Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
Setahu saya, doa dan lafadz dzikir apapun bisa dipakai, tetapi yang
terpenting ialah pemusatan pikiran (perhatian) ketika melakukan
dzikir. Bisa saja pikiran kita diarahkan untuk SECARA KONTINU
memperhatikan makna ucapan dalam dzikir.
Satu hal lagi yang penting, i'tikaf itu tidak seperti buruh pasar,
habis kerja langsung dapat upah. Tidak begitu. Dalam i'tikaf ini
yang penting kita tekun melakukannya. Allahlah yang menentukan kapan
akan membayar upah itu. Kalau bukan tahun ini, mungkin tahun depan.
Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS
Bambang Edy wrote:
>
> Assalamu'alaikum Wr. Wb.
>
> Menarik sekali uraian tentang I'tikaf & Lailatul Qadar yang disampaikan
> oleh Pak R.Sunarman, Alhamdulillah ... hal tersebut sangat bermanfaat
> bagi kami pribadi yang Insya Allah akan kembali berikhtiar untuk
> menggapai "Lailatul Qadar" melalui I'tikaf di Masjid.
>
> Apabila pada Ramadhan tahun lalu dalam I'tikaf saya merasakan adanya
> kekurangan pada diri saya, entah apakah jiwa saya yang belum benar-
> benar bersih, atau barangkali ada kekilafan/ dosa yang tidak terasa,
> sehingga pengalaman bathin yang saya dambakan tidak terasa.
>
> Barangkali Pak Sunarman atau akhi lainnya ada yang dapat membantu
> memberikan panduan kepada saya, bagaimana I'tikaf yang sebaik-baiknya
> atau barangkali ada do'a khusus (lafaz zdikir tertentu misalnya) yang
> harus diamalkan dalam pelaksanaan I'tikaf tersebut, untuk menguak
> hijab/ tabir rahasila illahi pada malam Lailatul Qadar tersebut ??
>
> Demikian, kami tunggu postingnya
> Billahi taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum Wr. Wb.
>
> Bambang Edy
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]