Syariefudin Algadrie wrote: > Saya akan bertanya, Al Qur'an dan Hadits yang tidak bisa memecahkan suatu > masalah ataukah 'pemahaman' kita tentang makna yang terkandung dalam Al Qur'an > dan Hadits yang membuat masalah tersebut menjadi tidak terpecahkan? "Pemahaman > tentang Al Qur'an dan Hadits belum tentu sesuai dengan maksud yang sebenarnya > yang terkandung dalam Al Qur'an dan Hadits itu sendiri". Pemahaman manusia adalah > suatu hal, sedang maksud Allah dan RasulNya yang terkandung dalam Al Qur'an dan > Hadits adalah hal lain. Pemahaman manusia sama sekali tidak akan merubah > kandungan makna sebenarnya dari Al Qur'an dan Hadits. Kemudian, agama Islam ini > telah sempurna sehingga dengan demikian tidak perlu lagi ada > tambahan/addendum/penyempurnaan/pelengkap dan lain sebagainya. ---------------------------------- R. Sunarman wrote: >Anda sendiri menyebut bahwa masalahnya adalah pemahaman kita. Bagaimana kita berani menyebut sesuatu itu sempurna dan lengkap kalau masih memungkinkan terjadinya kesalahan dalam pemahaman? >Saya pribadi hanya berani menyebut bahwa Al Qur'an itu lengkap dan sempurna dalam kapasitasnya sebagai "Daftar Isi", "Pengantar", atau "a finger pointing to the moon". Isi buku itu sendiri, atau 'the moon' yang dimaksud, tidak mungkin dituliskan seluruhnya karena tak terhingga banyaknya. Hal ini telah diisyaratkan di dalam Al Qur'an 18:109 "Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)". -------------------------------------- Wargino wrote: Assalamu'alaikum wr wb, Sekedar tambahan, disamping ada istilah " a finger pointing to the moon", ada pula istilah " Peta itu bukan wilayah". Bagaimanapun hafalnya dan penguasaan kita terhadap peta suatu wilayah, kalau tidak berjalan menuju tempat yang tersebut dalam peta itu, maka kita tidak akan sampai. Sedang orang yang berjalan menujunya saja belum tentu sampai. Apalagi tidak berjalan menujunya. Kondisi kita sekarang ini masih sering disibukkan dengan berdebat dalam rangka memahami peta itu. Perdebatan, keraguan, pertanyaan dsb... ini menunjukkan belum mampunya kita membaca makna 'peta' itu. Apalagi mencium harumnya aneka bunga, beningnya tetesan embun dan sejuknya angin gunung...... kalau kita hanya membaca peta? Kalau hal ini terus berlanjut tanpa mencari pembimbing orang yang sudah mempu menjelaskan 'peta' itu, bisa-bisa kita kehabisan waktu untuk mencapai tujuan. Sekedar ilustrasi, Misalnya kita sudah pernah naik ke puncak gunung Bromo di Jawa Timur, kemudian kita baca peta yang tergambar gunung Bromo. Maka tidak sedikitpun keraguan terlintas dalam hati kita. Karena kita sudah pernah merasakan kesejukan udaranya, serta bau belerang yang menyengat hidung di sekitar kawahnya...... Tidak ada lagi pertanyaan, keraguan, kesangsian.......dsb.. Lain halnya kalau kita belum pernah ke sana, walau hanya sedikit mungkin akan terlintas tanda tanya (pertanda keraguan). Cara termudah untuk bisa sampai kesana adalah kemauan, dan bersama-sama dengan seorang guide yang sudah paham untuk ke sana (musyid). Semoga Allah mengampuni kesalahan kita semua dan membimbing ke jalanNya. Astaghfirullahal 'adzim. Kurang lebih mohon maaf, Wassalamu'alaikum wr wb, Wargino --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
