Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Ikutan ya, pak Sihim dan pak Ahmad,
Wargino Sihim wrote:
>>Rasanya fakta-fakta ini hanyalah membawa saya meyakini berlawanan
>>dengan keyakinan saudara Wargino. Saya justru meyakini bahwa dunia ini
>>semakin lama akan semakin baik, meski melalui beberapa cobaan.
>
>Saya percaya anda yakin akan datangnya hari Qiamat. Konon menurut yang
>pernah
>saya dengar kiamat itu akan terjadi di saat dunia ini sudah demikian
>parahnya
>aklak manusia sudah bejat, tidak ada orang yang menyeru kepada kebaikan,
>bahkan
>suara adzan pun tidak terdengar lagi dsb.... intinya kondisi dunia sudah
>sangat
>rusak.
>Kalau tanda-tanda itu benar, maka kesimpulan anda bahwa dunia ini semakin
>lama
>semakin baik, bilamana akan terjadi kiamat?
Memang sejauh yang pernah saya dengar, ada pendapat tentang
spiritualitas manusia di dunia yaitu semakin baik atau semakin buruk,
masing-masing dengan argumen dan variasi masing masing.
--------------------
Semakin Baik
--------------------
Yang meyakini semakin baik menggambarkannya seperti grafik yang meski
ada naik-turun tetapi memiliki kecenderungan naik. Jadi seperti juga
sejarah turunnya rasul-rasul maka diin cenderung semakin sempurna. Diin
yang turun pada umat Adam AS misalnya tentunya jauh lebih sederhana
daripada Diin yang turun pada umat Isa AS, demikian juga diin pada umat
Muhammad SAAW adalah lebih sempurna daripada daripada diin pada umat Isa
AS. Dengan kesempurnaan diin ini maka manusia lebih jauh mampu mengenal
tuhannya dengan benar.
Pendapat ini persis seperti yang diwakili pak Ahmad, meyakini bahwa
Kehendak Allah berupa kebaikan itu pasti menang, maka bila diperlukan
pada saat di suatu kaum tidak ada lagi yang menolong agama Allah maka
Allah akan menurunkan azab dan menggantikan dengan umat lain yang
bersedia menolong agama Allah.
Dan semua ini berlaku hingga kiamat kelak. Jadi dalam pendapat ini,
sesaat menjelang kiamatpun akan terjadi azab Allah yang bertujuan untuk
membentuk umat yang "Mencintai Allah dan Allah mencintai mereka". Kiamat
sendiri hanya Allah yang tahu waktunya. Bahwa azab Allah sebelum kiamat
tsb begitu besarnya dan dibarengi dengan tanda-tanda tertentu (sebagian
menunjukkan kelalaian yang keterlaluan dari umat islam) menjelang
kedatangan Imam Mahdi.
Jadi menurut pemahaman ini, hadist-hadist yang bercerita tanda-tanda
menjelang munculnya Imam Mahdi, dimana menggambarkan segolongan umat
islam yang keterlaluan dalam melalaikan ajaran agamanya, sama sekali
tidak menunjukkan penurunan kualitas pemahaman terhadap islam. Bahkan
setelah munculnya imam Mahdi digambarkan bahwa beliau berserta umat
islam mampu memporak-porandakan usaha kafirin untuk memadamkan cahaya
Allah.
Agar Allah menetapkan yang hak dan membatalkan yang batil walaupun
orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya. (QS. 8:8)
Dan katakanlah:"Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap".
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS.
17:81)
[Rasulullah ketika menaklukkan Mekkah dan menghancurkan berhala-berhala
yang mengelilingi kakbah, diriwayatkan membaca berulang-ulang ayat QS
17:81. "Jaal haqqa wa zahaqal Baathila, Innal Baathila kaana zahuuqa"].
Dalam pemahaman ini, bagaimanapun juga Allah akan terus menerus
mengirimkan petunjuknya pada "Orang yang bertemu diri" untuk mampu terus
menerus membimbing umat manusia semakin mendalam memahami kebenaran.
Dalam pemahaman ini, bagaimanapun Kehendak Tuhan akan selalu menang, dan
Kehendak Tuhan adalah kebaikan bagi umat manusia. Dan kebatilan akan
pasti lenyap.
----------------------
Semakin Buruk
----------------------
Pendapat semakin buruk biasanya berdasarkan penggambaran menjelang
kiamat bahwa keadaan umat islam yang demikian parahnya dalam melalaikan
ajaran umatnya.
Dalam sebagian orang yang berpendapat demikian ini, Nabi & Rasul
diturunkan karena umat yang sudah melenceng sehingga Allah menganggap
perlu untuk menurunkan Nabi/Rasul. Ajaran semua Rasul itu tetap satu,
dan tidak menuju kepada kesempurnaan tertentu. Jadi kalau digambarkan
grafik maka keadaan spiritualitas manusia adalah naik-turun, dan
mencapai puncak pada saat turunnya seorang Nabi/Rasul ke bumi. Setelah
meninggalnya Nabi/Rasul tsb maka keadaan hanyalah semakin memburuk,
hingga munculnya Nabi/rasul berikutnya. Sehingga setelah Allah tidak
lagi menurunkan Nabi (setelah khataman nabiyyin) maka keadaan akan
semakin memburuk hingga kiamat kelak.
Sebagian lagi menganggap diin Allah (dengan turunnya Nabi & Rasul)
semakin lengkap dan sempurna hingga ke Muhammad SAAW. Tetapi setelah itu
keadaan akan terus memburuk kembali hingga menjelang kiamat. Orang-orang
ini beranggapan bahwa masyarakat yang paling sempurna adalah pada zaman
Rasulullah SAAW, dan selanjutnya yang terjadi adalah keadaan semakin
memburuk. Zaman keemasan islam adalah pada masa kehidupan Rasulullah
SAAW dengan dikelilingi sahabatnya. Umat islam betapapun juga tidak akan
pernah mampu kembali mencapai kualitas seperti zaman tsb.
>>Bahwa AlQuran mengakui adanya kehendak bebas manusia jelas terekam
>>dalam banyak ayat Al-Quran seperti:
>>Dan katakanlah:"Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa
>>yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin
>>(kafir) biarlah ia kafir". ......QS. 18:29)
>
>>Dalam ayat tersebut jelas dikatakan bahwa barangsiapa yang INGIN
>>beriman hendaklah ia beriman, barangsiapa yang INGIN kafir biarlah ia
>>kafir. Jelas sekali ada kehendak bebas manusia dalam hal ini.
>
>Bagaimana pendapat anda tentang ayat berikut ini:
>"Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya,
>supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.
>Maka Allah MENYESATKAN siapa yang Dia kehendaki, dan MEMBERI petunjuk
>kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi
>Maha Bijaksana" (QS.Ibrahim:14).
Mengenai ayat-ayat yang demikian dimana Allah mengatakan "Allah
menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya", atau Allah mengatakan "Dan
Allah menutup hati mereka, sehingga mereka dalam kesesatan yang nyata"
atau ayat-ayat lain di dalam AlQuran yang senada dengan ayat-ayat
lainnya, selalu didahului dengan cerita perbuatan manusia tersebut
sehingga mengapa Allah melakukan demikian. Sejauh yang saya pernah
teliti, ayat-ayat demikian secara konsisten selalu didahului deskripsi
perilaku manusia tersebut yang menyimpang dari jalan kebenaran Allah.
Dalam kaitannya dengan ayat Ibrahim:4 (sekalian koreksi, bukan
Ibrahim:14), maka Allah sebelumnya (dalam QS 14:3) menceritakan bahwa
sekelompok manusia kafir lebih menyukai kehidupan dunia dan menghalangi
manusia dari jalan Allah bahkan menginginkan agar jalan tersebut
bengkok. Untuk manusia dengan karakteristik seperti inilah Allah
menyesatkan siapa yang dia kehendaki.
(yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada
kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan
menginginkan agar jalan Allah itu bengkok.Mereka itu berada dalam
kesesatan yang jauh. (QS. 14:3)
Menurut pemahaman saya, ayat ini sama sekali tidak menutup kehendak
bebas manusia bahkan justru menceritakan dengan gamblang kehendak bebas
manusia yang berbuat maksiat hingga menurunkan tingkatan jiwanya kepada
tingkatan yang rendah sekali sehingga sekalian oleh Allah ditutup mata
hatinya. Bagaimanapun juga saya yakin kok bahwa Allah tidak semena-mena
terhadap makhluknya. Rahmat Allah mungkin diberikan tanpa reserve apapun
tetapi azab Allah selalu didahului perbuatan manusia itu sendiri.
Sehingga Allah tidak mungkin menyesatkan manusia (maha suci Allah dari
sifat yang demikian).
Astaghfirullah, semoga kita dijauhkan dari cara berpikir yang memberikan
atribut yang buruk kepada Allah SWT. Ya Allah berikanlah ilham kepadaku
agar selalu mensyukuri nikmat-Mu.
>Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)