Ass' wr' wb'
saya nggak apriori koq terusin aja:
sekedar intermezo:
    selamat anda mengendarai BMW seri 7 untuk sesaat ini bolehlah anda
istirahat. tapi jangan lama-lama. segeralah ganti mobil anda dengan yang lebih
baru lagi yang secara cepat muncul yang lebih baru. Tentunya, dan saya harap,
anda setuju bahwa BMW7 yang hanyalah PIJAKAN untuk seri berikutnya  yang
tentunya lebih handal lagi. 
Ini usulan saja, sebaiknya anda segera berjalan lagi, jangan lama-lama
istirahat, kasihan yang membuat mobil anda. Jauh-jauh dan suatu perjuangan
orang membuat mobil, sampai bmw7, dari jamannya pak daimler, pak benz, pak
otto, pak diesel adalah untuk bergerak biar sampai ke tujuannya dengan selamat
sukur-sukur nyaman. Radio, tv, vcd itu kan pelengkapnya. 
maaf kepanjangen.

NB. Pak sunarman bagaimana kalau 'diri' yang harus dibunuh itu kita bahas
tentunya menarik.
Tks



"Rozy Andrianto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Yup, penjelasan anda jelas sekali. Saya kira sudah cukup berdiskusi dengan
anda, dengan pertimbangan banyak rekan yang apriori dengan diskusi kita kali
ini (dengan sindiran jalan raya, penonton, kendaraan, pengamat, sudah punya
kendaraan sendiri, tidak ada manfaatnya, tidak ada gunanya, bermental
pengamat, berhenti di pinggir jalan, mengaku mobil Mercedes benz tetapi
malah cuman berhenti dipinggir jalan memang mengganggu pengendara lainnya,
dll).

Padahal perasaan saya Insya Alloh diskusi kita ini justru membantu anda
mengenalkan Tasawuf kepada rekan yang belum tahu. Dan saya rasa cukup
efektif untuk membuat tertarik. Dan bagi saya lebih mengerti posisi tasawuf
itu. Namun apa boleh buat, orang yang "sok dengan tasawufnya" dan
menertawakan "orang diluar tasawuf" , membuat saya malas berpikir untuk
melanjutkan diskusi ini.

Saya akan meminggirkan kendaraan saya, dan kendaraan saya bukan Mercedes
Benz, tetapi BMW seri 7 terbaru. Dan atas peringatan anda semua, saya
berhentinya di tempat aman kok, yaitu di tempat peristirahatan. Disini saya
akan tetap sebagai pengamat, dan bila ada kendaraan lewat yang menarik
(apalagi yang disopiri dengan mas R. sunarman). Saya akan kejar dengan mobil
BMW saya(tidak sulit khan dengan mobil BMW), untuk saya beri pertanyaan.
Meanwhile, saya akan santai di mobil saya, kebetulan dilengkapi dengan radio
tape super bass, TV, dan VCD untuk memutar seri Kera Sakti terbaru.

Thanks Mas R. Sunarman, I am enjoying discussion with you, I hope we'll meet
again soon...
Rozy

---------------
-----Original Message-----
From: R. Sunarman <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 16 Maret 1999 6:51
Subject: Re: [Tasawuf] Rujak cingur


>Rozy Andrianto wrote:
>
>> sebagai orang yang sudah melihat dan merasakan Surga. Apakah
>> cara merasakan dan melihanya itu seperti Isro' mi'roj-nya Nabi Muhammad.
>> Dimana Nabi atas ijin Alloh diajak mengunjungi surga dan neraka.
>
>Ya, semacam itu, tetapi dalam kapasitas yang berbeda.
>Sebetulnya, kalau kita shalat dengan benar-benar khusyu', saat itu
>kita mengalami mi'raj.
>
>> Bagaimana sesuatu hal yang ghoib dan hanya dapat dirasakan setelah mati,
dapat
>> dirasakan ketika orang masih hidup?? Jangan bilang saya harus mengikuti
>> prosedur tasawuf dulu, lho.. Mungkin mas R. Sunarman dapat menerangkan
>> singkat prosesnya secara ilmiah dan masuk akal untuk dapat langsung
>> merasakan tersebut.
>
>"Mati" itu tidak harus mati. Orang dapat "mati" selagi masih hidup,
>berkali-kali "mati" sesuka hati. Mi'raj hanya bisa dilakukan kalau
>seseorang itu "mati". Nabi pun begitu: beliau "mati" ketika mi'raj.
>
>Mungkin anda dapat menemukan sendiri hadits yang berisi ungkapan
>"mati sebelum mati". [saya lagi nggak mood untuk mencari, nih].
>Dalam Al Qur'an juga ada perintah "bunuhlah dirimu" [2:54, 4:66],
>tetapi janganlah ini ditafsirkan secara harafiah menjadi
>"bunuh diri" [suicide]. Tasawuf menjelaskan bagaimana cara "membunuh
>diri" yang bukan bunuh diri. Caranya? Dengan shalat tahajjud, shalat
>istikharah, dzikir, puasa Senin-Kamis dll.  Jadi sesungguhnya
>cara-cara itu tersembunyi di balik ibadah-ibadah ritual kita, tetapi
>dengan diberi penekanan-penekanan tertentu dan peningkatan intensitas;
>yang detailnya saya nggak berani membukanya di dini. Hanya seorang
>mursyid yang berhak. Tetapi [Lihat jawaban di bawah mengapa saya tak
>berani membuka.]
>
>Kalau anda ingin dapat melihat keghaiban tanpa melalui prosedur
>tasawuf anda harus mendapat dispensasi dari Allah.
>Silakan mengajukan permohonan sendiri. Itu urusan anda dengan Allah.
>Belajar dari mursyid sebenarnya merupakan kolusi dan nepotisme karena
>kita memanfaatkan kedekatan dan hubungan khusus mursyid itu dengan
>Allah. Seandainya anda punya hubungan langsung dengan Allah, buat apa
>belajar dari mursyid?
>
>> Apakah prosedur tersebut bersumber dari Nabi, atau dari
>> pengalaman masing-masing mursyid??
>
>Apa yang dilakukan Nabi di Gua Hira selama 40 hari, pada hakikatnya
>adalah 'membunuh diri sendiri'. Begitupun Nabi Musa yang bermunajad di
>gunung Thur selama 40 hari, tidak jauh dari hakikat yang sama.
>Metode "membunuh diri" atau "bermunajad" itulah yang ditiru dan
>dikembangkan para mursyid. Variasi memang ada sebagai akibat dari
>pengembangan itu, dan karena itulah banyak terdapat aliran-aliran
>tariqat; tiap aliran mempunyai metode sendiri yang khas.
>
>> Dan yang masih dalam benak saya, dan Insya Alloh pernah saya ajukan dan
>> milis ini dan belum terjawab. Dan juga sebagai penjembatan diskusi kita,
>> karena mas R. SUnarman yang ber"tasawuf" dan saya yang hanya ber"Qur`an
>> Hadits". Mas R. Sunarman saya ajak ke masalah hadits, karena tentu mas R.
>> SUnarman "paham" tentang hadits dimana hadits itu yang saya imani, sedang
>> saya tidak tahu ilmu tasawuf, tidak seperti anda.
>> Katanya Nabi mengajarkan tasawuf secara khusus dan rahasia kepada
>> sahabat-sahabat tertentu. Apakah peristiwa ini tidak tercatat dalam
>> hadits-hadits yang buanyak itu. Paling tidak walau tidak shohih, yha
dhoif
>> lah.
>
>Ada, dan banyak, tetapi tidak 'diumumkan'. Pusat-pusat aliran tasawuf
>menyimpan koleksinya, tetapi tidak ditunjukkan kepada siapapun
>kecuali orang yang berkompeten. Ini bukan tanpa tujuan.
>
>Ajaran agama dapat dipilah menjadi dua: eksoterik dan esoterik.
>Hadits-hadits yang disembunyikan itu tergolong esoterik. Orang awam
>hanya boleh mempelajari kaidah-kaidah eksoterik. Kaidah-kaidah
>esoterik hanya boleh dijangkau oleh orang-orang telah disucikan
>jiwanya. Sangat berbahaya jika kaidah-kaidah itu jatuh ke tangan orang
>yang kotor jiwanya. Pengetahuan itu hanya dapat bermanfaat bila jatuh
>ke tangan orang-orang yang hatinya telah terlebih dulu "dibelenggu"
>agar hanya berpihak kepada kesejahteraan manusia, kepada kebaikan.
>
>Bahayanya dapat disamakan dengan rumus E=mc2 milik Einstein. Dari
>semula Einstein sendiri tidak mau membuka penemuannya. Ia menyadari
>bahaya apa yang dapat timbul dari pengetahuan itu [bahwa materi dapat
>diubah menjadi energi] bila jatuh ke tangan orang-orang kotor. Namun
>rupanya memang kekhawatirannya terjadi juga: dua bom atom diproduksi
>sebagai senjata pemusnah masal pada PD-II. Sekarang, berapa ratus ribu
>kepala bom nuklir yang tersedia dan siap ditembakkan? Kalau dengan dua
>bom saja Hiroshima dan Nagasaki sudah seperti itu, bayangkan bagaimana
>kalau bom nuklir yang ada sekarang diledakkan seluruhnya?
>
>[QS 13:31 terjemahan Depag]: "Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab
>suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau
>bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati
>dapat berbicara, (tentulah Al Qur'an itulah dia)"
>
>Ayat di atas, biarpun tidak mengandung kata tasawuf atau thariqat, ia
>berbicara tentang thariqat. Dengan menguasai metodologinya, seseorang
>dapat menggoncang gunung dan membelah bumi hanya dengan membaca al
>Qur'an saja. Berbahaya 'kan, kalau orang yang masih kotor jiwanya
>menguasai metodologinya?
>
>Dengan uraian itu kiranya anda mengerti mengapa hadits-hadits itu
>disembunyikan, dan mengapa menu utama tasawuf adalah pembersihan diri.
>Diskusi mengenai hal-hal selain upaya pembersihan diri hanya "kembang"
>penghias, biar nggak monoton. Jadi jangan salah menilai, yang cuma
>intermezo malah dianggap intinya. Tuh lihat, Mas Wargino sudah mulai
>mengeluarkan jurus pembersihan diri itu. Semua orang boleh meniru
>jurus-jurus itu. Tapi, kalau mau belajar "ilmu rahasia", harus minta
>ijin dulu pada pak Mursyid. [Saya sendiri baru boleh melihat sedikit
>karena jiwa saya masih berdaki tebal; sudah direndam Rinso, tapi belum
>mau lepas.]
>
>> Padahal hadits itu sudah "lengkap", sampai masalah di kamar mandi,
masalah
>> di tempat tidur yang rahasia pun diterangkan dalam hadits.
>
>Ya, Al Qur'an sendiri saja sudah lengkap, apalagi ditambah dengan
>hadits dan ditambah lagi dengan khotbah-khotbah para da'i. Semua cukup
>memadai bagi orang awam yang memang jatahnya hanya sebegitu.
>Tetapi, orang yang "nggragas" seperti saya ini seringkali tidak puas
>dengan itu. Misalnya, dari Al Qur'an dan hadits saya tidak dapat
>secara harafiah mengekstrapolasikan petunjuk yang ada untuk menjawab
>seseorang yang datang minta saran "Mas, Bapak saya sakit keras. Sudah
>sebulan memakai alat pacu jantung. Dokter bertanya apakah treatment
>ini diteruskan atau dihentikan. Bagaimana baiknya? Diteruskan, buang-
>buang uang yang sebetulnya diperoleh dengan utang dan kayaknya
>sangat berat untuk mengembalikannya; tetapi kalau dihentikan berarti
>membunuh Bapak."
>
>Dengan berpegang kaidah tasawuf, maka pertanyaan itu dijawab dengan
>menjalani thariqat yang sesuai untuk itu: shalat istikharah disertai
>doa agar ditunjukkan jalan yang lurus. Dengan demikian maka Allah akan
>membisikkan melalui kalbu, "Ya" atau "Tidak", bahkan mungkin juga
>disertai dengan alasan-alasannya. Dengan mengikuti petunjuk itu
>sebagaimana adanya tanpa direkayasa, kita terbebas dari dosa. Jawaban
>semacam ini tidak tertulis di dalam Al Qur'an dan hadits
>[setidak-tidaknya, dalam koleksi yang saya miliki].
>
>
>Wassalaamu'alaikum wr wb.
>RS
>
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)






____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke