Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Menarik sekali diskusi yang diikuti pak Abu Ahmad. 

[Abu Ahmad wrote:]
>1. Ibadah Qurban tidak bisa digantian oleh sodaqoh, karena memiliki 
>tujuan yang berbeda

Iya, rasanya memang begitu. Ibadah qurban kan cuman setahun sekali. Jadi
mestinya berbeda dengan sedekah yang dianjurkan setiap saat. 

>2. Penyembelihan (bukan pembagian) Qurban lebih afdhal dilakukan sendiri
> oleh kepala keluarga muslim di rumah masing-masing dengan beberapa 
>kelebihan dibandingkan bila diserahkan penyembelihan kepada panitia 
>tertentu. Hikmah melakukan sendiri ibadah qurban diantaranya:
>
>- Mampu merasakan keikhlasan (dan kepedihan) nabi ibrahim yang pada saat
> itu merasakan sedang menyembelih anaknya. Barangkali maknanya agar kita
> berserah diri kepada apapun kehendak Allah.

Hih, ngeri saya membayangkan latihan ini. Menempelkan pisau tajam ke
leher hewan qurban dan kemudian menyembelihnya. Saya kira ini latihan
yang sangat berat apalagi ditambah lagi membayangkan bahwa itu adalah
anak kita sendiri ..... Berat sekali. Apakah ketika seseorang muslim
menebas kepala musuh, maka diajarkan seikhlas ketika kita diperintah
Allah menyambelih anak kita sendiri? Berat sekali.....

>- Mampu merasakan ketika hewan tersebut meregang nyawa melepas jiwa. 
>Sehingga kita teringat akan kematian.

Saya kira mengingat kematian adalah hal yang jarang kita lakukan.

>- Mampu membunuh makhluk hidup (?). Sehingga ketika Allah memerintahkan 
>melaksanakan perang maka kita sudah melatih batin kita untuk pasrah 
>dalam melakukannya.

Wah, membunuh makhluk hidup memang mestinya sangat berat untuk orang
yang belum pernah melakukannya. 
Belum pernah saya bayangkan sedalam itu makna menyembelih qurban.
Terimakasih pak Abu Hasan. Barangkali akan lebih mendalam lagi maknanya
jika penyembelihan kurban tsb dikaitkan dengan selesainya ibadah Arofah
dilaksanakan oleh saudara-saudara kita di tanah suci.

>Jadi barangkali saya akan tetap melakukan ibadah kurban yang cuman 
>setahun sekali ini. Sedekah adalah cerita lain yang berbeda.

Sayapun insyaallah akan melakukan kurban dengan pemaknaan yang dikatakan
dalam email pak Abu Hasan ini. Alhamdulillah.
Sebenarnya saya lebih berminat pada diskusi yang lebih menunjukkan
'Sense of Event' seperti ini. Sehingga kita tidak melewatkan suatu
kejadian yang current. Umat islam rasanya memang sudah rada tumpul
"sense of  event"-nya. 

Ketika menjelang Ramadhan kita malah bicara tentang sejarah nabi. Ketika
Maulud kita bicara ibadah Ramadhan. Ketika Ambon membara kita malah
bicara tentang Asuransi. Ketika kejadian di Sambas, kita malah bicara
Ramadhan. Ketika menjelang IdulQurban kita malah bicara
lainnya....dst...dst... Padahal kalau bicara pas pada eventnya maka
barangkali akan lebih bermakna. Barangkali sebenarnya anggota milis ini
sebagian besar cuman pinjam ilmu orang, jadi tidak pernah menyuguhkan
'masakan sendiri'. :-) hehehe.....

Wassalaamu 'alaikum wr. wb

>

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke