--- sambungan Maka setelah Nabi SAW berdiri di tepi tempat tidurnya Abdullah berkata: "Aku ingin melepas nyawa dengan berselimutkan jubahmu wahai Muhammad. Maukah engkau melukarnya dan menutupkan ke tubuhku?" Umar mengernyitkan jidat. "Apakah akan kau kabulkan juga permintaanya?" Nabi hanya tersenyum. Ia tidak marah walaupun Umar berkata kasar. Ia tahu sikap itu bersumber dari kasihnya yang ikhlas kepadanya. Dan kemarahannya yang meluap-luap juga berakar dari kecintaannya yang kelewat besar. Namun cinta Umar belum sempurna. Sebab Umar belum mampu menaklukan dendam dengan cintanya. Untuk itu Nabi menjawab, "Sahabatku, Abdullah sebentar lagi akan menempuh masa derita yang sangat panjang. Bukankah ia layak mendapatkan kegembiraan sesaat sebelum ajalnya?" Umar tertegun. Matanya menatap kagum kepada Nabi tatkala sepasang tangannya yang suci menangkupkan jubahnya dengan hati-hati ke tubuh Abdullah bin Ubay. Dengan berselimut jubah pemimpin agung yang dibencinya itulah ia meninggalkan dunia yang fana ini selama-lamanya. Agama yang penuh ampunan inilah yang diturunkan Allah kepada RasulNya dan diajarkan Nabi kepada umatnya. Agar kaum Muslimin berperan sebagai Ummatan Wasatha, umat yang menjadi penengah dalam menyelesaikan pertikaian dan pertumpahan darah di antara sesama manusia. Dan bukan kebalikannya, bahkan terpaksa memanggil orang kafir menjadi penengah untuk mengatasi keadaan kaum Muslimin yang terpecah-belah. Beberapa hari lagi Lebaran akan tiba. Sesudah sebulan penuh kita melaksanakan ibadah puasa, arti Lebaran bagi kita sungguh agung dan penuh makna. Dan kita yakin di hati mereka yang sedang terlibat sengketa apalagi sampai bunuh membunuh panggilan Idul Fitri agar kembali kepada fitrah, pasti menggugah kesadaran mereka untuk merenungkan hakikat keberadaan manusia di muka bumi sebagai khalifah, atau pengelola, dan bukan pembinasa. Bukankah nurani mereka senantiasa mendengarkan bisikan para malaikat: "Wahai penempuh jalan kebaikan teruskanlah, wahai penempuh jalan kehancuran berhentilah." Dan tidakkah batin mereka masih mampu menampung firman Tuhan, "Adapun hamba-hamba Allah Yang Penyayang adalah orang-orang yang jika berjalan di bumi tidak bersikap congkak dan bila disapa kaum lemah menjawabnya dengan salam damai." (QS. 25:69) AR --------------------------------------------------------------------- Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
