[EMAIL PROTECTED] wrote: > Assalaamu 'alaikum wr. wb. > > Alhamdulillah, saya sependapat dengan pak Syariefudin, bahwa Allah hanya > mencipta kecuali hanya kebaikan. > > Mohom tambahan penjelasan tiga pertanyaan berikut ini pak : > > 1. 'ADA' itu apa? > 2. Mengapa bisa ada 'ADA'? > 3. Bilakah berawalnya dan berakhirnya ADA? > > Kurang lebih mohon maaf, > Wassalamu'alaikum wr wb, > Wargino > > Assalamu'alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim. Saya juga mengucapkan syukur Alhamdulillah atas kejelian/kejernihan pak Wargino dalam memahami kebaikan dan keburukan. Tentang 3 pertanyaan pak Wargino tersebut di atas, mudah-mudahan jawaban saya berikut ini dapat memuaskan pak Wargino dan rekan lain yang ingin mengetahui persoalan ini. Insya Allah. Saya akan memulai dari pertanyaan pertama yaitu 'ADA itu apa? 'ADA' sama dengan WUJUD atau EKSIS, baik materi maupun non-materi. Wujud terbagi atas 2 (dua) bagian yakni wujud-luar dan dalam akal. Wujud-luar akal (atau untuk singkatnya kita sebut saja wujud-luar) adalah eksistensi yang berada diluar akal kita, seperti manusia, binatang, tumbuhan dll. Sedang wujud-dalam akal (untuk singkatnya biasa disebut wujud-dalam) adalah wujud semua itu dalam akal atau pemahaman kita, seperti pemahaman kita tentang manusia, binatang, tumbuhan dll. Wujud-dalam atau pemahaman kita tentang segala sesuatu kalau dihubungkan dengan wujud-luar, akan terbagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu: wajib, mungkin dan mustahil. Wujud-dalam yang wajib atau untuk singkatnya kita sebut saja wujud-wajib adalah segala sesuatu diluar akal yang keberadaannya/kewujudannya merupakan suatu keharusan atau mesti. Sedang wujud-dalam yang mungkin atau untuk singkatnya kita sebut saja wujud-mungkin adalah segala sesuatu diluar akal yang keberadaannya tidak merupakan keharusan dan tidak terlarang, maksudnya mempunyai kemungkinan yang sama untuk menjadi wujud dan tidak wujud. Wujud-mungkin ini identik dengan essensi karena sama-sama tidak mempunyai kekuatan sendiri untuk menjadi wujud atau tidak wujud.Adapun wujud-dalam yang mustahil atau untuk singkatnya disebut saja wujud-mustahil adalah segala sesuatu yang kewujudannya diluar akal merupakan hal yang tidak mungkin terjadi, seperti keberadaan anak mendahului keberadaan bapak kandungnya/ibu kandungnya, sekutu Tuhan dll. Wujud-wajib masih terbagi lagi menjadi 2 (dua) bagian yakni : wujud -wajib karena zatnya sendiri dan wujud-wajib karena yang lain. 'Wujud-wajib karena zatnya sendiri' adalah yang keharusan kewujudannya disebabkan karena zatnya sendiri dan bukan oleh yang lain, seperti Allah. Sedang 'wujud-wajib karena yang lain' adalah segala sesuatu yang keharusan wujudnya disebabkan oleh yang lain, seperti keharusan adanya akibat setelah adanya sebab. Telah disebutkan di atas bahwa wujud-mungkin tidak mempunyai kekuatan sendiri untuk menjadi wujud dan atau tidak-wujud. Maka dari itu untuk menjadi wujud, wujud-mungkin memerlukan sebab yang tentunya juga harus wujud. Hal ini sesuai dengan kaidah realita yang mengatakan: "yang tidak mempunyai, tidak bisa memberi" (faaqidusy syaiin laa yu'thiy). Oleh karena itu yang bisa memberikan wujud (akibat) adalah sesuatu (sebab) yang harus wujud juga. Sedang untuk menjadi tidak-wujud, sebabnya adalah tidak adanya sebab. Jadi sebab wujud-mungkin tidak menjadi wujud adalah karena tidak adanya sebab. Ketika wujud-mungkin telah memiliki sebab yang sempurna atau lengkap maka wujud-mungkin tersebut menjadi wajib untuk wujud/ada/eksis. Karena itu dalam hukum realita dikatakan: "yang belum wajib, tidak akan wujud/ada/eksis" (maalam yajib, lam yuujad). Namun yang perlu tetap diingat disini adalah bahwa kewajiban tersebut adalah kewajiban karena yang lain dan bukan karena zatnya sendiri, yakni karena adanya sebab yang sempurna/lengkap yang telah dipunyainya. Oleh karena itu semua wujud-luar, selain Allah, juga disebut wujud-wajib karena yang lain. Mungkin kita sering mengalami kejadian yang tidak kita inginkan, kita menginginkan begini tetapi yang terjadi begitu.Walaupun tidak kita inginkan tetap saja hal itu terjadi. Mengapa? Inilah rahasianya, yaitu karena kejadian yang kita inginkan tersebut, setelah melalui ikhtiar/upaya kita, tidak/belum mempunyai sebab yang lengkap/sempurna untuk menjadi wujud, sementara kejadian yang tidak kita inginkan tersebut telah mempunyai sebab lengkap/sempurna sehingga walaupun tidak kita inginkan dia wajib terjadi/wujud. Jadi upaya kita tersebut tidak/belum merupakan sebab lengkap yang dapat mengakibatkan hasil yang kita inginkan.Sungguh benar/tepat tuntunan agama kita,Islam, yang mewajibkan kita untuk berikhtiar lebih dahulu baru kemudian bertawakal, dan tidak putus asa bila menghadapi kegagalan tetapi istiqomah (ulet/tekun) disertai dengan doa agar kita diberi jalan untuk menemukan sebab lengkapnya sehingga upaya kita dapat berhasil seperti yang kita harapkan. Dengan demikian, sesuatu yang telah wajib/mesti terjadi (karena telah memiliki sebab yang sempurna/lengkap) maka pasti terjadi/terwujud. Sehingga kalau kita renungkan lebih dalam, segala sesuatu di alam semesta ini pasti menuju kesuatu titik tertentu tergantung dari sebab yang dimilikinya. Jadi sebenarnya, di alam semesta ini tidak ada yang namanya kebetulan maupun relativ. Kebetulan dan relativ sebetulnya adalah pemahaman dalam akal kita saja, tetapi realitanya diluar akal kita tidak wujud. Karena itu kita jangan pernah ragu (pada dasarnya keraguan itu dihembuskan oleh iblis/syaitan) bahwa kalau kita menjalankan semua perintah Allah dengan benar dan menjauhi segala laranganNya dengan benar juga, maka pasti Allah akan mengganjarnya dengan surga. Dan kalau kita sesat/ingkar, maka pasti Allah akan mengganjarnya dengan neraka. Apalagi Allah telah memberitahu kita bahwa janji Allah itu pasti. Kembali kepersoalan di atas, ada kaidah realita yang lain yaitu: " sebab sempurna/lengkap yang sama selalu menghasilkan akibat yang sama pula". Sebagai contoh kita ambil misalnya air. Kita akan menemukan ikatan 2 atom Hidrogen dan 1 atom Oksigen (disebut sebab, dan ini paling tidak adalah sekurang-kurangnya sebab yang harus dimiliki ) selalu berwujud air (disebut akibat), kita tidak pernah menjumpai ikatan H2O berupa wujud lain kecuali air. Atau sebaliknya, kita tidak pernah menjumpai air yang penyebabnya tidak terdapat ikatan atom Hidrogen dan Oksigennya. Atau contoh lain, cahaya akan selalu menyebabkan terang, kita tidak pernah menjumpai kegelapan yang diakibatkan oleh cahaya. Yang selalu kita jumpai adalah bahwa gelap disebabkan karena tidak adanya cahaya. Oleh karenanya untuk menerangi suatu ruangan/tempat kita akan memberi cahaya pada ruangan/tempat tersebut, dan bukan malah menghalangi/meniadakan cahaya pada ruangan/tempat itu.Dan masih banyak contoh lain sebanyak wujud yang terhampar dialam semesta ini. Dari kaidah realita ini timbullah keberaturan di alam semesta ini. Tanpa kaidah ini, ilmu pengetahuan (baik umum maupun agama) tidak akan pernah bisa eksis. Dunia akan kacau balau tanpa adanya keberaturan tersebut. Misalnya: untuk membesarkan/merawat anak, kita akan membunuhnya; ketika kita sakit, kita akan kebengkel kendaraan untuk mengobati/menyembuhkan penyakit tersebut; untuk menghindari mabuk, kita akan minum minuman keras sebanyak-banyaknya; untuk membersihkan/mensucikan tubuh, kita akan melumuri tubuh kita dengan kotoran; agar dicintai Allah, kita akan melanggar laranganNya atau menjauhi seruan/perintahNya; dan lain sebagainya. Dengan adanya hukum realita sebab-akibat dan keberaturan sebagaimana diuraikan di atas, masihkah ada orang yang berpikir bahwa Allah perlu/harus mengendalikan/mengatur alam semesta ini saat demi saat secara langsung? Masih perlukah/haruskah Allah menentukan perjalanan hidup kita, juga secara langsung? Kalau ada yang berpikiran demikian, apakah bukan malah merendahkan Allah Yang Maha Tinggi? Mengapa? Karena telah memaksakan Allah Yang Tidak Terbatas menjadi terbatas. Sebab, ' yang terbatas tidak akan mampu menerima yang tidak terbatas' atau 'yang kecil tidak akan mampu menerima yang besar' (misalnya cangkir yang biasa kita pakai dirumah tidak akan mampu menerima/menampung seluruh air lautan yang ada didunia ini, bahkan kalau kita perhatikan air lautan itupun sebenarnya masih terbatas juga). Atau, karena telah membuat Tuhan menjadi terangkap atau berunsur atau bersebab paling tidak sebanyak wujud yang wujud di alam semesta ini, sehingga sama halnya menyamakanNya dengan makhluk/alam semesta yang cirinya adalah mempunyai rangkapan atau berunsur atau bersebab (ingat kaidah realita: 'yang tidak punya, tidak bisa memberi' ). Padahal Allah itu Esa/Ahad/Satu dan bukan kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur ataupun rangkapan. Kalau kita perhatikan maka kebutuhan akibat kepada sebabnya tidak hanya pada proses kewujudan akibat pertama kalinya tetapi juga bagi kelangsungan kewujudan/keberadaan akibat tersebut seterusnya. Seperti contoh air di atas, maka kebutuhan air kepada hidrogen dan oksigen tidak hanya pada waktu kewujudan air pertama kalinya tetapi juga pada kelangsungan kewujudan air tersebut seterusnya. Kalau misalnya unsur hidrogen kita hilangkan atau kita ambil dari air maka air tersebut tidak akan eksis lagi. Misalkan contoh lain yaitu dinding tembok, kalau misalnya semen, pasir dan batu batanya kita ambil maka eksistensi dinding tembok itu tidak akan bisa bertahan. Dari uraian di atas mengenai 'ADA' atau wujud, dengan mudah kita akan bisa menjawab pertanyaan kedua dan ketiga. Adanya wujud atau 'ada' atau akibat adalah karena adanya sebab, dan akibat ini akan menjadi sebab untuk akibat yang lain demikian seterusnya. Dan akibat/ada/wujud selalu membutuhkan sebab baik bagi pertama kali kewujudannya maupun bagi kelangsungan wujudnya. Dengan demikian kewujudan sesuatu akan berakhir bila tidak memiliki sebabnya lagi. Lalu bagaimana dengan Allah? Dia tidak memerlukan sebab, karena Dia sendiri adalah sebabnya sebab atau sebab dari segala sebab atau wujud-wajib. Apakah hal ini tidak bertentangan dengan hukum realita sebab-akibat sebagaimana uraian di atas? Tidak! Bahkan hukum realita sebab-akibat tersebut akan mendukung pembuktian keberadaan Allah. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Alam sekitar kita ini adalah wujud, saya percaya bahwa diantara kita tidak ada yang menolak kewujudan/keberadaan alam semesta ini dan semua itu bukan hanya sekedar imajinasi kita saja (Kecuali mungkin kaum sophist yang menganggap bahwa semua itu tidak eksis dan hanya sekedar imajinasi. Kalau memang benar anggapan kaum sophist itu, coba mereka kita dekatkan pada seekor harimau dan kita bilang agar mereka tidak perlu takut diterkam, toh harimau itu menurut mereka hanya imajinasi saja. Atau kita katakan kepada mereka bahwa kalau mereka mengingkari hakikat eksistensi, maka mereka harus mengingkari pula keberadaan pikiran mereka yang mengatakan bahwa semua eksistensi itu sebenarnya tidak ada). Kalau kita runut sebab-akibat wujud alam semesta ini maka kita akan sampai pada wujud sebab yang tidak bersebab. Karena kalau mata rantai sebab-akibat itu tidak terbatas sehingga tidak memerlukan wujud-wajib, maka keberadaan alam semesta ini tidak akan wujud. Karena meminta wujud kepada sesuatu yang tidak memiliki wujud. Sebab, wujud-mungkin tidak akan wujud sebelum mempunyai sebab yang wujud. Jadi, hal yang demikian (mata rantai sebab-akibat yang tidak terbatas) mustahil terjadi karena kita dan alam sekitar kita jelas keberadaannya/kewujudannya. Bagaimana kalau seandainya mata rantai sebab-akibat itu terbatas tetapi yang menjadi sebab terakhir adalah sebab yang didepannya (melingkar) sehingga mata rantai sebab-akibat tidak memerlukan wujud-wajib atau sebabnya sebab? Misalkan sebab yang terakhir itu kita sebut Z dan sebab sebelumnya dengan Y, maka pertanyaan di atas menjadi : Y berasal dari Z, dan Z berasal dari Y. Atau, Z sebab dari Y, dan Y sebab dari Z. Tentunya hal ini mustahil terjadi, karena ketika Z menjadi sebab dari Y maka berarti Z sudah wujud lebih dahulu. Sementara ketika Z menjadi akibat dari Y maka Z akan ada setelah Y yang diakibatkan oleh Z. Berarti Z wujud/ada sebelum wujud/ada. Berarti kita telah mendahulukan sesuatu atas dirinya sendiri. Jelas hal ini mustahil terjadi. Jadi kesimpulannya, mata rantai sebab-akibat harus/mesti bersumber/berasal/berawal pada Wujud-wajib (Wajibul wujud) atau sebabnya sebab yakni Allah Azza wa Jalla. Demikian penjelasan dari saya dan maaf bila agak panjang dan mungkin terasa bertele-tele. Hal itu semata karena keterbatasan saya dalam menyusun kata-kata. Namun begitu, saya berharap jawaban di atas mudah-mudahan cukup jelas. Alhamdulillah Robbul'alamin Wassalamu'alaikum Wr.Wb. Syarief. --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
