Assalamu'alaikum wr. wb. PEMIMPIN SEMPURNA. Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, pemimpin besar - Nabi Muhammad SAW bersabda kepada para sahabat : "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku. Aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah !!!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata : "Dahulu ketika engkau memeriksa barisan disaat kita akan pergi perang. Pada saat itu engkau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini !!!" Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Umar langsung berdiri dan siap 'membereskan' orang itu. Nabi pun segera melarangnya. Nabi malah menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka. Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi yang putih bersih. Nabi berkata : "lakukanlah !!!". Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Para sahabat tak kuasa menahan betapa Nabi yang sangat mereka cintai akan dipukul oleh bawahannya. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu !. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah". Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar"... berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Rasul yang mulia itu. Inilah pelajaran besar buat kita. Seorang pemimpin besar sekaliber Nabi tidak hendak menyakiti pengikutnya. Beliau bersedia meminta ma'af dan bahkan bersedia diqishash dalam menjalankan roda kepemimpinannya. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan mema'afkan sebelum yang kita sakiti mema'afkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Dalamkonsep Islam, setiap kita adalah pemimpin. Sebagaimana Sabda Nabi, "Setiap kamu adalah pemimpin dan akan ditanya terhadap kepemimpinannya." Semoga kisah ini bermanfaat. Dan menambah kecintaan kita kepada Rasulullah SAW. Amiin. Wassalam. Peace >>Anto<< Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (Q.S. Az Zumar: 18) --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
