Tubagus Syamsudin wrote: > Assalamu'alikum Wr Wb > > Secara umum saya sependapat dengan mBak Yani bahwa peranan > seorang guru (mursyid) memang penting - dan tidak menutup > kemungkinan untuk menggali Hidayah dari mana saja. > > Disamping itu ada beberapa statement yang perlu saya komentari > : > MBak Yani wrote : > Apa yang kita baca, dengan, lihat dengan indera lahiriah hanya > masuk ke dalam akal, tidak menembus ke dalam ruhani. > > Menurut saya : Justru akal adalah interface (antarmuka) ruhani > sebagaimana : Agama tidaklah diturunkan kecuali untuk > orang-orang yang berakal. > Disamping itu media lain yang anda simak (termasuk milis ini) > dapat juga untuk transfer spiritual. Bahkan mungkin telepati > (untuk yang cukup berbakat). > Bagi yang sudah menjalani thariqat akan "merasakan" (walaupun sedikit) perbedaan fungsi akal, hati (awam), ruh atau jiwa. Akal adalah produk otak (jasad--kasar). Sedangkan Ruh adalah karunia Tuhan, bukan berasal dari tanah, air atau udara, ia sangat halus sekali. Dimensi Ruh lebih tinggi daripada dimensi akal. Dalam keadaan tidak sadar (pingsan,tidur) akal mati, sedangkan ruh masih aktif (hidup), selama hayat dikandung badan. Sebagai gambaran : Terbukti, metode thariqat berhasil dengan gemilang dalam memperbaiki akhlak manusia, seperti anak-anak nakal, pecandu narkotik, preman, dll dalam waktu singkat dapat berubah menjadi pemuda yang taat pada agama. Karena metodenya langsung "menembus" ke dimensi Ruh, tempat bercokolnya iblis, sumber nafsu dan sumber akhlak yang dihantam dengan 'dzikrullah'. "Jika yang Haq telah datang, maka hancurlah yang batil". Kalau anak-anak nakal itu hanya diceramahi atau disuruh baca buku tebal tentang akhlak, maka apakah ini akan berhasil? Contoh lagi [pengalaman] : Waktu ada ceramah di pesantren, ustadz dalam do'anya selalu membuat hadirin menangis, karena kata-katanya yang "menyentuh". Menangis yang berasal dari kalimat yang kita dengar, kemudian diolah oleh otak. Kemudian di dalam thariqat [tanpa diceramahi], dengan 'menyebut' Kalimah Allah (dzikrullah) yang "menembus" ke dalam Ruh [yang tidak memerlukan peranan otak lagi], hingga membuat hati gemetar, dan otomatis air mata bercucuran. Karena sentuhan lembut Kalimah Allah. Sehingga jadi ingat Q.S Al Anfal ayat 2 sbb : "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.........." Ingat, ketika Rasulullah SAW menerima wahyu sering dalam keadaan yang berat dan payah, walaupun di musim dingin, beliau mencucurkan keringat. Tapi setelah itu segar kembali. Karena Al Qur'an itu menembus ke dalam Ruh Rasul, bukan saja masuk ke dalam otak beliau. Hingga akhlak beliau (pangkalnya ada di hati bukan otak) adalah Al Qur'an, dan beliau adalah Al Qur'an berjalan. Karena hati beliau adalah [berisi] Al Qur'an, maka seluruh tubuh beliau juga [memuat] Al Qur'an. > MBak Yani wrote : > Kalau ada orang yang menempuh thariqah sendiri tanpa Guru, > misalnya dia dibimbing oleh Allah melalui Nabi Khaidir atau > yang lain. Ini adalah memang orang "terpilih" oleh Allah, bukan > untuk orang yang "memilih" dalam menjalani "thariqah". Jadi > secara umum, hanya Mursyid yang dapat memberikan "petunjuk" di > dalam jalan kerohanian. > > Apakah dalam statement ini mBak Yani ingin membatasi cara > bagaimana hidayah Alloh itu sampai, itu khan melangkahi Alloh > ??? > Saya kira penafsiran mBak yani ttg QS Al Kahfi 17 tentang Wali > yang menyampaikan petunjuk terlalu dibatasi. > Allah mempunyai Qudrat dan Iradat, Maka Kuasa dan Maha Berkehendak. Tuhan telah membuat aturan-aturan dan hukum-hukum yang berlaku bagi alam semesta beserta isinya, yang disebut Sunnatullah. Sunatullah itu berlaku bagi alam fisik maupun metafisik, dan keduanya paralel, tapi hukum di alam metafisik lebih tinggi daripada di alam fisik. Hukum-hukum yang ada di alam fisik bisa dijadikan "perumpamaan" bagi alam metafisik. Bukankah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan untuk melipatgandakan petunjuknya kepada manusia. Rasulullah bersabda : "Islam itu Ilmiah dan Amaliah". Jadi bukan agama 'dogma' dan bukan 'spekulasi'. Di dalam ilmu eksakta kita mengenal berbagai formula yang umum, tapi dalam kondisi terntentu ada yang tidak 'menaati' formula tersebut, yang disebut "anomali". Di alam metafisik-pun ada aturan yang umum dan aturan yang khusus (anomali). Allah memberikan "petunjuk"-Nya melalui utusannya, yaitu para Rasul dan para Nabi (juga para Malaikat). Setelah Nabi tidak ada, ada pewaris Nabi. Di dalam Al Qur'an Allah menyebutnya orang yang memberi petunjuk adalah "Waliyam Mursyida". Petunjuk disini saya batasi, yaitu petunjuk di dalam melakukan perjalanan menuju Allah SWT. Aturan umum, petunjuk melalui Mursyid (yang artinya adalah orang yang memberi petunjuk/irsyad). Kemudian ada aturan khusus, Allah bisa memberikan petunjuknya melalui Nabi Khidzir, malaikat, dll. Ini berlaku khusus bagi orang yang "khusus", "terpilih". Yang berarti bahwa ini sangat jarang sekali, tidak berlaku bagi orang kebanyakan (umum). Jika ada orang yang dapat 'petunjuk' (Allah) tanpa bimbingan Mursyid, berarti beliau itu orang "khusus". Yang tidak bisa begitu saja ditiru oleh orang lain (umum), yang tidak "terpilih". Wallahu a'lam > Wassalam Ww > >
--------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
