thabi'i tersebut berubah masuk kedalam warna suatu akhlak yang
kokoh, dan tidak menimbulkan perbedaan di dalam keperluan-
keperluan pergaulan hidupnya. Inilah yang dimaksud dengan "akhlak
ihshon dan iffat".
........bersambung.
Reading source:
The Philosophy of the teachings of Islam by Hazrat Mirza Ghulam
Ahmad , The London Mosque 1979...
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin, Jalan Rambutan B-32, Telp. (+62-0765) 93072
Duri 28884,
Riau Daratan, INDONESIA
----------------------------------------------------------------------------
---------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER...
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE....!
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)