menurut saya artikel ini bagus juga
---
erdd4n13k


On Mon, 26 Apr 1999 11:47:47   RUMADI HARTAWAN wrote:
>>>> Adil <<<
>
>oleh: KH Jalaluddin Rakhmat
>dikutip dari buku:
>"Reformasi Sufistik", hal 187-190
>
>
>Satu rombongan tawanan perang dan kabilah Thayyi' dikumpulkan di depan pintu
>masjid. Di antara mereka, ada seorang perempuan yang cantik dan fasih
>bertutur. Ketika Nabi saw. lewat di hadapannya, ia berdiri, "Hai Muhammad,
>mengapa tidak kau lepaskan aku. Jangan kecewakan orang-orang Arab. Aku ini
>putri dan pemimpin kabilah yang berakhlak baik. Mendiang ayahku suka
>memerdekakan budak belian, menolong orang yang kekurangan, melindungi orang
>yang ketakutan, memberikan jamuan kepada tamu, mengenyangkan yang kelaparan,
>memberikan pekerjaan, dan membebaskan orang dari kesulitan. Aku putri Hatim
>Thayyi." Nabi saw. bersabda, "Lepaskan dia, karena ayahnya mencintai akhlak
>yang mulia. Tuhan juga mencintai akhlak yang mulia." Abu Burdah berdiri, "Ya
>Rasulullah, apakah Tuhan memang mencintai akhlak yang mulia (siapa saja yang
>melakukannya)?" Nabi berkata, "Hai Abu Burdah, tak akan masuk surga seorang
>pun kecuali dengan akhlak yang baik." 
>
>Yang heran dengan pernyataan Nabi saw. bukan hanya Abu Burdah. Banyak ulama
>yang bingung memahami hadis ini. Yang mereka bingungkan, sebenarnya, adalah
>di mana harus ditempatkan orang seperti Hatim. Soalnya, tak mungkin
>menempatkannya di surga, karena Hatim orang kafir. Ia tak mau beriman kepada
>Rasulullah saw. Tetapi, tak enak juga rasanya menempatkannya di neraka,
>karena ia berakhlak baik. Apalagi, Nabi mencintainya juga. Beliau
>menghormatinya begitu luhur, sehingga beliau membebaskan anaknya hanya
>karena mempertimbangkan akhlaknya.
>
>Kebingungan mereka - juga kita - bermula dari jalan pikiran yang sangat
>naif. Kita membagi dunia dalam dua ba-gian: kita orang Islam dan mereka
>orang kafir. Segala kebaikan ada pada kita dan segala kejahatan ada pada
>mereka. Surga adalah tempat kembali orang baik, dan neraka tentu saja buat
>orang jahat. Karena itu, kita pasti masuk surga, dan mereka pasti masuk
>neraka. Bila kita berakhlak jelek, kita masuk ke neraka. Itu pun sebentar
>saja. Kita hanya transit di sana; setelah itu, kita semua masuk surga.
>Adapun orang kafir, ia terbang langsung ke neraka.
>
>Pandangan sederhana seperti ini dilukiskan oleh Alquran sebagai pandangan
>Yahudi. Hal itu adalah karena mereka mengaku, "Kami tzdak akan disentuh oleh
>api neraka, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung. "Mereka diperdayakan
>dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan (QS 3:24). Ketika
>kita melihat dunia nyata, realitas tak sesederhana itu. Kita melihat, ada
>sebagian orang kafir yang berakhlak baik, sebagaimana kita melihat juga, ada
>sebagian orang Islam berakhlak jelek. Untuk mengatasi kebingungan ini, kita
>menemukan beberapa solusi.
>
>Pertama, kita memakai satu ukuran saja: akidah (atau apa yang kita sebut
>sebagai akidah). Dalam politik, kita memilih penguasa yang Muslim walaupun
>zalim ketimbang penguasa kafir yang adil. Dalam bisnis, kita mengambil mitra
>usaha Muslim, walaupun ia tak jujur, ketimbang orang kafir yang jujur. Dalam
>pekerjaan, kita mengangkat pegawai yang seagama dengan kita, walaupun ia
>bekerja 'asal-asalan' saja; kita tolak pegawai yang bekerja profesional,
>karena ia beragama lain. Terkadang polarisasi ini kita persempit lagi: di
>antara sesama Muslim. Kita mendahulukan orang Islam yang sepaham dengan
>kita, betapa pun jelek akhlaknya. Kita menjauhi orang Islam yang berbeda
>mazhab dengan kita, betapa pun baik akhlaknya.
> 
>Kedua, kita mencari pembenaran untuk kejelekan akhlak kita; sekaligus
>mencari motif tersembunyi (ulterior motive) untuk kebaikan akhlak orang
>lain. Dengan kata lain, kita berprasangka baik bila melihat orang Islam yang
>jahat. Kita mengembangkan prasangka buruk bila menyaksikan orang kafir yang
>beramal baik. Diberitakan, bahwa Si Fulan banyak melakukan korupsi. Kita
>segera membelanya dengan mengatakan, bahwa dia juga banyak berderma. Fulanah
>banyak merampas hak orang lain, tetapi bukankah ia juga banyak berzikir dan
>berulang-ulang naik haji. Insya Allah, ibadahnya akan menghapuskan segala
>kejelekannya.
> 
>Disampaikan kepada kita, kisah seorang tokoh agama lain yang hidup di tengah
>orang-orang yang menderita. Ia menajamkan empatinya dengan belajar hidup
>seperti mereka. Ia mengumpulkan anak-anak terlantar di pinggir jalan. Ia
>memberikan makanan kepada orang yang lapar; perlindungan kepada orang yang
>ketakutan, rumah kepada gelandangan, dan perhatian kepada orang pinggiran.
>Kita segera memberikan reaksi berupa kecurigaan. Mungkin ia mempunyai motif
>tersembunyi. Di balik kebaikannya, ia menyimpan niat jahat. Kebaikannya
>hanyalah jebakan licik untuk menjerat orang yang lengah. Jangan jangan ja
>adalah "aktor intelektual" di belakang semua tindakan kejahatan di dunia
>ini. "Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu berjuang karena Allah dengan
>menjadi saksi-saksi keadilan. Dan janganlah kebencian kamu kepada satu kaum
>menyebabkan kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih
>dekat dengan takwa. Bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah itu
>Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS 5:8).
>
>Berlaku adil artinya tidak menggunakan standar ganda. Katakanlah yang jahat
>itu jahat, walaupun dilakukan oleh kawan-kawan kita. Sebutlah yang baik itu
>baik, sekalipun dipraktikkan oleh musuh-musuh kita. Disampaikan kepada Nabi
>saw., seorang Islam yang menghabiskan malam dalam ibadat dan siang dalam
>puasa. Hanya saja ia suka menyakiti tetangganya. Beliau berkata, "Ia di
>neraka." Ketika beliau mendengar kebaikan Hatim yang kafir dan anaknya,
>beliau berkata, "Lepaskan dia, karena ayahnya mencintai akhlak yang mulia.
>Tuhan juga mencintai akhlak yang mulia." 
>
>Ya Rasulullah, berikan kami setetes keadilanmu, agar kami tak bingung
>menilai orang-orang di sekitar kami.
>
>-----
>Mohon reply sebagai feedback, 
>Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini : ______
>A. bagus sekali
>B. bagus
>C. cukup
>D. kurang bagus
>E. tidak menarik
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>


Free web-based email, anytime, anywhere! 
ZDNet Mail - http://www.zdnetmail.com

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke