Assal�mu �alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh. Kita sudah melewati setengah dari puasa dalam bulan Ramadhan ini. Sudah saatnya kita mempersiapkan diri untuk melakukan i�tikaf dalam rangka upaya memperoleh Lailatul Qadar yang kemungkinan kedatangannya lebih besar mulai tanggal 21 Ramadhan. I�tikaf adalah berdiam diri [di masjid] pada malam hari bulan Ramadan. Berdiam diri bukan berarti diam ngelantur, tetapi melakukan tafakur (dzikir, munajat, meditasi, kontemplasi), mengarahkan pikiran kita untuk mengingat Allah, memusatkan segenap perhatian kita untuk memperoleh pencerahan dari Allah. Bagi anda yang memutuskan untuk melakukan i�tikaf, saya ingatkan bahwa selama periode itu kita tidak diperkenankan melakukan hubungan seksual meskipun pada malam hari [QS 2:187]. MENGAPA MULAI TANGGAL 21 Setelah 20 hari berpuasa, jiwa kita sudah terkondisikan untuk dapat melakukan i�tikaf dengan lebih baik. Pengaruh hawa nafsu duniawi yang sehari-hari mencengkeram kita, secara bertahap telah cukup banyak terkikis bila kita menjalankan puasa dengan benar selama 20 hari itu. Terkikisnya hawa nafsu duniawi itu akan memudahkan pikiran kita untuk dapat menangkap isyarat-isyarat ilahi. Tak dapat dipungkiri bahwa orang tertentu sudah dapat melakukan i�tikaf dengan baik sebelum tanggal 21, tetapi ini sangat jarang. Bagi anda yang tahun lalu tidak berhasil memperoleh ketenangan pikiran dalam beri�tikaf, saya sarankan agar memperhatikan diet anda. Kurangi atau --kalau bisa�tinggalkan makanan yang berasal dari hewan kecuali susu dan telur, dan makanan yang pedas-pedas. Jumlah makanan mungkin juga perlu dikurangi; jangan makan sampai kenyang. Seperti sunnah Nabi, isi hanya 1/3 bagian perut dengan makanan padat, 1/3 bagian dengan air, dan biarkan sisanya kosong, baik ketika berbuka maupun makan sahur. Memang ada pengorbanan, yaitu berkurangnya vitalitas dalam bekerja, tetapi sekali dalam setahun kita perlu melakukannya demi mencapai kepuasan ruhani. MENGAPA DI MASJID Masjid adalah tempat khusus yang biasa dipakai untuk melakukan pemujaan kepada Allah. Untuk mudahnya, tempat itu mengandung berkah, hingga orang yang melakukan i�tikaf terkondisikan untuk mendapat kemudahan. Di tempat itu terdapat daya sugesti yang sangat membantu. Masalahnya, jarang sekali masjid, surau atau langgar yang dibuka pada malam hari. Kalaupun dibuka, ada kalanya tempat itu hiruk pikuk sehingga tidak mendukung kegiatan i�tikaf. Dalam hal ini, pengertian �masjid� dapat direduksi menjadi tempat yang biasa dipakai untuk shalat sehari-hari. Ruang khusus di bangunan rumah kita atau salah satu sudut ruangan yang sering kita pergunakan untuk melakukan shalat, cukuplah sudah. Orang-orang tertentu, terutama yang sudah terlatih, dapat melakukan i'tikaf di manapun ia suka. LAILATUL QADAR Apakah Lailatul Qadar yang sangat kita dambakan dan kita upayakan melalui i�tikaf itu? Lailatul Qadar adalah malam pencerahan. Al Qur�an menyebutnya sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan [QS 97:3]. Banyak orang menafsirkannya sebagai malam jika kita melakukan ibadah pada malam itu, kita mendapat pahala yang lebih besar dari pahala yang kita peroleh atas ibadah itu jika dilakukan selama seribu bulan. Saya tidak membantah pendapat itu, tetapi saya lebih cenderung pada penafsiran bahwa pada malam itu seseorang melihat cahaya terang yang intensitasnya lebih dari seribu intensitas cahaya bulan. Cahaya itu menerangi alam semesta ini sedemikian rupa sehingga hati kita mampu melihatnya dengan lebih jelas. Itulah simbol dari pencerahan hati. Allah mengutus para malaikat [QS 97:4] untuk menyibakkan tirai/hijab yang sebelumnya menutupi hati kita, dan kini kita mampu melihat rahasia Allah mengenai alam semesta ini dengan lebih jelas dari sebelumnya. Dengan kata lain, kita menjadi lebih dekat kepada Allah. Bukankah karunia semacam ini lebih baik dari pahala atas ibadah selama seribu bulan? Karunia ini tidak diberikan kolektif kepada kelompok menusia, melainkan kepada pribadi-pribadi yang dihekendaki Allah. Kalaupun kita melakukan i'tikaf berkelompok, hanya orang-orang tertentu yang mengalami Lailatul Qadar. Wassal�mu �alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh. RS --------------------------------------------------------------------- Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
