Assalamu'alaikum wr.wb.
Bismillahirrahmanirrahim,

Tulisan ini akan mencoba untuk memahami bagaimana Tuhan mengetahui
makhluk-makhlukNya (termasuk
perbuatan-perbuatannya). Namun yang perlu diingat disini adalah bahwa
memahami ilmu Tuhan bukan berarti kita akan dapat
mengerti hakikat ilmuNya. Sebab hakikat ilmuNya hanya diketahui oleh
diriNya sendiri, karena hakikat ilmuNya adalah diriNya
sendiri.

Pada dasarnya   ada dua kemungkinan sifat ilmu  yang dimiliki Allah,
yaitu:
Pertama, adalah sifat ilmu yang tergolong sebagai sifat-zat. Yaitu
ilmuNya terhadap DiriNya sendiri. Dalam hal ini Dia, ilmu dan
obyek ilmuNya adalah sama dan satu yaitu DiriNya sendiri. Oleh karena
itu ilmuNya adalah DiriNya dan DiriNya adalah
ilmuNya. Tidak ada dualisme didalamNya. Satu-satunya perbedaan hanyalah
dalam pengertian dan akal kita saja, sedang pada
hakikat eksistensiNya adalah sama dan satu (bukan kesatuan). Oleh karena
itu kita dapat mengatakan bahwa ilmuNya tidak
terbatas.

Kedua, adalah sifat ilmu yang tergolong sifat-perbuatan, yaitu ilmuNya
terhadap seluruh makhlukNya secara langsung. Sifat
ini jelas tidak ada dan tidak boleh ada karena kalau sifat ini dianggap
ada berarti Dia mengalami proses. Sebab sebelum ada
makhluk Dia tidak mungkin mengetahuinya. Apalagi setelah adapun sebagian
makhluk selalu berproses (bergerak/berubah).
Mungkinkah ilmuNya tidak tsabit dan selalu berubah sebagaimana
berubah-ubahnya makhluk? Bukankah dengan demikian
berarti Allah selalu menyempurnakan DiriNya dengan selalu bermunculannya
makhluk-makhluk atau keadaan yang baru?
Selanjutnya, tidakkah dengan demikian berarti Allah butuh dan terbatas?
Jawabannya tidak bisa lain kecuali bahwa hal itu
adalah mustahil. Sebab keterbatasan adalah ciri wujud-mungkin (makhluk)
sedangkan Allah adalah wujud-wajib yang
mempunyai ciri tidak terbatas.

Kalau ada yang mengatakan: "Allah mengetahui makhlukNya sebelum
penciptaan", maka ini berarti Allah tidak mengetahui
makhlukNya yang ada ini secara langsung karena bukankah dalam hal ini
mahklukNya belum dicipta atau belum wujud/ada?
Sehingga  pernyataan diatas bahwa "Allah mengetahui makhlukNya sebelum
penciptaan" sebenarnya telah mengembalikan hal
ini pada sifat ilmu Tuhan yang pertama yaitu sifat ilmu yang tergolong
sifat-zat.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan (ilmu) Tuhan
tentang mahlukNya adalah secara tidak langsung
karena pengetahuan Tuhan yang langsung hanya terhadap DiriNya. Artinya
untuk mengetahui tentang mahklukNya Tuhan tidak
membutuhkan mahklukNya tetapi cukup dengan mengetahui DiriNya Dia dapat
mengetahui mahklukNya. Sebab sebagai Sang
Pencipta, Tuhan memiliki semua (bahkan jauh lebih sempurna, sebenarnya
Dia tidak bisa dibandingkan dengan apapun jua)
kesempurnaan ciptaanNya/mahklukNya.

Oleh karena itu untuk mengetahui makhlukNya, Tuhan tidak perlu berada
dimana-mana (apalagi ada didalam diri kita) sebab
dimana itu sendiri adalah juga makhlukNya/ciptaanNya sementara kita tahu
bahwa Tuhan tidak terikat atau butuh atau
tergantung pada makhlukNya. Justru makhlukNya sangat bergantung
kepadaNya baik pada proses penciptaannya ataupun
kelangsungan keberadaannya.

Mengenai kebergantungan makhluk kepada Tuhan tersebut di atas perlu saya
beri catatan tersendiri yaitu bahwa
kebergantungan makhluk kepada Tuhan jangan diartikan segala perbuatan
manusia ataupun makhlukNya yang lain yang
mempunyai kesadaran seperti iblis/syetan dan jin (untuk selanjutnya
cukup saya tulis dengan makhlukNya) telah
diarahkan/ditentukan/diprogram oleh Tuhan. Jika kita memahaminya seperti
ini maka sama halnya kita telah membatasi
kesempurnaan Tuhan. Mengapa? Karena dengan demikian selain pengetahuan
Tuhan tentang makhlukNya/manusia akan
menjadi berubah-ubah sebagaimana berubah-ubahnya keadaan/kejadian pada
manusia/makhlukNya, sementara kita tahu
bahwa ilmu Tuhan itu tsabit (tidak berubah-ubah) dan tidak terbatas,
juga berarti kita telah mensifatiNya dengan sifat bakhil
ataupun dzalim karena telah  menahan sesuatu yang diperlukan/dibutuhkan
bagi kesempurnaan/kebaikan manusia/makhlukNya.
Mustahil Tuhan akan berbuat atau mempunyai sifat demikian. Sama
mustahilnya dengan khayalan yang mengatakan bahwa
Tuhan bisa saja memasukkan orang yang sholeh keneraka ataupun memasukkan
orang yang sesat kesurga. Mengapa? Karena
surga tidak bisa bercampur/bersatu dengan kesesatan dan sebaliknya
neraka tidak bisa bercampur/bersatu dengan ketaatan.
Jadi disini masalahnya bukan Tuhan bisa/mungkin atau tidak bisa/tidak
mungkin, tetapi makhlukNya yang bernama surga dan
neraka tersebut tidak akan pernah mampu keluar dari maksud dan tujuan
mereka diciptakan (ingat, bahwa surga dan neraka
adalah termasuk golongan makhluk yang tidak mempunyai kesadaran seperti
batu, gunung dll). Maha Suci Allah dari segala
yang disifatkan manusia/makhlukNya. Dengan demikian masihkah Tuhan
membutuhkan iblis/syetan untuk misalnya
menguji/menggoda/menipu/mengelabui manusia? Sungguh suatu kesyirikan
yang nyata bila ada yang berpikiran demikian,
karena itu berarti Tuhan butuh makhlukNya ataupun
menyetarakan/menyekutukan Dia dengan makhlukNya. Jangan-jangan
pikiran demikian (bahwa iblis/syetan bermanfaat) memang
dihembus-hembuskan oleh iblis/syetan kepada manusia untuk
menjerumuskan manusia pada sesuatu yang sangat dikutuk oleh Tuhan yakni
syirik. Sungguh Tuhan Maha Esa (bukan
kesatuan) dalam segala perbuatan dan  zatNya.

Setelah kita memahami bahwa ilmu Tuhan itu termasuk sifat-zat dan
mustahil sebagai sifat-perbuatan sebagaimana uraian di
atas, maka masih perlukah Tuhan mempunyai mata untuk melihat, mempunyai
telinga untuk mendengar, mempunyai kaki untuk
bergerak, mempunyai tangan untuk berbuat/mencipta ? Jawabannya jelas
adalah tidak! Sungguh suatu kejahilan yang nyata bila
ada yang mem-personifikasi Tuhan dengan mengkhayalkan bahwa Tuhan butuh
itu semua untuk mengetahui/mencipta
makhlukNya.

Demikian tulisan saya mengenai ilmu Tuhan yang telah saya coba untuk
sesederhana mungkin dan mudah dipahami. Walaupun
demikian bilamana ada rekan-rekan yang masih perlu penjelasan lebih
lanjut, jangan segan-segan menghubungi saya.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat sedikit membantu memperjelas kesimpang
siuran ataupun kerancuan yang ada disekitar kita.

Alhamdullillah Robbul'alamin.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Syariefudin Algadrie.

NB: Ini saya postingkan kembali karena yang sebelumnya kosong. Maaf.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke